Minggu, 04 Juni 2023

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                 



                                                                 "Program untuk Murid"

 Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.

Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Program untuk Murid"   

Alhamdulillah, perjalanan pendidikan guru penggerak, sudah berada di modul 3.3. Modul 3.3 ini adalah materi terakhir yang terdapat di dalam LMS sebagai penambah wawasan dan keilmuan terutama dalam pengelolaan program yang berdampak positif pada murid. Melalui modul 3.3 ini, saya mempelajari materi yang berkaitan dengan pengelolaan suatu program yang menumbuhkan kepemimpinan murid. Seperti apa program untuk murid? Mari berselancar dalam refleksiku kali ini. Pembelajaran modul 3.3 ini, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA". 

     = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya belajar bahwa pentingnya seorang guru mengajak murid untuk terlibat dalam program sekolah, baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Dengan begitu akan menumbuhkan kepemimpinan murid sehingga dapat terlibat dalam proses belajarnya sendiri. Guru dalam hal ini, membimbing atau sebagai fasilitator.  Berikut saya membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Senin, 15 Mei 2023, Bu Yani sebagai fasilitator menginformasikan bahwa kegiatan pembelajaran modul 3.3 dimulai dengan tahapan "mulai dari diri modul 3.3" di LMS. Melalui awal kegiatan pembelajaran ini, tergambar seperti apa pembelajaran yang akan dilakukan dengan kata kunci "program untuk murid". Pada tahapan mulai dari diri, saya mengingat kembali pengalaman saat mengikuti program sekolah. Program sekolah diantaranya intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pengalaman mengikuti program yang positif tentu akan selalu diingat dan menjadi bagian dari pembentukan karakter. Melalui tahapan ini, saya memahami bahwa ketika sekarang saya menjadi guru, ketika membuat program harus mampu mengelola dengan baik dan berdampak positif pada murid, sebab pengalaman mengikuti program tersebut akan sangat berdampak bagi masa depan murid.

Selasa, 16 Mei 2023, dalam tahapan eksplorasi konsep, saya membaca materi berkaitan dengan program sekolah yang menumbuhkan kepemimpinan murid. Kemudian dilanjutkan dengan tahapan ruang kolaborasi, demonstrasi kontekstual, dan elaborasi pemahaman, bersama fasilitator, rekan CGP, dan instruktur yang menambah pengalaman dalam memahami materi modul 3.3.

Diskusi program saat Rukol bersama rekan CGP dan fasilitator


Setelah melewati beberapa tahapan pembelajaran, saya mencoba menerapkan aksi nyata di kelas dengan membuat program untuk murid yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid dan mengembangkan kreativitas dan kecakapan murid terutama dalam literasi. Hal baik yang saya dapatkan ketika mempelajari modul 3.3 adalah saya terlibat aktif dalam komunitas sekolah dan berkolaborasi bersama rekan sejawat dalam menerapkan aksi nyata. Hal ini berdampak positif pada lingkungan sekolah, terutama dalam mewujudkan program yang berpihak pada murid. Dalam proses pembelajaran, dari pembelajaran konvensional mulai menjadi pembelajaran berdiferensiasi yang berupaya mengakomodasi kebutuhan belajar murid. 

 



Hambatan yang terjadi saat mempelajari modul 3.3 dan menerapkan aksi nyata adalah pengkondisian waktu yang bertepatan dengan tugas lain di sekolah. Untuk itu, perlu kerja sama dengan rekan sejawat untuk dapat menerapkan aksi nyata tersebut.


Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.3 ini, sangat senang karena mendapat kesempatan untuk mempelajari modul 3.3 tentang“Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid”. Bertambah wawasan dan keilmuan dalam mewujudkan kepemimpinan murid (student agency) dan membangun lingkungan yang menumbuhkan kepemimpinan murid serta peran keterlibatan komunitas dalam membangun student agency. Saya juga semakin paham dalam menyusun program/kegiatan sekolah yang berpihak pada murid, serta mencerminkan profil pelajar pancasila.

Findings (Pembelajaran)

Banyak hal yang saya peroleh dalam pembelajaran modul 3.3 ini. Hal baru yang yang saya ketahui mengenai diri saya setelah mempelajari modul 3.3 ini adalah saya semakin terbuka untuk menumbuhkan kepemimpinan murid dengan program yang berdampak positif pada murid. Maka, murid harus terlibat dalam proses belajarnya sendiri, sehingga menempatkan diri saya sebagai mitra belajar bagi murid-murid di kelas.  

Materi yang saya pelajari di modul 3.3, antara lain:

  • Kepemimpinan murid (student agency) adalah ketika murid mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan, dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.
  • Guru dan murid menjalin hubungan kemitraan ketika murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri.
  • Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pengejawantahan profil pelajar pancasila dalam dirinya.
  • Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency) , maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.
  • Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah: 1) Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, 2) Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, di mana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial positif yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah, 3) Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya, 4) Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya, 5) Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan, 6) Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri, 7) Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
  • Komunitas memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid karena menyediakan kesempatan bagi murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka.

Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 3.3 ini, tentunya saya ingin melaksanakan program yang telah saya rancang bersama dengan murid-murid. Harapannya program ini dapat menumbuhkan kepemimpinan murid dan mewujudkan karakter profil pelajar pancasila. Selain itu, saya juga akan menyebarkan pengetahuan dan pengalaman saya dalam menyusun program yang berdampak positif pada murid ini pada rekan-rekan sejawat.

Demikian refleksi dwimingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

Eulis Anggunsari

CGP Angkatan 7

Sabtu, 20 Mei 2023

"Pemimpin dan Sumber daya Sekolahku"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.2

                                                    

                                                 

                                                   "Pemimpin dan Sumber daya Sekolahku"

 Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.

Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Pemimpin dan Sumber Daya Sekolahku"   

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat aset/sumber daya yang harus dimanfaatkan secara maksimal dan saling berinteraksi antara satu aset dengan lainnya. Seorang pemimpin, dalam hal ini kepala sekolah, berperan penting dalam pengelolaan sumber daya. Seorang pemimpin perlu menerapkan pendekatan berbasis kekuatan/aset, dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Melalui modul 3.2 ini, saya mempelajari materi yang berkaitan dengan pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Pembelajaran modul 3.2 ini, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA". 

     = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya belajar bahwa guru diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya untuk menggali, menganalisis, dan memetakan potensi sumber daya peserta didik sehingga mampu berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing. Berikut saya membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Selasa, 2 Mei 2023, Bu Yani sebagai fasilitator menginformasikan bahwa kegiatan pembelajaran modul 3.2 dimulai dengan tahapan "mulai dari diri modul 3.2" di LMS. Melalui awal kegiatan pembelajaran ini, tergambar seperti apa pembelajaran yang akan dilakukan dengan kata kunci "pemimpin dan aset/sumber daya". Tahapan mulai dari diri, saya mengidentifikasi bagian-bagian dari ekosistem sekolah dan pemanfaatannya. Rabu, 3 Mei 2023, dalam tahapan eksplorasi konsep, dikuatkan pemahaman tentang sekolah sebagai ekosistem, aset/sumber daya yang dapat dimanfaatkan, dan pendekatan berbasis kekuatan/aset yang harus diterapkan. 

Pembelajaran modul 3.2, dilanjutkan dengan tahapan ruang kolaborasi, untuk berdiskusi bersama rekan CGP lain tentang identifikasi aset daerah sesuai dengan kondisi lingkungan. Tahapan demonstrasi kontekstual dengan menganalisis video dan pemantapan materi melalui tahapan elaborasi pemahaman bersama instruktur pada hari Kamis, 11 Mei 2023.

Hal baik yang saya dapatkan setelah melewati beberapa tahap pembelajaran modul 3.2 ini adalah saya menyadari bahwa dalam ekosistem sekolah semua bagian harus saling berinteraksi sehingga secara seimbang, selaras, dan berkesinambungan dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Sebelum mempelajari modul 3.2, saya beranggapan bahwa aset sekolah hanya berupa bentuk fisik/sarana dan prasarana, namun setelah mempelajari modul ini, ada 7 aset/sumber daya yang berperan penting dan saling berhubungan. 

Saya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan potensi sumber daya yang ada di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan projek kelas 4, saya beserta rekan guru bekerja sama merencanakan kegiatan yang memanfaatkan bahan pembelajaran yang berasal dari lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaan, murid secara kreatif membuat produk dengan tema teknologi dengan menggunakan bahan yang ada dan mudah didapat.

