Minggu, 31 Oktober 2021

Kiat Menulis Cerita Fiksi


 

Resume materi     : 11

Tema                    : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Pemateri               : Sudomo, S.Pt.

Moderator            : Dail Ma’ruf

Gelombang           : 22

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

“Membaca cerita fiksi, berselancar dalam suatu kehidupan imajinasi. Menerka alur, sebagai pelipur.”

 

Paling enak pergi rekreasi

Foto-foto, pasang status

Memang asyik dunia fiksi

Belajarnya bersama, kelas menulis

 

          Pantun pembuka untuk pertemuan kelas menulis gelombang 22 pertemuan kesebelas, yang membuat puas. Ya… membuat puas, sebab ternyata nikmat belajar menulis cerita fiksi.

          Narasumber pada pertemuan kali ini, yaitu Sudomo, S.Pt. atau akrab disapa Pak Momo. Beliau mengajar IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB. Selain aktif mengajar, beliau juga mengikuti program pendidikan guru penggerak angkatan 2 Kabupaten Lombok Barat. Beliau aktif dan memiliki banyak prestasi dalam membuat karya fiksi. Hal ini berawal dari ketertarikan beliau terhadap menulis fiksi pada tahun 2009, kemudian bergabung dengan komunitas menulis fiksi dan akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan tulisan fiksi.

          Dari kecil, kita terbiasa membaca atau mendengar sebuah cerita. Senang rasanya ketika di sekolah ada pelajaran yang dikaitkan dengan dongeng. Pada saat itu seolah-olah kita terlibat dalam cerita tersebut. Imajinasi kita mengalir. Mengikuti aktivitas tokoh hingga menerka bagaimana akhir dari cerita tersebut. Seolah-olah yang membuat cerita itu adalah kita. Nah, Pak Momo mengatakan bahwa menulis cerita fiksi haruslah melibatkan pembaca dalam tulisan kita. Teknik ini disebut show don’t tell. Pembaca akan tertarik dengan tulisan fiksi kita, jika ada sensasi yang menimbulkan ketagihan untuk membacanya. Hal ini melibatkan unsur rasa, di mana pembaca seolah-olah ikut merasakan yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Misalnya, ketika menggambarkan tokoh sedang sedih, kita dapat menuliskan penggambaran kesedihannya tanpa harus menuliskan langsung bahwa tokoh sedang sedih, sehingga pembaca pun akan tahu bahwa penggambaran itu membuat tokoh bahkan yang membaca ikut bersedih.

          Belajar menulis cerita fiksi sangatlah penting, sebab akan merangsang imajinasi untuk menciptakan ide-ide baru. Mengapa kita harus belajar menulis cerita fiksi, berikut alasannya:

a.Salah satu aspek yang dinilai dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah literasi teks fiksi. 

          Salah satu komponen dalam AKM atau ANBK adalah literasi, yaitu teks literasi fiksi. Dengan mampu menulis cerita fiksi, seorang guru tentu akan lebih mudah membuat soal latihan AKM untuk muridnya. Mampu membuat sendiri untuk kebutuhan pembelajaran.

b.Sebagai cara menemukan passion dalam bidang kepenulisan.

          Seorang penulis tentu punya gayanya sendiri dalam menulis. Mungkin saja gaya penulisan fiksi bisa jadi identitas bahkan pembeda bagi penulis lainnya.

c.Sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri.

           Menurut KBBI, fiksi adalah cerita rekaan. Ketika menulis cerita rekaan, tidak dipungkiri adanya sentuhan dari kisah-kisah kehidupan nyata yang terjadi di sekitar, sehingga seolah-olah pembaca juga pernah mengalaminya. Menulis cerita fiksi juga dapat menjadi “curhat tersembunyi” penulisnya. Ketika tidak bisa diungkapkan, maka tulisan fiksi bisa jadi tempat bahkan obat yang dapat menyembuhkan dari kegelisahan, menyelesaikan intrik yang terjadi dalam imajinasi ceritanya.

d.Sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan menulis.

            Mengembangkan kemampuan menulis dapat dilakukan dengan belajar menulis fiksi. Misalnya, terkait dengan tema yang dekat dengan penulis yang berprofesi guru, tentu akan lebih mudah mengeksplorasi kemampuan menulisnya, jika membuat cerita fiksi tentang guru dan murid. Dimulai menulis fiksi berdasarkan pengalaman, maka jika dilakukan secara konsisten, kemampuan menulis fiksi akan berkembang dan menemukan kualitasnya.

