Resume
materi : 19
Tema :
Menulis Dikala Sakit
Pemateri : Suharto, S.Ag., M.Pd.
Moderator : Hasima Abdi Putri
Gelombang : 22
Penulis : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Bagaimana
Aku menulis?
Ini
catatan perjalananku ke-19 dalam pelatihan belajar menulis bersama PGRI. Tema
pertemuan kali ini adalah “Menulis Dikala Sakit”, terbesit pertanyaan bagaimana
dapat menulis saat sedang sakit. Saat badan sedang bersahabatpun, bukan perkara
mudah untuk menulis. Menulis merupakan keterampilan berpikir produktif, yang
butuh kematangan ide, karena itu akan sulit ketika tidak dapat mengolahnya.
Bismillah,
Senin, 15 November 2021, kumulai menyimak materi pelatihan belajar menulis kali
ini. Bu Hasima sebagai moderator menyapa para peserta untuk bersiap mengikuti.
Kumulai bertanya, siapa narasumber pada pertemuan kali ini. Mengapa mengangkat
tema ini? Sampailah Bu Hasima memperkenalkan narasumber.
Narasumber
yang membersamai Kami pada pertemuan ini adalah Bapak Suharto, S. Ag., M. Pd.,
beliau akrab disapa Cing Ato. Cing Ato berprofesi sebagai guru di MTsN 5
Jakarta. Pria asal Jakarta ini aktif dalam kegiatan menulis dan memiliki
beberapa judul buku yang sudah dipublikasikan.
Cing
Ato memberikan materi berdasarkan pengalaman beliau dalam menulis. Diceritakan
bahwa di awal menulis, ternyata tidaklah mudah. Walau sudah membeli buku
tentang tulis-menulis, mengikuti acara jurnalis, tapi katanya hasilnya masih
kaku dan kering. Sulit merangkai kata menjadi kalimat, apalagi kalimat yang
indah bertabur diksi yang penuh hikmat. Tapi Cing Ato tidak putus asa. Program
literasi sekolah yang menggiatkan membaca dan menulis, menjadi salah satu
penyemangat Cing Ato. Di samping membaca, beberapa peserta didik dilibatkan
dalam tulis-menulis. Sehingga jadilah buku antologi sebagai wujud literasi
menulis. Hal inilah yang mendorong ketertarikan untuk menulis.
Cing
Ato mencari wadah pelatihan menulis. Sampailah pencariannya pada pelatihan
menulis KSGN di wisma UNJ. Melalui pelatihan menulis ini, ia bertemu dengan
penggiat literasi, seperti Pak Namin, Om Jay, Om Dedi, dan lainnya. Bergeraklah
dengan aktivitas menulis yang kini mengantarkan Cing Ato sebagai narasumber.
Dari awal merasa tidak bisa, kini malah menjadi menjadi motivator bagi para
penulis.
Kalimat
inspiratif yang menjadi kartu nama Om Jay, yang memengaruhi setiap peserta
pelatihan belajar menulis ini, tidak terkecuali Cing Ato adalah"Menulislah
setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Memotivasi untuk selalu
menulis. Tulislah apa yang ada di sekitar, yang dialami atau rasakan, yang bisa
dan dikuasai, dengan begitu menulis akan menemukan jalannya.
Cing
Ato membuat kalimat turunannya, yaitu "Menulislah setiap hari dan lihatlah
apa yang terjadi". Lihatlah Cing Ato membuat buku antologi pertama berjudul
"Bukan Guru Biasa", pada tahun 2016. Kemudian berguru lagi dengan group
Media Guru, dari sana menerbitkan buku perdana solo berjudul "Mengejar
Azan". Buku ini menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu. Dasar
ilmunya dari Om Jay lalu dipoles oleh Media Guru. Kebanggaan yang tak
terhingga, ketika sudah dapat menerbitkan buku.
Bagaimana
perjalanan menulis Cing Ato selanjutnya?
Untung tak dapat diraih, malang tak
dapat ditolak. Sesungguhnya takdir adalah
ketetapanNya, yang tinggal menunggu untuk diceritakan.