Kegiatan Projek Kelas 4



Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.2 ini sangat senang dan tertarik untuk menggali dan memetakan sumber daya yang ada di sekolah, sehingga mampu digunakan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Murid merupakan salah satu aset yang memiliki potensi yang harus dikembangkan untuk menumbuhkan profil pelajar pancasila dalam dirinya. Melalui pemanfaatan aset/sumber daya yang tepat, maka murid akan menerima pembelajaran yang lebih bermakna.

Findings (Pembelajaran)

Banyak hal yang saya peroleh dalam pembelajaran modul 3.2 ini. Hal baru yang yang saya ketahui mengenai diri saya setelah mempelajari modul 3.2 ini adalah saya harus menggunakan pendekatan berbasis kekuatan dalam proses pembelajaran yang saya laksanakan di kelas. Mungkin selama ini, saya masih berpikir berbasis kekurangan sehingga tak jarang beberapa gagasan yang muncul menjadi tak dapat dijalankan. 

Materi yang saya pelajari di modul 3.2, antara lain:

  • Ekosistem sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua faktor ini saling membutuhkan dan memengaruhi dalam keberhasilan proses pembelajaran.
  • Faktor-faktor biotik yang ada di dalam ekosistem sekolah, antara lain: murid, kepala sekolah, guru, staf/tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orang tua, masyarakat sekitar sekolah, dinas terkait, dan pemerintah daerah.
  • Faktor-faktor abiotik yang ada di dalam ekosistem sekolah, antara lain: keuangan, sarana dan prasarana, serta lingkungan alam.
  • Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu sehingga potensi tidak berkembang. Sedangkan pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri sehingga potensi sumber daya yang ada di sekolah dapat berkembang dan berkelanjutan.
  • 7 aset dalam sebuah komunitas yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di sekolah: 1. Modal manusia 2. Modal sosial 3. Modal politik 4. Modal agama dan budaya 5. Modal fisik 6. Modal lingkungan alam 7. Modal finansial

Terdapat 7 aset sebagai kekuatan utama dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah dan pembelajaran di kelas dengan melakukan pendekatan berbasis aset sebagai sumber daya untuk mencapai visi dan misi sekolah dan nasional. Pemimpin berperan dalam mengelola sumber daya sebagai kekuatan yang dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu/kualitas pendidikan dan mewujudkan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 3.2 ini, penerapan yang akan saya coba lakukan dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya adalah:

  • Guru sebagai aset manusia dalam melaksanakan pembelajaran harus berinovasi dan memperkaya diri dalam mengelola sumber daya di kelas dan di sekolah agar tercipta pendidikan yang berpihak pada murid.
  • Mengajak serta rekan sejawat memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekolah dalam proses pembelajaran.
  • Saya akan mengubah cara berpikir berbasis masalah menjadi cara berpikir berbasis aset, karena pendekatan berbasis aset ini merupakan cara praktis untuk menemukan dan mengenali hal-hal yang positif, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Sebagai pemimpin pembelajaran perlu menemukenali kekuatan sebagai potensi yang menjadi fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia. 

Untuk mengelola sumber daya yang ada di sekolah, maka seorang pemimpin harus berkolaborasi dengan seluruh komunitas yang ada di lingkungan sekolah. Saya berharap sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberdayakan sumber daya yang ada di sekolah, menjadi lebih bermanfaat. 

"Gunakan sumber daya di sekolahku, mari berinovasi!

Demikian refleksi dwi mingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

Eulis Anggunsari

CGP Angkatan 7

Selasa, 18 April 2023

Jurnal Refleksi Dwimingguan (Modul 3.1)

                                              




                                                 "Bagaimana pemimpin membuat keputusan?"

Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.


Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Bagaimana pemimpin membuat keputusan?"   

Seorang pemimpin menjadi penentu kebijakan dalam menjalankan suatu institusi. Pemimpin harus mempertimbangkan betul langkah-langkah yang diambil dalam membuat suatu keputusan karena keputusan tersebut harus bertujuan untuk kepentingan bersama. Bagaimana pemimpin membuat keputusan? Melalui modul 3.1 ini, saya mempelajari materi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Pembelajaran modul 3.1 ini, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA". 

     = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya belajar bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran berperan dalam mengambil keputusan yang harus berpihak pada murid. Berikut saya membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Jumat, 31 Maret 2023, Bu Yani sebagai fasilitator menginformasikan bahwa kegiatan paket modul 3 dimulai dengan mengerjakan pre test dan tahapan "mulai dari diri modul 3.1" di LMS. Melalui awal kegiatan pembelajaran ini, tergambar seperti apa pembelajaran yang akan dilakukan dengan kata kunci "pemimpin". Dalam tahapan eksplorasi konsep, diberikan pengetahuan tentang bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan seorang pemimpin sebelum mengambil keputusan, kemudian kami berdiskusi dalam tahapan "ruang kolaborasi" bersama rekan CGP yang lain mengenai studi kasus terkait pengambilan keputusan. Hal baik yang saya alami ketika mempelajari modul 3.1 ini adalah saya mengetahui bahwa seorang guru yang juga pemimpin pembelajaran harus senantiasa membuat keputusan-keputusan terbaik dalam proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat berpihak pada murid. Kemudian saat melakukan tahapan "demonstrasi kontekstual", saya melakukan wawancara dengan dua (2) kepala sekolah terkait pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Hal baik yang saya dapatkan ketika mewawancarai kedua kepala sekolah, yaitu saya memahami bahwa seorang pemimpin harus mempertimbangkan alternatif solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Akan ada beberapa pihak yang akan terlibat, mungkin saja akan ada pihak yang berkeberatan, maka peran kepala sekolah sebagai pemimpin adalah bagaimana membuat keputusan yang memang sesuai peraturan dan untuk kepentingan bersama, bukan perorangan ataupun perkelompok. Melalui modul 3.1 ini, ketika pembelajaran di kelas, saya belajar untuk mengidentifikasi masalah dan mempertimbangkan alternatif solusi sebelum mengambil keputusan. Hambatan yang saya alami di awal pembelajaran ini adalah ketika analisis studi kasus menggunakan 4 prinsip dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Saya belum memahami betul perbedaan di antara masing-masing langkah-langkah tersebut. Untuk itu, saya berupaya mencermati, melihat kembali materi dan contoh-contoh terkait studi kasus, akhirnya saya dapat memahami bagaimana seharusnya kasus-kasus tersebut dianalisis. Pembelajaran modul 3.1 ini pun mendapat penguatan dari instruktur ketika elaborasi pemahaman dan saya membuat koneksi antarmateri untuk dapat menghubungkan materi yang saya pelajari dengan materi sebelumnya dan bagaimana menerapkannya di sekolah. 



Wawancara dengan Kepala SD Islam Al Azhar 10 Serang


Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.1 ini sangat senang sebab saya memahami bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan ketika mengambil keputusan sehingga menjadi praktik baik bagi semua warga sekolah. Saya tertarik menerapkan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan di kelas,  sebab murid-murid memiliki beragam karakter dan potensi, jika tidak diarahkan, maka murid tersebut tidak akan berkembang. Maka saya berupaya dalam proses pembelajaran, mengambil keputusan-keputusan yang berpihak pada murid. Sebagai contoh, ketika berhadapan dengan dua kelompok murid, yang satu lebih cepat memahami materi, sedangkan kelompok murid yang lain lambat, saya harus mengambil keputusan agar kedua kelompok murid tersebut sama-sama dapat terakomodasi kebutuhan belajarnya. Maka pembelajaran berdiferensiasi menjadi cara yang saya ambil untuk mengatasinya.  

Findings (Pembelajaran)

Pelajaran yang saya dapatkan adalah seorang pemimpin harus melewati beberapa tahap sebelum mengambil keputusan. Pemimpin hendaknya dapat mengidentifikasi masalah yang terjadi, apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara dua pilihan yang sama-sama benar (atau keadaan benar lawan benar), namun secara nilai kebajikan saling bertentangan. Sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Bagaimana pemimpin membuat keputusan? Seorang pemimpin pembelajaran sebelum membuat keputusan, maka perlu melakukan analisis berdasarkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

4 (empat) paradigma dilema etika, antara lain: 

  1. Individu lawan kelompok (individual vs community) 
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 

3 (tiga) prinsip pengambilan keputusan, antara lain:

  1. prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking)
  2. berpikir berbasis peraturan (rules-based thinking)
  3. berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking)

9 (sembilan) langkah pengambilan dan pengujian keputusan, antara lain:

  1. mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  3. mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
  4. pengujian benar atau salah
  5. pengujian paradigma benar lawan benar
  6. melakukan prinsip resolusi
  7. investigasi opsi trilema
  8. buat keputusan
  9. lihat lagi keputusan dan refleksikan.  