Apa saja syarat menulis cerita fiksi?

             Jika kita mau, kita pasti bisa. Seperti ungkapan "Man Jadda Wa Jadda" yang memiliki arti, barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti berhasil. Berikut syarat bisa menulis cerita fiksi:

a.Komitmen dan niat yang kuat.

Ada niat, tapi sungkan untuk berkomitmen, maka menulis hanya impian.

b.Kemauan dan kemampuan melakukan riset.

Menurut KBBI, riset adalah penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Dalam menulis cerita fiksi, seorang penulis harus mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan tema/ide baru atau tema yang sedang popular, melakukan kajian-kajian atau referensi dari berbagai media, sehingga hasil tulisannya semakin berkualitas.

c.Banyak membaca cerita fiksi.

Belajarlah dari penulis cerita fiksi, dengan membaca karyanya. Dengan begitu, kita dapat memahami bagaimana menulis cerita fiksi. Mengembangkan konflik-konflik, sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh.

d.Mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Penting bagi penulis menguasai kaidah kebahasaan, sehingga tulisannya dapat tersampaikan dengan baik, teratur, dan sistematis.

e.Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi.

Menulis cerita fiksi harus sesuai dengan unsur pembentuk cerita.

f.Menjaga konsistensi menulis.

Menulis harus dilakukan terus menerus sehingga dapat meningkatkan kualitas dan menciptakan “habit” menulis.

Apa saja bentuk cerita fiksi?

Perkembangan dunia tulis menulis fiksi, menghadirkan beberapa bentuk cerita fiksi, diantaranya sebagai berikut:

Bentuk

Ciri

Fiksimini

Beberapa kata

Flash Fiction

Jumlah kata khusus

Pentigraf

Cerita tiga paragraf

Cerpen

< 7.500 kata

Novelet

7.500 – 17.500 kata

Novela

17.500 -40.000 kata

Novel

>40.000 kata

 

Apa saja unsur-unsur pembangun cerita fiksi?

Untuk membuat cerita yang utuh, maka dalam sebuah cerita harus memperhatikan unsur-unsur berikut:

a.Tema

Tema adalah ide pokok yang menjadi dasar cerita. Apa ide yang ingin dihadirkan dalam tulisan fiksi harus dapat dikembangkan menjadi sebuah cerita. Tips menentukan tema, yaitu dekat dengan penulis, menarik perhatian penulis, bahan mudah diperoleh, dan ruang lingkup terbatas. Sedangkan cara menentukan tema adalah menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca, dan mendengarkan curahan hati. Misalnya saja, seorang guru dapat menuliskan cerita fiksi dengan mengembangkan tema berupa pengalaman siswa belajar di rumah atau perjuangan guru selama pembelajaran jarak jauh, jika dikaitkan dengan pandemi Covid 19 yang melanda dunia pendidikan.

b.Premis

Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsur-unsur premis adalah karakter, tujuan, tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Cara membuat premis, yaitu tulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu kalimat utuh. Contoh premis : Seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan perjalanan ke rumah kakeknya dan berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA. Dengan adanya premis, maka garis besar cerita sudah terbentuk.

c.Alur/Plot

Alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Rangkaian peristiwa tersebut terjalin menurut sebab akibat. Macam-macam alur diantaranya alur maju, alur mundur, alur campuran, alur flashback, dan alur kronologis. Unsur-unsur alur/plot, yaitu:

1.pengenalan cerita

2.awal konflik

3.menuju konflik

4.konflik memuncak/klimaks

5.penyelesaian/ending

Penting adanya pengembangan alur cerita yang baik, sehingga pembaca ikut terlibat dalam konflik yang terjadi hingga sampai ke dalam penyelesaian.

Contoh alur/plot:

Pengenalan cerita

Rama seorang siswa SD berusia 11 tahun sedang belajar. Ia mendapatkan tugas dari gurunya tentang pesawat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Awal konflik

Rama belajar dengan membaca buku paket. Namun, tidak kunjung paham. Ia belum bisa menyelesaikan tugasnya. Ibunya memberikan saran untuk belajar ke rumah kakek.