Perjalanan
menulis Cing Ato terhalang oleh waktu yang menempatkan beliau dalam posisi tak
berdaya. Saat itu, 1,5 bulan di ruang ICU, 3 bulan di ruang HCU, 2 Minggu di
ruang inap biasa. Pulang dalam kondisi lumpuh. Selama 1,5 tahun beliau divonis
suatu penyakit, yang mengharuskan beliau menjalankan pengobatan dan menghalanginnya
dalam aktivitas dunia luar. Penyakit GBS (kelumpuhan syaraf), yang membuat
seluruh syarafnya tidak berfungsi.
Lambat
laun, akhirnya jari jemarinya mulai bisa digerakkan. Dengan aplikasi HP, Cing
Ato mulai menulis. Inilah awal menulis dikala sakit.
Beliau
menggunakan HP walau tidak bisa menggenggam, cukup beli alat HP lalu
disangkutkan pada jari jempol tangan kiri dan menulis menggunakan jari tengah.
Bagus jari manis dan kelingking tertekuk hingga tidak menghalanginya untuk
menulis. Karena jari tengah yang terpanjang, maka digunakan untuk mengetik. Beliau
menulis di mana saja, saat berbaring di kasur, kursi roda, atau sedang terapi
di rumah sakit.
Cing
Ato mulai menulis tentang apa yang dialami di media sosial, seperti facebook.
Ketika dipublikasikan lewat media sosial tersebut, banyak simpati dan empati
yang berdatangan. Lalu terpikirlah untuk menulis sesuatu yang bermanfaat untuk
orang banyak. Akhirnya beliau menulis apa yang pernah dibaca, dilihat, dan didengar.
Cing Ato hampir setiap hari menulis artikel sederhana tentang motivasi hidup.
Di samping juga menulis tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Sakit
tak menghalangi beliau, justru secara tanpa sadar, menulis menjadi terapi luar
biasa, tetiba secara perlahan tapi pasti, ada progres yang menggembirakan,
tubuhnya mulai bergerak satu persatu. Allahu Akbar.....
Cing
Ato memotivasi banyak orang melalui tulisannya, bahwa menulis dapat dilakukan
kapan dan dalam situasi apapun selagi kita bisa, tak terkecuali saat kita
sakit. Menulis dalam keterbatasannya, justru melahirkan karya yang dapat
bermanfaat untuk orang lain.
Berikut
karya menulis Cing Ato saat beliau sakit:
1.
GBS Menyerangku (2020)
2.
Menuju Pribadi Unggul (2020)
3.
Belajar Tak Bertepi (2021)
4.
Kisah inspiratif Seni Mendidik Diri (2021)
5.Aisyeh
Menunggu Cinte (2021)
6.
Menepis Kesulitan Belajar (2021)
Menulis
dikala sakit, menjadi bagian dari perjalanan menulis Cing Ato. Cing Ato dapat
membuktikan bahwa dengan menulis setiap hari, ia dapat memperlihatkan suatu
tulisan inspiratif bagi pembacanya. Kini membawanya pada pencapaian yang luar
biasa, menjadi narasumber pelatihan belajar menulis, dan tentu saja terus aktif
dalam membuat karya tulis.
"Manfaatkan masa sehatmu
sebelum masa sakitmu, manfaatkan masa hidupmu sebelum ajal menjemputmu". Muhammad
Agus Syafii
Tuhan
Yang Maha Esa memberikan akal sehat yang dapat membantu tetap produktif walau
diuji sakit. Hal ini yang dapat saya simpulkan dari pengalaman Cing Ato. Maka,
hendaklah setiap hal yang kita lakukan, lakukanlah yang terbaik. Sebab kita
sendiri yang akan menentukan arah tujuan dalam melewati “perjalanan ribuan kilometer: bermanfaat untuk diri sendiri atau berbagi
dengan yang lain”.
Bagaimana Aku menulis?
Dengan bangga Aku menjawab: Aku menulis
bersama peserta pelatihan belajar menulis PGRI dan narasumber yang istimewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar