Resume materi : 11
Tema : Kiat Menulis Cerita Fiksi
Pemateri : Sudomo, S.Pt.
Moderator : Dail Ma’ruf
Gelombang : 22
Penulis : Eulis Anggunsari, S.Pd.
“Membaca
cerita fiksi, berselancar dalam suatu kehidupan imajinasi. Menerka alur,
sebagai pelipur.”
Paling enak pergi rekreasi
Foto-foto, pasang status
Memang asyik dunia fiksi
Belajarnya bersama, kelas menulis
Pantun pembuka untuk pertemuan kelas
menulis gelombang 22 pertemuan kesebelas, yang membuat puas. Ya… membuat puas,
sebab ternyata nikmat belajar menulis cerita fiksi.
Narasumber pada pertemuan kali ini,
yaitu Sudomo, S.Pt. atau akrab disapa Pak Momo. Beliau mengajar IPA di SMP
Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB. Selain aktif mengajar, beliau juga mengikuti
program pendidikan guru penggerak angkatan 2 Kabupaten Lombok Barat. Beliau
aktif dan memiliki banyak prestasi dalam membuat karya fiksi. Hal ini berawal
dari ketertarikan beliau terhadap menulis fiksi pada tahun 2009, kemudian
bergabung dengan komunitas menulis fiksi dan akhirnya benar-benar jatuh cinta
dengan tulisan fiksi.
Dari kecil, kita terbiasa membaca atau
mendengar sebuah cerita. Senang rasanya ketika di sekolah ada pelajaran yang
dikaitkan dengan dongeng. Pada saat itu seolah-olah kita terlibat dalam cerita
tersebut. Imajinasi kita mengalir. Mengikuti aktivitas tokoh hingga menerka
bagaimana akhir dari cerita tersebut. Seolah-olah yang membuat cerita itu
adalah kita. Nah, Pak Momo mengatakan bahwa menulis cerita fiksi haruslah
melibatkan pembaca dalam tulisan kita. Teknik ini disebut show don’t tell. Pembaca akan tertarik dengan tulisan fiksi kita,
jika ada sensasi yang menimbulkan ketagihan untuk membacanya. Hal ini
melibatkan unsur rasa, di mana pembaca seolah-olah ikut merasakan yang dialami
oleh tokoh dalam cerita. Misalnya, ketika menggambarkan tokoh sedang sedih,
kita dapat menuliskan penggambaran kesedihannya tanpa harus menuliskan langsung
bahwa tokoh sedang sedih, sehingga pembaca pun akan tahu bahwa penggambaran itu
membuat tokoh bahkan yang membaca ikut bersedih.
Belajar menulis cerita fiksi sangatlah
penting, sebab akan merangsang imajinasi untuk menciptakan ide-ide baru. Mengapa
kita harus belajar menulis cerita fiksi, berikut alasannya:
a.Salah
satu aspek yang dinilai dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah literasi
teks fiksi.
Salah satu komponen dalam AKM atau
ANBK adalah literasi, yaitu teks literasi fiksi. Dengan mampu menulis cerita
fiksi, seorang guru tentu akan lebih mudah membuat soal latihan AKM untuk
muridnya. Mampu membuat sendiri untuk kebutuhan pembelajaran.
b.Sebagai
cara menemukan passion dalam bidang
kepenulisan.
Seorang penulis tentu punya gayanya
sendiri dalam menulis. Mungkin saja gaya penulisan fiksi bisa jadi identitas
bahkan pembeda bagi penulis lainnya.
c.Sebagai
upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri.
Menurut KBBI, fiksi adalah cerita
rekaan. Ketika menulis cerita rekaan, tidak dipungkiri adanya sentuhan dari
kisah-kisah kehidupan nyata yang terjadi di sekitar, sehingga seolah-olah
pembaca juga pernah mengalaminya. Menulis cerita fiksi juga dapat menjadi
“curhat tersembunyi” penulisnya. Ketika tidak bisa diungkapkan, maka tulisan
fiksi bisa jadi tempat bahkan obat yang dapat menyembuhkan dari kegelisahan,
menyelesaikan intrik yang terjadi dalam imajinasi ceritanya.
d.Sebagai
jalan mengeksplorasi kemampuan menulis.
Mengembangkan kemampuan menulis
dapat dilakukan dengan belajar menulis fiksi. Misalnya, terkait dengan tema
yang dekat dengan penulis yang berprofesi guru, tentu akan lebih mudah
mengeksplorasi kemampuan menulisnya, jika membuat cerita fiksi tentang guru dan
murid. Dimulai menulis fiksi berdasarkan pengalaman, maka jika dilakukan secara
konsisten, kemampuan menulis fiksi akan berkembang dan menemukan kualitasnya.
Apa saja syarat menulis cerita
fiksi?
Jika kita mau, kita pasti bisa.
Seperti ungkapan "Man Jadda Wa Jadda" yang memiliki arti, barang
siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti berhasil. Berikut syarat bisa menulis
cerita fiksi:
a.Komitmen
dan niat yang kuat.
Ada
niat, tapi sungkan untuk berkomitmen, maka menulis hanya impian.
b.Kemauan
dan kemampuan melakukan riset.
Menurut
KBBI, riset adalah penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem,
kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan
fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Dalam menulis
cerita fiksi, seorang penulis harus mempunyai kemauan dan kemampuan untuk
mengembangkan tema/ide baru atau tema yang sedang popular, melakukan
kajian-kajian atau referensi dari berbagai media, sehingga hasil tulisannya
semakin berkualitas.
c.Banyak
membaca cerita fiksi.
Belajarlah
dari penulis cerita fiksi, dengan membaca karyanya. Dengan begitu, kita dapat
memahami bagaimana menulis cerita fiksi. Mengembangkan konflik-konflik,
sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh.
d.Mempelajari
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
(PUEBI).
Penting
bagi penulis menguasai kaidah kebahasaan, sehingga tulisannya dapat
tersampaikan dengan baik, teratur, dan sistematis.
e.Memahami
dasar-dasar menulis cerita fiksi.
Menulis
cerita fiksi harus sesuai dengan unsur pembentuk cerita.
f.Menjaga
konsistensi menulis.
Menulis
harus dilakukan terus menerus sehingga dapat meningkatkan kualitas dan
menciptakan “habit” menulis.
Apa saja bentuk cerita fiksi?
Perkembangan
dunia tulis menulis fiksi, menghadirkan beberapa bentuk cerita fiksi,
diantaranya sebagai berikut:
|
Bentuk |
Ciri |
|
Fiksimini |
Beberapa kata |
|
Flash Fiction |
Jumlah kata khusus |
|
Pentigraf |
Cerita tiga paragraf |
|
Cerpen |
< 7.500 kata |
|
Novelet |
7.500 – 17.500 kata |
|
Novela |
17.500 -40.000 kata |
|
Novel |
>40.000 kata |
Apa saja unsur-unsur pembangun
cerita fiksi?
Untuk
membuat cerita yang utuh, maka dalam sebuah cerita harus memperhatikan
unsur-unsur berikut:
a.Tema
Tema
adalah ide pokok yang menjadi dasar cerita. Apa ide yang ingin dihadirkan dalam
tulisan fiksi harus dapat dikembangkan menjadi sebuah cerita. Tips menentukan
tema, yaitu dekat dengan penulis, menarik perhatian penulis, bahan mudah
diperoleh, dan ruang lingkup terbatas. Sedangkan cara menentukan tema adalah
menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca,
dan mendengarkan curahan hati. Misalnya saja, seorang guru dapat menuliskan
cerita fiksi dengan mengembangkan tema berupa pengalaman siswa belajar di rumah
atau perjuangan guru selama pembelajaran jarak jauh, jika dikaitkan dengan
pandemi Covid 19 yang melanda dunia pendidikan.
b.Premis
Premis
adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsur-unsur premis adalah karakter,
tujuan, tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Cara membuat premis, yaitu
tulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu kalimat
utuh. Contoh premis : Seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan
perjalanan ke rumah kakeknya dan berusaha memperoleh pemahaman tentang materi
IPA. Dengan adanya premis, maka garis besar cerita sudah terbentuk.
c.Alur/Plot
Alur
adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Rangkaian peristiwa tersebut
terjalin menurut sebab akibat. Macam-macam alur diantaranya alur maju, alur
mundur, alur campuran, alur flashback,
dan alur kronologis. Unsur-unsur alur/plot, yaitu:
1.pengenalan
cerita
2.awal
konflik
3.menuju
konflik
4.konflik
memuncak/klimaks
5.penyelesaian/ending
Penting
adanya pengembangan alur cerita yang baik, sehingga pembaca ikut terlibat dalam
konflik yang terjadi hingga sampai ke dalam penyelesaian.
Contoh
alur/plot:
|
Pengenalan cerita |
Rama seorang siswa SD berusia 11 tahun
sedang belajar. Ia mendapatkan tugas dari gurunya tentang pesawat sederhana
dalam kehidupan sehari-hari. |
|
Awal konflik |
Rama belajar dengan membaca buku
paket. Namun, tidak kunjung paham. Ia belum bisa menyelesaikan tugasnya.
Ibunya memberikan saran untuk belajar ke rumah kakek. |
|
Menuju konflik |
Rama mengajak dua orang temannya.