Menuju konflik

Rama mengajak dua orang temannya. Salah seorang temannya tidak diberikan izin oleh orang tuanya. Rama berusaha meyakinkan akhirnya berhasil mengajak.

Konflik/Klimaks

Rama dan kedua temannya sampai di rumah kakek. Kakek dan nenek meminta mereka menemukan sendiri. Di sana mereka berusaha menemukan pesawat sederhana. Di sana mereka dituduh mencuri oleh anak kampung saat menemukan pesawat sederhana secara tidak sengaja di halaman.

Ending

Setelah kakek dan nenek meminta maaf, mereka bertiga pun dimaafkan. Kakek dan nenek berjanji akan menjelaskan kepada mereka tentang pesawat sederhana. Mereka pun memahami penjelasan sambil menjalankan berbagai macam hukuman. Mereka membersihkan rumah kakek dan nenek menggunakan pesawat sederhana.

 

d.Penokohan

Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dalam menulis cerita fiksi, penggambaran tokoh beserta karakter/wataknya itu penting. Sehingga pembaca paham tentang siapa saja tokoh penting atau tokoh utama maupun tokoh pendukungnya/figuran.

Tokoh berdasarkan jenisnya, yaitu: tokoh utama (tokoh yang sering muncul dalam cerita karena peranannya yang sangat penting) dan tokoh figuran (tokoh pemeran pendamping/pendukung)

Tokoh berdasarkan wataknya, yaitu:

1.Protagonis tokoh yang menampilkan kebaikan,

2.Antagonis tokoh jahat atau tokoh penentang kebaikan,

3.Tritagonis tokoh atau pemeran pendukung yang memiliki karakter penengah dalam cerita, baik untuk tokoh protagonis, maupun antagonis.

Teknik pengembangan tokoh, antara lain:

1.analitik

2.fisik dan perilaku tokoh

3.lingkungan tokoh

4.tata bahasa tokoh

5.penggambaran oleh tokoh lain

Penggambaran tokoh akan menentukan ketertarikan dari pembacanya. Misalnya saja, anak-anak akan tertarik membaca cerita dengan “figur superhero” dengan petualangannya.

e.Latar/Setting

Latar adalah penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Jenis-jenis latar antara lain: latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral. Penting adanya penggambaran latar dalam sebuah cerita, sehingga pembaca masuk dalam kondisi tersebut.

f.Sudut pandang

Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita. Macam-macam sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama tunggal, orang pertama jamak, orang kedua, orang ketiga tunggal, orang ketiga jamak, dan campuran.

Bagaimana kiat menulis cerita fiksi?

Menulis fiksi adalah proses kreatif, yang memerlukan:

a.Niat

Niat untuk menulis akan memotivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan.

b.Baca

Membaca fiksi orang lain adalah upaya menemukan bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan.

c.Ide dan Genre

Ide muncul kapan saja, maka segera catat saat ide mendadak muncul. Menemukan ide dapat pula dengan cara mengembangkan imajinasi. Sedangkan pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai.

d.Outline

Outline adalah kerangka tulisan yang disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi. Kerangka tulisan harus memuat:

1.Tema, agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksinya.

2.Premis, sebagai pengembangan tema.

3.Alur, harus berdasarkan unsur-unsurnya.

4.Penokohan, harus berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik.

5.Latar, harus menunjukkan sisi eksotis dan detail.

6.Sudut pandang, akan menggambarkan penceritaan yang unik.

e.Menulis

Proses menulis harus bisa membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik). Melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik cara memaparkan secara jelas kepada pembaca. Menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh. Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi. Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas. Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi), kemudian membuat ending yang baik.

f.Swasunting

Swasunting adalah proses meneliti kembali atau proses penyuntingan suatu naskah tulisan yang dilakukan oleh penulis untuk menyelesaikan tulisannya dan meminimalkan kesalahan dalam tulisannya. Swasunting dilakukan setelah tulisan selesai, bukan saat menulis. Saat menulis fokus saja pada pengembangan ide, setelah selesai baru dilakukan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita. Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri. Secara objektif memperbaiki kesalahan dalam tulisan. Jangan lupa menyiapkan KBBI dan PUEBI.

g.Publikasi

Setelah proses kreatif dalam menulis cerita fiksi selesai, tulisan kita siap untuk dipublikasikan. Banyak media yang dapat kita gunakan untuk mengenalkan dan mempublikasikan karya tulis kita kepada khalayak. Misalnya saja melalui blog atau mengikuti komunitas menulis agar karya tulis kita dapat diterbitkan menjadi sebuah buku.

