"Bagaimana pemimpin membuat keputusan?"
Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:
"Bagaimana pemimpin membuat keputusan?"
Seorang pemimpin menjadi penentu kebijakan dalam menjalankan suatu institusi. Pemimpin harus mempertimbangkan betul langkah-langkah yang diambil dalam membuat suatu keputusan karena keputusan tersebut harus bertujuan untuk kepentingan bersama. Bagaimana pemimpin membuat keputusan? Melalui modul 3.1 ini, saya mempelajari materi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Pembelajaran modul 3.1 ini, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA".
M = Mulai dari Diri
E = Eksplorasi Konsep
R = Ruang Kolaborasi
D = Demonstrasi Kontekstual
E = Elaborasi Pemahaman
K = Koneksi Antar Materi
A = Aksi Nyata
Dengan mengikuti alur, saya belajar bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran berperan dalam mengambil keputusan yang harus berpihak pada murid. Berikut saya membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
1. Facts (Peristiwa)
2.Feelings (Perasaan)
3.Findings (Pembelajaran)
4.Future (Penerapan)
Facts (Peristiwa)
Jumat, 31 Maret 2023, Bu Yani sebagai fasilitator menginformasikan bahwa kegiatan paket modul 3 dimulai dengan mengerjakan pre test dan tahapan "mulai dari diri modul 3.1" di LMS. Melalui awal kegiatan pembelajaran ini, tergambar seperti apa pembelajaran yang akan dilakukan dengan kata kunci "pemimpin". Dalam tahapan eksplorasi konsep, diberikan pengetahuan tentang bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan seorang pemimpin sebelum mengambil keputusan, kemudian kami berdiskusi dalam tahapan "ruang kolaborasi" bersama rekan CGP yang lain mengenai studi kasus terkait pengambilan keputusan. Hal baik yang saya alami ketika mempelajari modul 3.1 ini adalah saya mengetahui bahwa seorang guru yang juga pemimpin pembelajaran harus senantiasa membuat keputusan-keputusan terbaik dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat berpihak pada murid. Kemudian saat melakukan tahapan "demonstrasi kontekstual", saya melakukan wawancara dengan dua (2) kepala sekolah terkait pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Hal baik yang saya dapatkan ketika mewawancarai kedua kepala sekolah, yaitu saya memahami bahwa seorang pemimpin harus mempertimbangkan alternatif solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Akan ada beberapa pihak yang akan terlibat, mungkin saja akan ada pihak yang berkeberatan, maka peran kepala sekolah sebagai pemimpin adalah bagaimana membuat keputusan yang memang sesuai peraturan dan untuk kepentingan bersama, bukan perorangan ataupun perkelompok. Melalui modul 3.1 ini, ketika pembelajaran di kelas, saya belajar untuk mengidentifikasi masalah dan mempertimbangkan alternatif solusi sebelum mengambil keputusan. Hambatan yang saya alami di awal pembelajaran ini adalah ketika analisis studi kasus menggunakan 4 prinsip dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Saya belum memahami betul perbedaan di antara masing-masing langkah-langkah tersebut. Untuk itu, saya berupaya mencermati, melihat kembali materi dan contoh-contoh terkait studi kasus, akhirnya saya dapat memahami bagaimana seharusnya kasus-kasus tersebut dianalisis. Pembelajaran modul 3.1 ini pun mendapat penguatan dari instruktur ketika elaborasi pemahaman dan saya membuat koneksi antarmateri untuk dapat menghubungkan materi yang saya pelajari dengan materi sebelumnya dan bagaimana menerapkannya di sekolah.
![]() |
| Wawancara dengan Kepala SD Islam Al Azhar 10 Serang |
Feelings (Perasaan)
Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.1 ini sangat senang sebab saya memahami bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan ketika mengambil keputusan sehingga menjadi praktik baik bagi semua warga sekolah. Saya tertarik menerapkan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan di kelas, sebab murid-murid memiliki beragam karakter dan potensi, jika tidak diarahkan, maka murid tersebut tidak akan berkembang. Maka saya berupaya dalam proses pembelajaran, mengambil keputusan-keputusan yang berpihak pada murid. Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan dua kelompok murid, yang satu lebih cepat memahami materi, sedangkan kelompok murid yang lain lambat, saya harus mengambil keputusan agar kedua kelompok murid tersebut sama-sama dapat terakomodasi kebutuhan belajarnya. Maka pembelajaran berdiferensiasi menjadi cara yang saya ambil untuk mengatasinya.
Findings (Pembelajaran)
Pelajaran yang saya dapatkan adalah seorang pemimpin harus melewati beberapa tahap sebelum mengambil keputusan. Pemimpin hendaknya dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi, apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara dua pilihan yang sama-sama benar (atau keadaan benar lawan benar), namun secara nilai kebajikan saling bertentangan. Sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Bagaimana pemimpin membuat keputusan? Seorang pemimpin pembelajaran sebelum membuat keputusan, maka perlu melakukan analisis berdasarkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
4 (empat) paradigma dilema etika, antara lain:
- Individu lawan kelompok (individual vs community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
3 (tiga) prinsip pengambilan keputusan, antara lain:
- prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking)
- berpikir berbasis peraturan (rules-based thinking)
- berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking)
9 (sembilan) langkah pengambilan dan pengujian keputusan, antara lain:
- mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
- menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
- mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
- pengujian benar atau salah
- pengujian paradigma benar lawan benar
- melakukan prinsip resolusi
- investigasi opsi trilema
- buat keputusan
- lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Tahapan membuat keputusan ini dapat membantu seorang pemimpin agar keputusan yang diambil lebih terarah dan tepat sasaran. Hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya sebelum mempelajari modul 3.1 ini adalah keputusan yang saya ambil masih mengandalkan keputusan akhir tanpa adanya banyak pertimbangan. Namun setelah mempelajari modul 3.1 ini, saya berupaya merubah pola pikir dalam pengambilan keputusan sehingga keputusan tersebut dapat berpihak pada murid. Melalui modul 3.1 ini, saya berupaya menjadi individu yang belajar terbuka dan bertanggung jawab terhadap suatu permasalahan.
Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul 3.1 ini saya akan menerapkan keterampilan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ketika menghadapi suatu permasalahan, terutama permasalahan yang termasuk dilema etika. Saya akan terus berlatih mengambil keputusan yang dapat berpihak pada murid sehingga menjadi pemimpin pembelajaran yang dapat menjadi teladan bagi murid khususnya. Saya pun akan membagikan pembelajaran yang saya dapatkan dalam modul 3.1 ini kepada rekan sejawat di sekolah.
"Pengalaman menjadi cara, bagaimana seorang pemimpin bertumbuh." Belajar dari pengalaman, dengan begitu akan tumbuh seorang pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan.
Kesimpulannya, jangan berhenti belajar. Jadilah pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab dalam mengambil suatu keputusan!
Demikian refleksi dwi mingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.
Salam dan Bahagia.
Eulis Anggunsari
CGP Angkatan 7


.jpeg)


