Minggu, 21 November 2021

Menulis Dikala Sakit

 

Resume materi     : 19

Tema                    : Menulis Dikala Sakit

Pemateri               : Suharto, S.Ag., M.Pd.

Moderator            : Hasima Abdi Putri      

Gelombang           : 22   

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

Bagaimana Aku menulis?

Ini catatan perjalananku ke-19 dalam pelatihan belajar menulis bersama PGRI. Tema pertemuan kali ini adalah “Menulis Dikala Sakit”, terbesit pertanyaan bagaimana dapat menulis saat sedang sakit. Saat badan sedang bersahabatpun, bukan perkara mudah untuk menulis. Menulis merupakan keterampilan berpikir produktif, yang butuh kematangan ide, karena itu akan sulit ketika tidak dapat mengolahnya.

Bismillah, Senin, 15 November 2021, kumulai menyimak materi pelatihan belajar menulis kali ini. Bu Hasima sebagai moderator menyapa para peserta untuk bersiap mengikuti. Kumulai bertanya, siapa narasumber pada pertemuan kali ini. Mengapa mengangkat tema ini? Sampailah Bu Hasima memperkenalkan narasumber. 

Narasumber yang membersamai Kami pada pertemuan ini adalah Bapak Suharto, S. Ag., M. Pd., beliau akrab disapa Cing Ato. Cing Ato berprofesi sebagai guru di MTsN 5 Jakarta. Pria asal Jakarta ini aktif dalam kegiatan menulis dan memiliki beberapa judul buku yang sudah dipublikasikan.

Cing Ato memberikan materi berdasarkan pengalaman beliau dalam menulis. Diceritakan bahwa di awal menulis, ternyata tidaklah mudah. Walau sudah membeli buku tentang tulis-menulis, mengikuti acara jurnalis, tapi katanya hasilnya masih kaku dan kering. Sulit merangkai kata menjadi kalimat, apalagi kalimat yang indah bertabur diksi yang penuh hikmat. Tapi Cing Ato tidak putus asa. Program literasi sekolah yang menggiatkan membaca dan menulis, menjadi salah satu penyemangat Cing Ato. Di samping membaca, beberapa peserta didik dilibatkan dalam tulis-menulis. Sehingga jadilah buku antologi sebagai wujud literasi menulis. Hal inilah yang mendorong ketertarikan untuk menulis.

Cing Ato mencari wadah pelatihan menulis. Sampailah pencariannya pada pelatihan menulis KSGN di wisma UNJ. Melalui pelatihan menulis ini, ia bertemu dengan penggiat literasi, seperti Pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya. Bergeraklah dengan aktivitas menulis yang kini mengantarkan Cing Ato sebagai narasumber. Dari awal merasa tidak bisa, kini malah menjadi menjadi motivator bagi para penulis.

Kalimat inspiratif yang menjadi kartu nama Om Jay, yang memengaruhi setiap peserta pelatihan belajar menulis ini, tidak terkecuali Cing Ato adalah"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Memotivasi untuk selalu menulis. Tulislah apa yang ada di sekitar, yang dialami atau rasakan, yang bisa dan dikuasai, dengan begitu menulis akan menemukan jalannya.

Cing Ato membuat kalimat turunannya, yaitu "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi". Lihatlah Cing Ato membuat buku antologi pertama berjudul "Bukan Guru Biasa", pada tahun 2016. Kemudian berguru lagi dengan group Media Guru, dari sana menerbitkan buku perdana solo berjudul "Mengejar Azan". Buku ini menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu. Dasar ilmunya dari Om Jay lalu dipoles oleh Media Guru. Kebanggaan yang tak terhingga, ketika sudah dapat menerbitkan buku.

Bagaimana perjalanan menulis Cing Ato selanjutnya?

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sesungguhnya takdir adalah ketetapanNya, yang tinggal menunggu untuk diceritakan.

Perjalanan menulis Cing Ato terhalang oleh waktu yang menempatkan beliau dalam posisi tak berdaya. Saat itu, 1,5 bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di ruang inap biasa. Pulang dalam kondisi lumpuh. Selama 1,5 tahun beliau divonis suatu penyakit, yang mengharuskan beliau menjalankan pengobatan dan menghalanginnya dalam aktivitas dunia luar. Penyakit GBS (kelumpuhan syaraf), yang membuat seluruh syarafnya tidak berfungsi.

Lambat laun, akhirnya jari jemarinya mulai bisa digerakkan. Dengan aplikasi HP, Cing Ato mulai menulis. Inilah awal menulis dikala sakit.

Beliau menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah. Bagus jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka digunakan untuk mengetik. Beliau menulis di mana saja, saat berbaring di kasur, kursi roda, atau sedang terapi di rumah sakit.

Cing Ato mulai menulis tentang apa yang dialami di media sosial, seperti facebook. Ketika dipublikasikan lewat media sosial tersebut, banyak simpati dan empati yang berdatangan. Lalu terpikirlah untuk menulis sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Akhirnya beliau menulis apa yang pernah dibaca, dilihat, dan didengar. Cing Ato hampir setiap hari menulis artikel sederhana tentang motivasi hidup. Di samping juga menulis tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Sakit tak menghalangi beliau, justru secara tanpa sadar, menulis menjadi terapi luar biasa, tetiba secara perlahan tapi pasti, ada progres yang menggembirakan, tubuhnya mulai bergerak satu persatu. Allahu Akbar.....

Cing Ato memotivasi banyak orang melalui tulisannya, bahwa menulis dapat dilakukan kapan dan dalam situasi apapun selagi kita bisa, tak terkecuali saat kita sakit. Menulis dalam keterbatasannya, justru melahirkan karya yang dapat bermanfaat untuk orang lain.

Berikut karya menulis Cing Ato saat beliau sakit:

1. GBS Menyerangku (2020)

2. Menuju Pribadi Unggul (2020)

3. Belajar Tak Bertepi (2021)

4. Kisah inspiratif Seni Mendidik Diri (2021)

5.Aisyeh Menunggu Cinte (2021)

6. Menepis Kesulitan Belajar (2021)

Menulis dikala sakit, menjadi bagian dari perjalanan menulis Cing Ato. Cing Ato dapat membuktikan bahwa dengan menulis setiap hari, ia dapat memperlihatkan suatu tulisan inspiratif bagi pembacanya. Kini membawanya pada pencapaian yang luar biasa, menjadi narasumber pelatihan belajar menulis, dan tentu saja terus aktif dalam membuat karya tulis.

"Manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu, manfaatkan masa hidupmu sebelum ajal menjemputmu". Muhammad Agus Syafii

Tuhan Yang Maha Esa memberikan akal sehat yang dapat membantu tetap produktif walau diuji sakit. Hal ini yang dapat saya simpulkan dari pengalaman Cing Ato. Maka, hendaklah setiap hal yang kita lakukan, lakukanlah yang terbaik. Sebab kita sendiri yang akan menentukan arah tujuan dalam melewati “perjalanan ribuan kilometer: bermanfaat untuk diri sendiri atau berbagi dengan yang lain”.  

Bagaimana Aku menulis?

Dengan bangga Aku menjawab: Aku menulis bersama peserta pelatihan belajar menulis PGRI dan narasumber yang istimewa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...