           Demikian materi kelas menulis pertemuan ke-11 dengan tema "Kiat Menulis Cerita Fiksi". Mari visualkan imajinasimu dengan menulis!

Selasa, 26 Oktober 2021

Menulis Itu Mudah


 

Luangkanlah waktu, bukan menunggu waktu luang!

Ungkapan manis dari narasumber pada pertemuan ke-10 kelas menulis gelombang 22. Waktu kita yang kelola, tentukan skala prioritas untuk sesuatu yang dikerjakan, sebab ketika tidur saja, tubuh kita tetap bekerja.

 

Mengenal narasumber

Dr. Ngainun Naim, lahir di Tulungagung, 19 Juli 1975. Mengenyam hingga S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2011). Mencetak beberapa karya dalam bentuk buku, seperti:

1. Menulis Itu Mudah (2021)

2. Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).

3. Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).

Banyak lagi judul buku yang sudah beliau karyakan.

 

Budayakan “Menulis Itu Mudah”!

Budaya berhubungan dengan kebiasaan yang dilakukan. Ketika menulis sudah membudaya, sudah menjadi hal yang biasa, maka menulis itu mudah.

Dr.Ngainum Naim membagi kunci suksesnya dalam menulis, seperti berikut:

1.Ciptakan mindset bahwa menulis itu mudah!

Semua berasal dari pikiran. Pikiran yang optimis akan mewujudkan kemudahan dalam menulis. Menulis tidak mesti menghabiskan waktu yang sama setiap harinya. Yang penting tidak putus menulis, sehingga menjadi suatu kebiasaan dan naik kelas menjadi kebutuhan.

2.Ciptakan mindset bahwa menulis merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar!

 Seperti halnya murid tingkat sekolah dasar, yang baru memulai untuk mengeja kata atau merangkai kalimat. Menulislah dari apa yang kita tahu. Menulis tidak selalu membutuhkan pendidikan yang tinggi. Ada hasil karya yang ditulis berdasarkan pengalamannya, tanpa dipengaruhi oleh pendidikannya.

3. Banyak membaca.

Keterampilan produktif dipengaruhi oleh keterampilan pasif, ada bahan ada proses. Begitulah menulis sebagai proses yang memerlukan bahan untuk tulisannya melalui membaca referensi-referensi yang terkait. Membaca merupakan syarat wajib, sebab kecil kemungkinan orang bisa menulis baik, jika tidak memiliki budaya membaca. Budayakan membaca setiap harinya, dengan begitu ide menulis itu mudah ditemukan dan kemudian dikembangkan.

4.Meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang.

Tubuh dan pikiran agar selalu sehat harus terus produktif. Dalam setiap waktu ada hal yang harus dikerjakan, maka ketika kesibukkan itu muncul, kitalah yang harus mengaturnya. Di mana waktu yang tepat untuk menulis. Menulislah di mana pun kita bisa atau melalui media apa saja.

5.Rajin mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan.

Penulis harus mengasah pendengaran dan penglihatan. Amati hal-hal yang berkaitan dengan tema tulisan, kemudian catat dari apa yang ditemukan, kemudian diolah menjadi sebuah tulisan. Teruslah berproses dalam menulis, jika sudah konsisten, maka kualitas akan mengikuti.

6.Belajar menulis kepada penulis.

Pendidikan menulis dapat diperoleh dari seorang penulis, misalnya saja melalui kelas menulis. Ketika masuk kelas menulis dan menemukan visi yang sama bahwa menulis itu mudah. Maka, pengalaman dari para penulis tersebut memperkaya perspektif dan dapat menggairahkan kita dalam menulis berdasarkan pengalaman mereka.

“Apa tipe dan kuadranmu dalam menulis?”

Jangan khawatir ketika tidak merasa berbakat menulis. Jika seseorang ingin bisa menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang besar dan kemauan berlatih. Cobalah identifikasi diri melalui tipe dan kuadran berikut, di manakah posisi kita dalam dunia tulis menulis?

