Sabtu, 27 November 2021

Menulis Autobiografi

 

Resume materi     : 20

Tema                    : Menulis Autobiografi

Pemateri               : Suparno, S.Pd., M.Pd.

Moderator            : Raliyanti  

Gelombang           : 22          

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

Bagaimana Aku menulis?

Pertemuan hari Rabu, 17 November 2021, menjadi “pembelajar dalam menulis” bersama peserta lainnya, aku mulai menyimak materi dan mempersiapkan bagaimana menulis resume di pertemuan ke-20. Dua puluh waktu telah membersamai dalam perjalanan menulis ini, ilmu yang narasumber berikan, semoga menjadi amal kebaikan, penolong dalam perhitunganNya. Aamiin….

Ini perjalananku menulis kali ini bertema “Menulis Autobiografi”. Bersama narasumber yaitu Bapak Suparno, S.Pd., M.Pd., dan moderator Bu Raliyanti. Sapa moderator membuka kegiatan dan menyemangati para peserta bahwa pertemuan ke-20 ini menjadi 1 (satu) syarat kelulusan pelatihan menulis. Menuju langkah berikutnya menuju pemenuhan 1 (satu) syarat lagi, yaitu menerbitkan sebuah buku solo berISBN. Bersiap mengolah resume menjadi “bukumu sendiri”.

Bagaimana sosok narasumber kali ini, mari berselancar melalui profil beliau:

Nama                             : Suparno, S.Pd., M.Pd.

Tempat/Tanggal Lahir   : Magetan, 25 Juli 1966

Pendidikan                     : Lulusan D3 86  IKIP Surabaya,  S1 Wima Madiun,  S2    

                                        Unipa Surabaya

Hobi                               : Memiliki  kesukaan  membaca sejak SD, buku pertama 

                                        yang selesai dibaca adalah Thomas Alva Edison  penemu

                                        bola lampu pijar.

Karir                              : Mengawali karir sebagai Konselor di SMP 2 Kawedanan

                                           pada tahun 1992. Kemudian tahun 2016  diangkĂ t

                                           sebagai kepala sekolah  di SMPN 3 Kawedanan.  Tahun

                                           2019 mutasi di SMPN 1 Takeran dan mulai Maret 2021

                                           mutasi di SMPN  2 Karangrejo Magetan. 

Pak Suparno mulai menyukai kegiatan menulis sejak 1986. Buku-buku yang sudah dipersembahkan diantaranya:

1.     Panduan belajar  Excel

2.     Perjuangan hidupku

3.     Langkah Jitu  Menulis Buku

Karya lainnya, beliau tulis melalui blog di bawah ini:

http://suparnomuhammad.blogspot.com/2021/06/cv-suparno.html?m=1

Berselancar di profil Pak Suparno, begitu banyak perjalanan menulis beliau, yang menjadi motivatorku untuk menulis, khususnya menulis bersama PGRI asuhan Om Jay ini, beberapa langkah lagi menuju tujuan “menerbitkan buku”.

Kegiatan menulis banyak jenisnya, diantaranya adalah menulis autobiografi. Pak Suparno berbagi kepada peserta untuk memahami bagaimana menulis autobiografi.

Dimulai dari apa itu autobiografi?

Autobiografi atau otobiografi adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh dirinya sendiri. Dalam bahasa Inggris, istilah autobiography pertama kali digunakan oleh penyair Robert Southey pada tahun 1809. Namun, bentuk otobiografi sendiri sudah ada sejak zaman kuno.

Kalau riwayat hidup itu ditulis oleh orang lain namanya biografi. Dari biografi/ cerita orang-orang hebat itu dapatlah menginspirasi para pembaca.  KH. Usairon  mengatakan  bahwa cerita orang-orang  sholih  itu  meningkatkan  iman. Sungguh disayangkan  rasanya, ketika kesuksesan  yang diraih seseorang, apabila  tidak  ditulis  dalam  biografi. Biografi seseorang tokoh dapat menginspirasi  orang lain, menginspirasi keluarga, dan keturunan kita selanjutnya. Sebab yang tertulis akan menjadi jejak peradaban yang tetap terjaga.

Kita tidak tahu berapa  umur seseorang,  kita tidak tahu  kapan ajal  datang, maka menulis buku biografi memiliki manfaat agar anak cucu kita  tahu  sejarah perjalanan  kehidupan kita. Dari sejarah  perjalanan  kehidupan kita,  anak cucu kita bisa belajar  betapa  untuk  mencapai  kesuksesan  itu  butuh  perjuangan  yang luar biasa. Suatu  saat  pasti  ada diantara  anak cucu kita  yang cinta pada ilmu  pengetahuan dan ingin tahu  sejarah  perjalanan  kehidupan  nenek moyangnya. Di saat itu  buku biografi  sangatlah berharga.

Bagaimana menyusun buku biografi?

Sebelum membuat biografi, kita dapat membaca biografi orang-orang terkenal. Belajar bagaimana contoh biografi yang sudah ada, menjadi referensi yang dapat kita kembangkan untuk membuat biografi dari perjalanan hidup kita.

Berikut langkah-langkah menyusun biografi:

1.     Membuat Outline

Membuat outline/kerangka  tulisan dapat dimulai dari masa kelahiran, masa-masa sekolah di TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah, kemudian saat bekerja, menikah, dan punya anak. Pengalaman perjalanan saat pergi  jauh, ke luar kota, luar negeri, dll. atau menuliskan masalah-masalah yang pernah dihadapi,  kenangan pahit, kenangan indah dan sebagainya, pun bisa jadi bahan biografi yang menarik terlebih jika pengalaman tersebut bisa jadi motivasi bagi pembacanya.

2.     Menyiapkan data-data pendukung

Data-data yang dapat mendukung biografi, seperti foto, buku catatan, atau dokumentasi lainnya yang berhubungan dengan perjalanan hidup kita.

3.     Mengembangkan tulisan peroutline atau persubjudul.

Tulislah mengalir dan apa adanya, sampai tulisan selesai. Setelahnya baru lakukan editing. Menulis dengan pikiran, perasaan, dan akal budi dari hasil renungan yang mendalam, maka pikiran akan terbimbing oleh ilham  yang mengarahkan.Ketika sedang menulis, terkadang muncul ilham atau ingatan tentang sesuatu  yang pantas ditulis. Tuliskan saja judulnya, dibuku yang berbeda. Kemudian segera  kembali  fokus ke outline. Setelah semua subjudul sudah terbahas kemudian  sisipkan judul yang terjeda tadi sesuai dengan urutan sejarah perjalanan kehidupan  kita.

4.     Buku biografi yang sudah siap

Agar tampilan buku tampak menarik dan menginspirasi, jika dalam suatu subjudul  ada frase atau kata-kata mutiara yang menginspirasi bisa dituliskan  di paling atas sebelum uraian tulisan. Lakukan editing mulai awal hingga  akhir, jika perlu ada yang ditambah atau dikurangi. Setelah buku autibiografi selesai dan kita sudah melakukan editing secara pribadi, perlu juga masukan dari orang lain yang dapat kita percaya untuk menjadi editor. Meminimalisasi kesalahan penulisan, baik dari ejaan maupun tata bahasa, atau bisa jadi masukan bagi substansi tulisan yang sekiranya tidak perlu, harus dikembangkan, atau tidak sesuai. Kemudian buatlah cover buku yang baik,  mintakan kata pengantar kepada tokoh-tokoh terkenal, semoga membawa  keberkahan. Langkah terakhir adalah buku biografi yang sudah siap, kita kirimkan pada penerbit yang kita percaya.

Itulah langkah-langkah dalam membuat buku biografi. Menulis dari hal sederhana,  misalnya tentang kerja keras, atau tentang bagaimana mencapai kesuksesan dalam belajar maupun bekerja, akan ada sari hikmah yang bisa dipetik.

Tulisan yang baik, akan membuat atau mengajak orang lain juga untuk berbuat baik.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Semoga kita termasuk kepada orang-orang yang berjalan dalam kebaikan untuk mendapat keridhoan dariNya.

Mari tuliskan perjalananmu dalam jejak kebaikan!  

Minggu, 21 November 2021

Menulis Dikala Sakit

 

Resume materi     : 19

Tema                    : Menulis Dikala Sakit

Pemateri               : Suharto, S.Ag., M.Pd.

Moderator            : Hasima Abdi Putri      

Gelombang           : 22   

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

Bagaimana Aku menulis?

Ini catatan perjalananku ke-19 dalam pelatihan belajar menulis bersama PGRI. Tema pertemuan kali ini adalah “Menulis Dikala Sakit”, terbesit pertanyaan bagaimana dapat menulis saat sedang sakit. Saat badan sedang bersahabatpun, bukan perkara mudah untuk menulis. Menulis merupakan keterampilan berpikir produktif, yang butuh kematangan ide, karena itu akan sulit ketika tidak dapat mengolahnya.

Bismillah, Senin, 15 November 2021, kumulai menyimak materi pelatihan belajar menulis kali ini. Bu Hasima sebagai moderator menyapa para peserta untuk bersiap mengikuti. Kumulai bertanya, siapa narasumber pada pertemuan kali ini. Mengapa mengangkat tema ini? Sampailah Bu Hasima memperkenalkan narasumber. 

Narasumber yang membersamai Kami pada pertemuan ini adalah Bapak Suharto, S. Ag., M. Pd., beliau akrab disapa Cing Ato. Cing Ato berprofesi sebagai guru di MTsN 5 Jakarta. Pria asal Jakarta ini aktif dalam kegiatan menulis dan memiliki beberapa judul buku yang sudah dipublikasikan.

Cing Ato memberikan materi berdasarkan pengalaman beliau dalam menulis. Diceritakan bahwa di awal menulis, ternyata tidaklah mudah. Walau sudah membeli buku tentang tulis-menulis, mengikuti acara jurnalis, tapi katanya hasilnya masih kaku dan kering. Sulit merangkai kata menjadi kalimat, apalagi kalimat yang indah bertabur diksi yang penuh hikmat. Tapi Cing Ato tidak putus asa. Program literasi sekolah yang menggiatkan membaca dan menulis, menjadi salah satu penyemangat Cing Ato. Di samping membaca, beberapa peserta didik dilibatkan dalam tulis-menulis. Sehingga jadilah buku antologi sebagai wujud literasi menulis. Hal inilah yang mendorong ketertarikan untuk menulis.

Cing Ato mencari wadah pelatihan menulis. Sampailah pencariannya pada pelatihan menulis KSGN di wisma UNJ. Melalui pelatihan menulis ini, ia bertemu dengan penggiat literasi, seperti Pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya. Bergeraklah dengan aktivitas menulis yang kini mengantarkan Cing Ato sebagai narasumber. Dari awal merasa tidak bisa, kini malah menjadi menjadi motivator bagi para penulis.

Kalimat inspiratif yang menjadi kartu nama Om Jay, yang memengaruhi setiap peserta pelatihan belajar menulis ini, tidak terkecuali Cing Ato adalah"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Memotivasi untuk selalu menulis. Tulislah apa yang ada di sekitar, yang dialami atau rasakan, yang bisa dan dikuasai, dengan begitu menulis akan menemukan jalannya.

Cing Ato membuat kalimat turunannya, yaitu "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi". Lihatlah Cing Ato membuat buku antologi pertama berjudul "Bukan Guru Biasa", pada tahun 2016. Kemudian berguru lagi dengan group Media Guru, dari sana menerbitkan buku perdana solo berjudul "Mengejar Azan". Buku ini menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu. Dasar ilmunya dari Om Jay lalu dipoles oleh Media Guru. Kebanggaan yang tak terhingga, ketika sudah dapat menerbitkan buku.

Bagaimana perjalanan menulis Cing Ato selanjutnya?

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sesungguhnya takdir adalah ketetapanNya, yang tinggal menunggu untuk diceritakan.

Perjalanan menulis Cing Ato terhalang oleh waktu yang menempatkan beliau dalam posisi tak berdaya. Saat itu, 1,5 bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di ruang inap biasa. Pulang dalam kondisi lumpuh. Selama 1,5 tahun beliau divonis suatu penyakit, yang mengharuskan beliau menjalankan pengobatan dan menghalanginnya dalam aktivitas dunia luar. Penyakit GBS (kelumpuhan syaraf), yang membuat seluruh syarafnya tidak berfungsi.

Lambat laun, akhirnya jari jemarinya mulai bisa digerakkan. Dengan aplikasi HP, Cing Ato mulai menulis. Inilah awal menulis dikala sakit.

Beliau menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah. Bagus jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka digunakan untuk mengetik. Beliau menulis di mana saja, saat berbaring di kasur, kursi roda, atau sedang terapi di rumah sakit.

Cing Ato mulai menulis tentang apa yang dialami di media sosial, seperti facebook. Ketika dipublikasikan lewat media sosial tersebut, banyak simpati dan empati yang berdatangan. Lalu terpikirlah untuk menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Akhirnya beliau menulis apa yang pernah dibaca, dilihat, dan didengar. Cing Ato hampir setiap hari menulis artikel sederhana tentang motivasi hidup. Di samping juga menulis tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Sakit tak menghalangi beliau, justru secara tanpa sadar, menulis menjadi terapi luar biasa, tetiba secara perlahan tapi pasti, ada progres yang menggembirakan, tubuhnya mulai bergerak satu persatu. Allahu Akbar.....

Cing Ato memotivasi banyak orang melalui tulisannya, bahwa menulis dapat dilakukan kapan dan dalam situasi apapun selagi kita bisa, tak terkecuali saat kita sakit. Menulis dalam keterbatasannya, justru melahirkan karya yang dapat bermanfaat untuk orang lain.

Berikut karya menulis Cing Ato saat beliau sakit:

1. GBS Menyerangku (2020)

2. Menuju Pribadi Unggul (2020)

3. Belajar Tak Bertepi (2021)

4. Kisah inspiratif Seni Mendidik Diri (2021)

5.Aisyeh Menunggu Cinte (2021)

6. Menepis Kesulitan Belajar (2021)

Menulis dikala sakit, menjadi bagian dari perjalanan menulis Cing Ato. Cing Ato dapat membuktikan bahwa dengan menulis setiap hari, ia dapat memperlihatkan suatu tulisan inspiratif bagi pembacanya. Kini membawanya pada pencapaian yang luar biasa, menjadi narasumber pelatihan belajar menulis, dan tentu saja terus aktif dalam membuat karya tulis.

"Manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, manfaatkan masa hidupmu sebelum ajal menjemputmu". Muhammad Agus Syafii

Tuhan Yang Maha Esa memberikan akal sehat yang dapat membantu tetap produktif walau diuji sakit. Hal ini yang dapat saya simpulkan dari pengalaman Cing Ato. Maka, hendaklah setiap hal yang kita lakukan, lakukanlah yang terbaik. Sebab kita sendiri yang akan menentukan arah tujuan dalam melewati “perjalanan ribuan kilometer: bermanfaat untuk diri sendiri atau berbagi dengan yang lain”.  

Bagaimana Aku menulis?

Dengan bangga Aku menjawab: Aku menulis bersama peserta pelatihan belajar menulis PGRI dan narasumber yang istimewa.


Senin, 15 November 2021

Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie

 


Resume materi     : 18

Tema                    : Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie

Pemateri               : Raimundus Brian P., S.Pd.

Moderator            : Rosminiyati       

Gelombang           : 22   

Penulis                  : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

 

                     

Inilah perjalananku menulis hari ini!

 

Menulis hari ini, kucoba memulainya dengan tersenyum. Dengan hati yang bahagia akan menunjukkan arah untuk melanjutkan perjalanan menulisku.

 

Bismillah, Jumat 12 November 2021, pelatihan belajar menulis PGRI gelombang 22, sudah memasuki pertemuan ke-18. Semakin dekat untuk membungkus resume yang sudah dibuat menjadi buku solo sebagai syarat kelulusan dan mendapatkan sertifikat bernilai 40 jam.

Bapak Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd. membersamai para peserta pelatihan sebagai narasumber dan Bu Rosminiyati sebagai moderator. Tema pertemuan kali ini adalah “Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie”.

Mari berkenalan dulu dengan narasumber!

Bapak Raimundus Brian P., S.Pd. atau akrab disapa Pak Brian, sosok muda yang lahir di Jakarta, 30 Juni 1992. Beliau tinggal di Bekasi, dan berprofesi sebagai guru SDN Sumur Batu 01 Pagi, Jakarta sejak tahun 2015-sekarang. Beliau adalah alumnus belajar menulis PGRI gelombang 4 yang mengabdikan diri pada kegiatan belajar ini dengan membantu Om Jay mengurus kegiatan pelatihan agar peserta, khususnya guru, dapat merasakan kesuksesan seperti beliau.

Untuk lebih mengenal narasumber, mari berselancar lewat link profil berikut:

https://www.praszetyawan.com/p/profil.html

Pak Brian akan membantu para peserta untuk mewujudkan penerbitan buku solo dari hasil resume dalam kegiatan pelatihan belajar menulis ini. Perjalanan panjang mengikuti kegiatan pelatihan belajar menulis ini, akan berbuah manis pada waktunya. Banyak lulusan pelatihan ini yang tidak cukup menulis 1 buku. Punya karya buku belasan bahkan puluhan, baik solo maupun antologi. Dengan mengikuti pelatihan ini, para peserta sudah memiliki dasar ilmu, sehingga dapat dikembangkan untuk menyusun buku lebih banyak lagi.

Pelatihan belajar menulis asuhan Om Jay bersama para pakar lainnya merupakan wadah bagi guru penulis se-Indonesia berbasis teks lewat WA yang saling terhubung dan mendukung. Melalui pelatihan ini akan mewujudkan keinginan para guru untuk dapat menerbitkan buku. Sudah siapkah kita menulis buku? Mari siapkan naskah karena menerbitkan buku semakin mudah melalui penerbit indie.

Sebagai salah satu syarat lulus pelatihan ini adalah menerbitkan buku solo. Bagaimana dapat menerbitkan buku dengan mudah di penerbit indie? Tentu kita harus ketahui ketentuan dan cara menerbitkan buku di penerbit indie.

Semudah apakah menerbitkan buku di penerbit indie?

Penerbit indie melayani penerbitan buku tanpa seleksi. Hal ini menjadi kunci mudahnya menerbitkan buku. Dahulu ketika penerbit indie belum eksis seperti sekarang, kita hanya tahu bahwa penerbit buku yang ada itu hanya penerbit mayor seperti Gramedia, Erlangga, Grasindo, Elex media, Andi, dll.

Tahap seleksi naskah menjadi tantangan untuk bisa menembus penerbit mayor. Penulis harus berjuang hingga bisa diterima oleh suatu penerbit mayor. Jika naskah ditolak, harus coba penerbit lain. Ditolak lagi, coba penerbit lain lagi. Begitu terus sampai menemukan penerbit yang mau menerima naskah kita. Ketika naskah diterima pun proses penerbitannya sangat lama. 1 tahun saja termasuk cepat. Kini ada penerbit indie yang bisa menjawab rintangan-rintangan tersebut.

Bersama penerbit indie, maka:

1. Naskah pasti diterbitkan.

2. Proses penerbitan mudah dan cepat.

Untuk dapat menerbitkan buku di penerbit indie, maka kita perlu mengeluarkan biaya untuk mendapat fasilitas pra cetak penerbitan. Kita membayar juga jika ingin mencetak ulang bukunya. Hal tersebut memang konsekuensi dari penerbitan tanpa seleksi, sehingga biaya penerbitan menjadi tanggung jawab penulis untuk mendapat fasilitas penerbitan yang memuaskan.

