"Program untuk Murid"
Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:
"Program untuk Murid"
Alhamdulillah, perjalanan pendidikan guru penggerak, sudah berada di modul 3.3. Modul 3.3 ini adalah materi terakhir yang terdapat di dalam LMS sebagai penambah wawasan dan keilmuan terutama dalam pengelolaan program yang berdampak positif pada murid. Melalui modul 3.3 ini, saya mempelajari materi yang berkaitan dengan pengelolaan suatu program yang menumbuhkan kepemimpinan murid. Seperti apa program untuk murid? Mari berselancar dalam refleksiku kali ini. Pembelajaran modul 3.3 ini, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA".
M = Mulai dari Diri
E = Eksplorasi Konsep
R = Ruang Kolaborasi
D = Demonstrasi Kontekstual
E = Elaborasi Pemahaman
K = Koneksi Antar Materi
A = Aksi Nyata
Dengan mengikuti alur, saya belajar bahwa pentingnya seorang guru mengajak murid untuk terlibat dalam program sekolah, baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Dengan begitu akan menumbuhkan kepemimpinan murid sehingga dapat terlibat dalam proses belajarnya sendiri. Guru dalam hal ini, membimbing atau sebagai fasilitator. Berikut saya membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
1. Facts (Peristiwa)
2.Feelings (Perasaan)
3.Findings (Pembelajaran)
4.Future (Penerapan)
Facts (Peristiwa)
Senin, 15 Mei 2023, Bu Yani sebagai fasilitator menginformasikan bahwa kegiatan pembelajaran modul 3.3 dimulai dengan tahapan "mulai dari diri modul 3.3" di LMS. Melalui awal kegiatan pembelajaran ini, tergambar seperti apa pembelajaran yang akan dilakukan dengan kata kunci "program untuk murid". Pada tahapan mulai dari diri, saya mengingat kembali pengalaman saat mengikuti program sekolah. Program sekolah diantaranya intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pengalaman mengikuti program yang positif tentu akan selalu diingat dan menjadi bagian dari pembentukan karakter. Melalui tahapan ini, saya memahami bahwa ketika sekarang saya menjadi guru, ketika membuat program harus mampu mengelola dengan baik dan berdampak positif pada murid, sebab pengalaman mengikuti program tersebut akan sangat berdampak bagi masa depan murid.
Selasa, 16 Mei 2023, dalam tahapan eksplorasi konsep, saya membaca materi berkaitan dengan program sekolah yang menumbuhkan kepemimpinan murid. Kemudian dilanjutkan dengan tahapan ruang kolaborasi, demonstrasi kontekstual, dan elaborasi pemahaman, bersama fasilitator, rekan CGP, dan instruktur yang menambah pengalaman dalam memahami materi modul 3.3.
![]() |
| Diskusi program saat Rukol bersama rekan CGP dan fasilitator |
Setelah melewati beberapa tahapan pembelajaran, saya mencoba menerapkan aksi nyata di kelas dengan membuat program untuk murid yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid dan mengembangkan kreativitas dan kecakapan murid terutama dalam literasi. Hal baik yang saya dapatkan ketika mempelajari modul 3.3 adalah saya terlibat aktif dalam komunitas sekolah dan berkolaborasi bersama rekan sejawat dalam menerapkan aksi nyata. Hal ini berdampak positif pada lingkungan sekolah, terutama dalam mewujudkan program yang berpihak pada murid. Dalam proses pembelajaran, dari pembelajaran konvensional mulai menjadi pembelajaran berdiferensiasi yang berupaya mengakomodasi kebutuhan belajar murid.
Hambatan yang terjadi saat mempelajari modul 3.3 dan menerapkan aksi nyata adalah pengkondisian waktu yang bertepatan dengan tugas lain di sekolah. Untuk itu, perlu kerja sama dengan rekan sejawat untuk dapat menerapkan aksi nyata tersebut.
Feelings (Perasaan)
Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.3 ini, sangat senang karena mendapat kesempatan untuk mempelajari modul 3.3 tentang“Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid”. Bertambah wawasan dan keilmuan dalam mewujudkan kepemimpinan murid (student agency) dan membangun lingkungan yang menumbuhkan kepemimpinan murid serta peran keterlibatan komunitas dalam membangun student agency. Saya juga semakin paham dalam menyusun program/kegiatan sekolah yang berpihak pada murid, serta mencerminkan profil pelajar pancasila.
Findings (Pembelajaran)
Banyak hal yang saya peroleh dalam pembelajaran modul 3.3 ini. Hal baru yang yang saya ketahui mengenai diri saya setelah mempelajari modul 3.3 ini adalah saya semakin terbuka untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dengan program yang berdampak positif pada murid. Maka, murid harus terlibat dalam proses belajarnya sendiri, sehingga menempatkan diri saya sebagai mitra belajar bagi murid-murid di kelas.
Materi yang saya pelajari di modul 3.3, antara lain:
- Kepemimpinan murid (student agency) adalah ketika murid mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan, dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.
- Guru dan murid menjalin hubungan kemitraan ketika murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri.
- Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pengejawantahan profil pelajar pancasila dalam dirinya.
- Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency) , maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.
- Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah: 1) Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, 2) Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, di mana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial positif yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah, 3) Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya, 4) Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, 5) Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, 6) Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri, 7) Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
- Komunitas memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid karena menyediakan kesempatan bagi murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka.
Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul 3.3 ini, tentunya saya ingin melaksanakan program yang telah saya rancang bersama dengan murid-murid. Harapannya program ini dapat menumbuhkan kepemimpinan murid dan mewujudkan karakter profil pelajar pancasila. Selain itu, saya juga akan menyebarkan pengetahuan dan pengalaman saya dalam menyusun program yang berdampak positif pada murid ini pada rekan-rekan sejawat.
Demikian refleksi dwimingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.
Salam dan Bahagia.
Eulis Anggunsari
CGP Angkatan 7
.jpeg)