Berikut tipe menulis menurut Dr. Ngainun:

1.Tipe menulis pertama adalah mereka yang terus bertahan, berproses, dan menekuni dunia menulis sejak mulai berkiprah sampai sekarang. Mereka yang memiliki tipe ini secara konsisten melakukan kegiatan menulis dan dapat dikatakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupannya.

2.Tipe menulis kedua adalah penulis musiman. Mereka yang memiliki tipe ini, produktif menulis tidak setiap saat tetapi bergantung kepada momentum. Ketika tidak ada dorongan, maka menjadi penulis yang cenderung pasif.

3.Tipe ketiga adalah penulis yang pernah produktif. Mereka yang memiliki tipe ini, pernah menghasilkan karya yang banyak dikagumi, namun berhenti dari produktivitasnya dalam menulis. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas seorang penulis, misalnya saja kesibukkan kerja.

4.Tipe keempat adalah penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mereka yang memiliki tipe ini, mungkin pernah menulis satu atau dua karya, pernah dikenal sebagai penulis,namun setelah itu tidak ada lagi karya yang diterbitkan.

5.Tipe kelima adalah penulis cita-cita. Mereka yang memiliki tipe ini, memiliki cita-cita sebagai penulis, namun belum punya karya yang diterbitkan. Menulis sebatas cita-cita atau impian yang tidak diwujudkan.

 

Dalam perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis menjadi beberapa kuadran, antara lain:

1.Penulis yang mau dan mampu.

2.Penulis yang tidak mampu tapi mau.

3.Penulis yang yang mampu tapi tidak mau.

4.Penulis yang tidak mampu dan tidak mau.

Ketika kita sudah memahami posisi kita berdasarkan tipe dan kuadran tersebut, maka kita dapat menentukan langkah. Cara apa yang tepat kita lakukan ketika sudah terjun dalam dunia tulis menulis dan bagaimana meningkatkan minat dan kemauan untuk terus berlatih, sehingga di mana pun posisi kita saat ini, lambat laun akan merujuk pada satu posisi, yakni “penulis hebat”.

 

“Jangan merasa gusar!”

Menulis itu mudah dan janganlah gusar tentang hal lain, karena menulis adalah suatu proses yang akan menentukan takdirnya sendiri. Musuh terbesar menulis adalah diri sendiri, maka kendalikan dan bangun rasa percaya diri. Menulis adalah berproses, maka lakukanlah proses itu!

 

“Menulislah setiap hari!”

Makanlah makanan yang bergizi melalui membaca dan menulislah sebagai jalan literasi, yang selalu dibutuhkan dan dibiasakan setiap harinya. Bahkan Dr.Ngainun menyatakan bahwa literasi adalah jalan hidupnya. Setiap hari beliau menulis bermacam genre. Ada artikel jurnal ilmiah, ada artikel blog, ada esai di berbagai portal, ada resensi buku, laporan penelitian, dan banyak jenisnya. Dalam kamar kerjanya tertulis: SUDAHKAH MENULIS HARI INI?

 

“Menulislah seperti makhluk aneh”

Dr. Ngainun mengatakan bahwa dunia menulis sungguh unik dan menarik. Mungkin aneh bagi orang lain. Tapi kata aneh tidak selalu berkonotasi negatif. Bisa juga berkonotasi positif. Aneh karena jarang orang yang melakukan. Namun unik dan menarik sebab menghadirkan selaksa cerita tanpa tepi. Menulis memberikan hal yang baru, yang mungkin saja tidak banyak orang yang tahu, sehingga bisa jadi sebagian orang akan aneh, mengapa kita tahu akan hal itu. Maka, menulislah seperti makhluk aneh, yang dikagumi orang lain!

 

“Terima kasih atas makanan bergizimu, Doktor Ngainum, semoga saya bisa membuat tulisan yang dapat dibaca renyah dan bergizi bagi orang lain.”

Minggu, 24 Oktober 2021

Ide Menulis Bagi Guru


 

Resume materi     : 9

Tema                    : Ide Menulis Bagi Guru

Pemateri               : Wijaya Kusumah, M.Pd.

Moderator            : Rosminiyati       

Gelombang           : 22

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.       

                                               

Berani mentertawakan diri sendiri!



Sebuah quote manis dari narasumber kelas menulis kali ini, bahwa dengan memiliki pendidikan, pengalaman, kemudian relasi atau hubungan dengan orang lain yang baik melalui 5S (senyum, salam, sapa, sopan, dan santun) mengantarkan kepada kunci sukses. Maka, beranilah melakukan sesuatu, dengan begitu kita bisa tertawa bahagia untuk diri kita sendiri!

 

“Berguru dari seorang guru”        

          Luar biasa, yang pantas disanjungkan untuk narasumber pada pertemuan kali ini. Beliaulah seorang guru yang menjadi pelopor guru penggerak, guru blogger, motivator, penulis buku, dan bahkan menjadi founder pelatihan menulis gratis PGRI. Beliaulah Wijaya Kusumah. Lahir di Jakarta, 28 Oktober 1971. Karier bermula sebagai guru bidang studi TIK di SMP Labschool Jakarta, kemudian menjadi guru bagi guru-guru se-Indonesia dalam kelas menulis. Banyak prestasi yang sudah beliau peroleh, baik dalam keprofesian sebagai guru maupun bidang-bidang lainnya. Merangkul guru lain untuk cakap menulis dan membantu guru agar mampu menerbitkan buku. Om Jay, begitu sapaannya, membuka kaca mata baru, bahwa seseorang yang sudah berprofesi sebagai guru dapat mengepakkan sayap untuk melihat lagi dunia yang begitu luasnya.

 

“Ide menulis bagi guru”

          Ide menulis bagi guru sangatlah banyak. Bisa dimulai dari aktivitas mengajar, menulis berdasar pada materi yang diajarkan, atau interaksi dengan murid. Semua itu dapat menjadi karya tulis.

          Menulis bisa berasal dari dalam dirinya atau orang lain. Pun kisah nyata dalam kegiatan sehari-hari bisa diuraikan dalam bahasa tulis. Om Jay memberikan contoh pengalamannya kemudian menjadi tulisan yang dapat dipublikasi dalam berbagai media, seperti di blog pribadi https://wijayalabs.com , kompasiana.com, blogger.com, https://guru penggerakindonesia.com, atau https://terbitkanbukugratis.id.

          Dengan perkembangan yang ada, tidak sulit untuk membantu mengembangkan ide. Cobalah berselancar di google.com atau youtube.com, berdasarkan tema yang kita buat untuk memperkaya tulisan kita.

Bagaimana tahapan menulis? Menulis dibagi ke dalam tahap pembuka, isi, dan penutup. Alinea pertama berisi pembuka atau apa yang akan ditulis. Kemudian alinea berikutnya pengembangan dari apa yang ditulis, diakhiri dengan alinea penutup berisi kesimpulan dari materi yang disampaikan. Tulisan yang akan dibuat juga harus memperhatikan aspek kata tanya, sehingga pembacanya menemukan ide dari tulisan tersebut. Mengetahui apa yang ditulis, siapa saja pelaku yang berkaitan dengan tulisan, di mana tulisan itu berasal, kapan materi tersebut muncul, mengapa materi tersebut menjadi penting, atau bagaimana materi tersebut dapat dimanfaatkan, serta hal-hal lain yang bisa diperoleh oleh pembacanya. Aspek kata tanya tersebut dirumuskan dalam 5W + 1H. Berikut aspek kata tanya:



          Pertanyaan muncul pada sesi tanya jawab bersama Om Jay. Terkadang ketika muncul ide menulis, apa yang mau kita tulis sudah ditulis oleh orang lain, sehingga membuat surut semangat untuk menulis, bagaimana menyikapi hal tersebut? Tentu setiap orang punya gayanya sendiri dalam menulis. Tema boleh sama, namun sudah tentu ketika ditulis oleh orang yang satu akan berbeda dengan orang yang lainnya. Hal ini bisa terjadi karena karakteristik seseorang berdasar pendidikan dan pengalamannya, yang bisa jadi berbeda, sehingga mempengaruhi tulisannya.