Salah seorang temannya tidak diberikan izin oleh orang tuanya. Rama berusaha
meyakinkan akhirnya berhasil mengajak. |
|
Konflik/Klimaks |
Rama dan kedua temannya sampai di
rumah kakek. Kakek dan nenek meminta mereka menemukan sendiri. Di sana mereka
berusaha menemukan pesawat sederhana. Di sana mereka dituduh mencuri oleh
anak kampung saat menemukan pesawat sederhana secara tidak sengaja di
halaman. |
|
Ending |
Setelah kakek dan nenek meminta maaf,
mereka bertiga pun dimaafkan. Kakek dan nenek berjanji akan menjelaskan
kepada mereka tentang pesawat sederhana. Mereka pun memahami penjelasan
sambil menjalankan berbagai macam hukuman. Mereka membersihkan rumah kakek
dan nenek menggunakan pesawat sederhana. |
d.Penokohan
Penokohan
adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam
sebuah cerita. Dalam menulis cerita fiksi, penggambaran tokoh beserta
karakter/wataknya itu penting. Sehingga pembaca paham tentang siapa saja tokoh
penting atau tokoh utama maupun tokoh pendukungnya/figuran.
Tokoh
berdasarkan jenisnya, yaitu: tokoh utama (tokoh yang sering muncul dalam cerita
karena peranannya yang sangat penting) dan tokoh figuran (tokoh pemeran
pendamping/pendukung)
Tokoh
berdasarkan wataknya, yaitu:
1.Protagonis
tokoh yang menampilkan kebaikan,
2.Antagonis
tokoh jahat atau tokoh penentang kebaikan,
3.Tritagonis
tokoh atau pemeran pendukung yang memiliki karakter penengah dalam cerita, baik
untuk tokoh protagonis, maupun antagonis.
Teknik
pengembangan tokoh, antara lain:
1.analitik
2.fisik
dan perilaku tokoh
3.lingkungan
tokoh
4.tata
bahasa tokoh
5.penggambaran
oleh tokoh lain
Penggambaran
tokoh akan menentukan ketertarikan dari pembacanya. Misalnya saja, anak-anak
akan tertarik membaca cerita dengan “figur superhero” dengan petualangannya.
e.Latar/Setting
Latar
adalah penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa
dalam cerita. Jenis-jenis latar antara lain: latar waktu, latar tempat, latar
suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral. Penting adanya
penggambaran latar dalam sebuah cerita, sehingga pembaca masuk dalam kondisi
tersebut.
f.Sudut
pandang
Sudut
pandang adalah cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan
dalam pandangan tokoh cerita. Macam-macam sudut pandang, yaitu sudut pandang
orang pertama tunggal, orang pertama jamak, orang kedua, orang ketiga tunggal,
orang ketiga jamak, dan campuran.
Bagaimana kiat menulis cerita
fiksi?
Menulis
fiksi adalah proses kreatif, yang memerlukan:
a.Niat
Niat
untuk menulis akan memotivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan.
b.Baca
Membaca
fiksi orang lain adalah upaya menemukan bahan belajar/referensi berupa ide,
pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan.
c.Ide
dan Genre
Ide
muncul kapan saja, maka segera catat saat ide mendadak muncul. Menemukan ide
dapat pula dengan cara mengembangkan imajinasi. Sedangkan pemilihan genre
disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai.
d.Outline
Outline
adalah kerangka tulisan yang disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita
fiksi. Kerangka tulisan harus memuat:
1.Tema,
agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksinya.
2.Premis,
sebagai pengembangan tema.
3.Alur,
harus berdasarkan unsur-unsurnya.
4.Penokohan,
harus berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik.
5.Latar,
harus menunjukkan sisi eksotis dan detail.
6.Sudut
pandang, akan menggambarkan penceritaan yang unik.
e.Menulis
Proses
menulis harus bisa membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik,
konflik). Melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik cara memaparkan
secara jelas kepada pembaca. Menguatkan sisi konflik internal dan eksternal
tokoh. Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat
imajinasi. Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas. Memperkuat tulisan
dengan pemilihan kata (diksi), kemudian membuat ending yang baik.
f.Swasunting
Swasunting
adalah proses meneliti kembali atau proses penyuntingan suatu naskah tulisan
yang dilakukan oleh penulis untuk menyelesaikan tulisannya dan meminimalkan
kesalahan dalam tulisannya. Swasunting dilakukan setelah tulisan selesai, bukan
saat menulis. Saat menulis fokus saja pada pengembangan ide, setelah selesai
baru dilakukan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan
istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita. Usahakan menempatkan diri
pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri. Secara
objektif memperbaiki kesalahan dalam tulisan. Jangan lupa menyiapkan KBBI dan
PUEBI.
g.Publikasi
Setelah
proses kreatif dalam menulis cerita fiksi selesai, tulisan kita siap untuk
dipublikasikan. Banyak media yang dapat kita gunakan untuk mengenalkan dan
mempublikasikan karya tulis kita kepada khalayak. Misalnya saja melalui blog
atau mengikuti komunitas menulis agar karya tulis kita dapat diterbitkan
menjadi sebuah buku.
Demikian materi kelas menulis pertemuan
ke-11 dengan tema "Kiat Menulis Cerita Fiksi". Mari visualkan imajinasimu dengan
menulis!