Penerbit indie yang dapat membantu dalam menerbitkan buku memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu saja kita harus selektif dalam memilih, dengan harga terjangkau namun memiliki kualitas yang baik. Inilah yang akan disampaikan Pak Brian, melalui misinya, yaitu membantu memberi jalan kepada bapak/ibu guru untuk terhubung ke penerbit indie dengan biaya tidak terlalu mahal, tapi kualitas bagus.

Simak paket penerbitan hemat berikut ini:

https://www.praszetyawan.com/2021/10/murah-banget-menerbitkan-buku-ber-isbn.html

Ketika naskah diberikan kepada penerbit, naskah harus lengkap dengan memuat:

1.     cover (judul buku dan nama penulis)

2.     prakata

3.     daftar isi (tanpa nomor halaman)

4.     profil penulis

5.     synopsis (3 paragraf, masing-masing paragraf terdiri atas 3 kalimat)

Pak Brian akan mengawal dan menjamin naskah terbit menjadi buku dan diterima sampai ke tangan penulis, tentu saja dengan biaya yang murah.

Seiring perkembangan, kini penerbit memiliki fasilitas editing. Pak Brian menjalin kerja sama dengan penerbit di Malang yang punya fasilitas editing, melalui paket penerbitan lengkap.

 

Simak paket penerbitan lengkap berikut ini:

https://www.praszetyawan.com/2021/09/ini-cara-menerbitkan-buku-dengan-mudah.html

Sama seperti paket hemat, untuk paket lengkap, penulis juga harus melengkapi naskah sebelum dikirim kepada penerbit. Kelengkapan tersebut adalah :

1.halaman depan (judul buku dan nama penulis)

2.prakata

3. daftar isi (tanpa nomor halaman)

4. profil penulis

5. sinopsis

- Kelengkapan naskah dan isi naskah digabung dalam 1 file word. Jadi, jangan dipisah-pisah menjadi beberapa file.

- File naskah dikirim dalam bentuk Microsoft word.

- Proses penerbitan hanya 15-20 hari. Namun, tetap jangan memberi target kapan harus selesai. Karena naskah harus mengantri untuk diproses.

Pak Brian menjalin kerja sama dengan 2 penerbit, yaitu untuk paket hemat dan paket lengkap. Jika ingin menerbitkan di penerbit rekanan tersebut, maka para penulis dapat mengirim naskah melalui beliau. Mudahkan menerbitkan buku, mari siapkan naskah untuk dibukukan!

Penulis dapat memilih menerbitkan buku melalui 2(dua) pilihan yang diajukan Pak Brian. Pilih saja, mau yang hemat atau yang lengkap! Baik paket hemat maupun paket lengkap, kualitas cetak dan jilid bukunya terjamin dan bagus.

Untuk buku yang diterbitkan di penerbit indie, tentu berbeda dengan buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Pemasaran buku tidak menjadi tanggung jawab penerbit indie, layaknya penerbit mayor yang memasarkan buku ke toko buku ternama. Penulis dapat mempromosikan bukunya melalui media sosial dan komunitasnya. Sedangkan penerbit indie akan mempromosikan buku kita di web, medsos, dan marketplace penerbit.

Berangkat dari tujuan penulis pemula seperti saya, yang melakukan perjalanan menulis ini untuk mencoba mendokumentasikan ide lewat buku. Belajar mengembangkan hal-hal yang ada dalam rasa menjadi bahasa. Mengukur kemampuan dan menginterpretasikan hal baru yang saya temukan dalam kegiatan menulis. Tentu ketika sudah dapat menerbitkan buku, ‘dengan penerbit yang dipilih’, menjadi kebanggaan tersendiri, semoga dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh.”

(HR. Muslim no. 1631).

Melalui pertemuan pelatihan belajar menulis kali ini, terbuka lebar pintu bagi para penulis pemula yang ingin menerbitkan buku, untuk mendokumentasikan jejak ilmunya. Menulis menjadi awal dari bangkitnya ide yang terlelap.

Mari terbitkan bukumu sendiri!

Salam literasi!


"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...