“Hasil menulis”

          Menulis dapat memberikan hal positif tidak hanya bagi pembacanya, bahkan keuntungan terlebih bagi penulisnya sendiri. Melalui kegiatan menulis seolah-olah seseorang telah memberi sesuatu kepada orang lain. Padahal, pada saat itu sebenarnya keuntungan yang terbanyak justru akan diperoleh oleh penulisnya sendiri. Dengan menulis maka pengetahuannya menjadi terpelihara dan akan selalu bertambah. Selain itu, juga terbangun silaturahmi yang luas.

          Guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan. Hal ini harus mendorong peran serta dari setiap guru untuk mampu menjadi motivator bagi peserta didiknya. Memotivasi peserta didik untuk mampu mendorongnya mencapai suatu tujuan, yaitu manusia yang beriman, bertaqwa, kreatif, dan mandiri. Guru adalah kita, kita adalah penggerak. Maka gaungkan hal positif kepada peserta didik, salah satunya melalui keterampilan menulis.

          “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”, jargon khas dari Om Jay.  Dari kegiatan menulisnya, menghasilkan berbagai karya, bahkan income , yang menghasilkan pundi-pundi ilmu untuk keberlangsungan peningkatan pengetahuannya.

          Dari pengalaman dan ilmu yang disampaikan Om Jay dalam pertemuan kali ini, mengantarkan saya pada satu kesimpulan bahwa jika kita sudah memiliki passion terhadap suatu hal, maka beranilah untuk terus melakukannya, suatu saat pasti akan berbuah manis. “Berkelakarlah dengan ilmu, untuk duniamu yang bahagia!”

Jumat, 22 Oktober 2021

Menulis Buku dari Karya Ilmiah


 Resume materi     : 4

Tema                    : Menulis Buku dari Karya Ilmiah

Pemateri               : Noralia Purwa Yunita, M.Pd.

Moderator            : Rosminiyati       

Gelombang           : 22

Penulis                 : Eulis Anggunsari

 

Buku hadir dari cipta seseorang, atas izin Allah, sebagai takdir dari sebuah ikhtiar yang panjang. Seperti halnya buku yang berlembar-lembar halaman.

           

          Ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd. menjadi narasumber pada pertemuan kali ini. Selain sebagai pengajar, beliau pun aktif menulis di blog dan tergabung dalam komunitas sejuta guru ngeblog, menerbitkan buku antologi dan buku solo, serta menjadi narasumber di berbagai pelatihan menulis.

Tema yang disuguhkan adalah tentang menulis buku dari karya ilmiah. Wah, menarik ya! Dari karya ilmiah yang dibuat, ternyata dapat disampaikan lagi dalam bentuk buku, sehingga dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain.

          Proses dalam mengkonversi suatu karya ilmiah menjadi buku ternyata tidaklah mudah. Antara laporan karya ilmiah dan buku tidaklah sama. Ada beberapa hal yang harus dihilangkan dan ada pula yang harus ditambahkan.

Bagaimana proses menulis buku dari karya ilmiah?

          Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan menulis buku dari karya ilmiah, yaitu:

1.Ubah Judul

Judul karya ilmiah versi buku hanya berfokus pada objek penelitian saja. Maka, perlu dihilangkan materi, subjek, dan tempat penelitian. Sebagai contoh, dari judul tesis “Pengembangan Modul Berbasis Riset pada Materi Reaksi Redoks untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains Siswa Kelas X SMA” dapat diubah menjadi “Kiat Praktis Menulis Modul Berbasis Riset”. Dapat dilihat dari contoh judul tersebut, objek/fokus penelitian tesis terletak pada pengembangan/pembuatan modul. Jadi, ketika diubah menjadi judul buku, sesuaikan dengan fokus penelitian itu. Kemudian tambahkan kata seperti kiat, jurus, strategi, cara sukses, dan sebagainya, agar menjadi judul yang populer. Judul yang popular akan menarik pembaca untuk membaca buku tersebut. Seperti sebuah ungkapan “cinta pada pandangan pertama”, ketika sudah ada ketertarikan akan judul buku tersebut, maka akan tergoda untuk membacanya.


Contoh buku dari karya ilmiah:



2. Ubah Daftar Isi

Berikut contoh perbedaan daftar isi antara karya ilmiah dan buku, berdasarkan judul tesis di atas:

Karya Ilmiah

Buku

Bab 1 : Pendahuluan (berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat, dan batasan masalah)

Bab 2 : Landasan Teori

Bab 3 : Metode Penelitian (berisi rumus-rumus statistika)

Bab 4 : Hasil dan Pembahasan

Bab 5 : Penutup (berisi kesimpulan dan saran)

Daftar isi mengikuti pedoman 2W +1H

Bab 1 : (Why) menjelaskan pentingnya modul berbasis riset

Bab 2 : (What) menjelaskan apa itu modul berbasis riset

Bab 3,4,5 dan seterusnya : (How) menjelaskan bagaimana tahap pembuatan, bagaimana hasil pembuatan, dan bagaimana penerapannya.

 

Dapat pula mengembangkan materi dari bab 2 di KTI, seperti contoh berikut:

Karya Tulis Ilmiah

Buku

Bab 2 : Landasan Teori

2.1 Hasil belajar

2.2 Media Pembelajaran

2.3 Modul

2.4 Metode Pembelajaran

2.5 Pembelajaran Berbasis Riset

Sub bab 2.1 menjadi Bab 2 : Teori Belajar

2.1 Belajar

2.2 Permasalahan dalam Pembelajaran

2.3 Hasil Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya

 

Sub 2.2 menjadi Bab 3 : Media Pembelajaran

3.1 Pengertian Media

3.2 Jenis Media

3.3 Manfaat Media

 

Sub bab 2.3 menjadi Bab 4 : Mengenal Modul

4.1 Pengertian Modul

4.2 Karakteristik Modul

4.3 Sistematika Modul

4.4 Kelebihan Modul

 

Dengan mengubah dari bab 2 KTI saja, kita sudah dapat menuliskan/mengubahnya menjadi beberapa bab dalam buku. Jadi, perbanyak penjelasan teori dari bab 2 KTI dan hilangkan rumus statistika yang biasanya ada di bab 3 karya tulis ilmiah.

3. Ubah Sedikit Isi Karya Ilmiah

Hilangkan semua kata penelitian, laporan PTK, laporan skripsi/tesis dan lainnya yang biasanya ada di karya ilmiah. Boleh menampilkan grafik tetapi jangan terlalu banyak, cukup yang pentingnya saja. Grafik yang lain dapat ditampilkan dalam bentuk kalimat. Secara kebahasaaan dan penyajian, karya ilmiah versi buku haruslah berbeda dengan versi laporan. Susunan dan gaya tulisan bebas, karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitasnya masing-masing sesuai dengan pengalaman dan bahan bacaannya. Daftar pustaka boleh menggunakan blog namun situs blog resmi seperti Kemendikbud.go.id, jurnal ilmiah, e book, atau karya ilmiah lainnya. Namun, hindari menggunakan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain blogspot, wordpress, dan lain sebagainya. Kemudian, berikan ulasan mengenai kelebihan dan kelemahan penelitian yang dilakukan, agar pembaca yakin bahwa Anda benar-benar telah melakukan penelitian.

4. Perhatikan Ukuran!

Karya ilmiah versi buku minimal 70 halaman dengan format A5. Untuk ukuran huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan dengan aturan penerbit.

Bagaimana seharusnya buku dari karya ilmiah?

Inti dari sebuah buku yang berasal dari karya ilmiah adalah fokus/topik yang akan dibahas secara detail dalam buku tersebut. Apakah pada perancangan, penerapan, aplikasi atau yang lainnya. Jika sudah maka akan lebih mudah mengubah karya ilmiah itu.  

Hal yang tidak boleh diabaikan adalah isi buku jangan sampai sama persis dengan karya ilmiah. Gunakan teknik parafrase, sehingga tidak terjadi self plagiarisme. Kita harus mengubahnya sesuai dengan aturan yang ada, sehingga karya ilmiah versi buku tidak akan sama struktur dan isinya dengan karya ilmiah aslinya.

Apa manfaat buku dari karya ilmiah?

          Dari karya ilmiah yang telah diubah menjadi buku, akan dapat dimanfaatkan oleh pengajar lain misalnya, untuk berbagi ilmu. Terlebih jika memiliki ISBN, ini sangat penting dan mungkin dibutuhkan bagi pengajar untuk menambah angka kredit. Karya kita pun tidak akan lekang oleh waktu tentang kebermanfaatannya.

 

Mari ciptakan bukumu sendiri!  


"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...