Tahapan membuat keputusan ini dapat membantu seorang pemimpin agar keputusan yang diambil lebih terarah dan tepat sasaran. Hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya sebelum mempelajari modul 3.1 ini adalah keputusan yang saya ambil masih mengandalkan keputusan akhir tanpa adanya banyak pertimbangan. Namun setelah mempelajari modul 3.1 ini, saya berupaya merubah pola pikir dalam pengambilan keputusan sehingga keputusan tersebut dapat berpihak pada murid. Melalui modul 3.1 ini, saya berupaya menjadi individu yang belajar terbuka dan bertanggung jawab terhadap suatu permasalahan.

Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 3.1 ini saya akan menerapkan keterampilan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ketika menghadapi suatu permasalahan, terutama permasalahan yang termasuk dilema etika. Saya akan terus berlatih mengambil keputusan yang dapat berpihak pada murid sehingga menjadi pemimpin pembelajaran yang dapat menjadi teladan bagi murid khususnya. Saya pun akan membagikan pembelajaran yang saya dapatkan dalam modul 3.1 ini kepada rekan sejawat di sekolah.

"Pengalaman menjadi cara, bagaimana seorang pemimpin bertumbuh."  Belajar dari pengalaman, dengan begitu akan tumbuh seorang pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan. 

Kesimpulannya, jangan berhenti belajar. Jadilah pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab dalam mengambil suatu keputusan! 

Demikian refleksi dwi mingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

Eulis Anggunsari

CGP Angkatan 7

Kamis, 06 April 2023

Jurnal Refleksi Dwimingguan Ke 8 "Untuk murid, Pembelajaran ini Kulakukan"



"Untuk murid, Pembelajaran ini Kulakukan"

Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.


Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Untuk murid, pembelajaran ini kulakukan"   

Alhamdulilllah, perjalanan guru penggerak sudah kulalui tahap demi tahap, sampai pada tahap paket modul 2, saya belajar tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Melalui pembelajaran paket modul 2 ini, saya mempelajari tentang pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional, dan coaching untuk supervisi akademik. Materi-materi tersebut merujuk pada kesimpulan bahwa "untuk murid, pembelajaran ini kulakukan". Seorang guru hendaknya memahami pembelajaran yang dilakukan bertujuan untuk menggali potensi murid. Pembelajaran paket modul 2, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA". 

     = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya belajar untuk memposisikan diri sebagai guru yang dapat melakukan pembelajaran "untuk murid" demi tercapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Berikut saya akan membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Jurnal refleksi dwimingguan ini berisi tentang pengalaman mempelajari paket modul 2 tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosional bersama murid-murid di kelas. Pembelajaran menjadi berbeda dan bervariasi, saya mencoba mengakomodasi kebutuhan murid yang beragam. Ya, hal ini dilakukan "untuk murid". Saya berupaya menjadi guru yang mampu menuntun murid untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan berdasarkan kemampuan murid. Hal baik yang saya peroleh ketika menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE, murid lebih aktif dan memiliki kesiapan lebih matang dari sebelumnya. Saya menyiapkan perangkat pembelajaran yang beragam sehingga murid bisa memilih sesuai minat dan kebutuhannya. Selain itu, saya menerapkan teknik STOP untuk meningkatkan fokus murid, sehingga murid memiliki kesadaran penuh untuk mengikuti pembelajaran. Adapun hambatan yang saya alami ketika melakukan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid adalah memetakan murid sesuai kebutuhannya sehingga pembelajaran berdiferensiasi dapat terlaksana dengan baik. Hal yang saya lakukan ketika terjadi hambatan tersebut adalah mencari referensi terkait pembelajaran berdiferensiasi dan melakukan tes maupun wawancara sehingga dapat memetakan kebutuhan murid. 



Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mulai menerapkan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid adalah senang. Hal ini membuat saya belajar bahwa guru perlu memahami kebutuhan murid dan mengetahui keadaan sosial emosional yang terjadi pada murid. Ketika melakukan teknik STOP pertama kali di kelas, murid tampak antusias dan mengikuti alur, kemudian ketika saya menanyakan bagaimana perasaan, mereka tampak menjadi lebih tenang. Apalagi saat menerapkan PSE, saya senang murid antusias ketika membuat produk ucapan terima kasih untuk temannya, hal ini sebagai bentuk empati.  Begitu pula saat melakukan pembelajaran berdiferensiasi dengan membuat produk pembelajaran bervariasi, saya sangat senang, murid-murid secara kreatif dapat menghasilkan produk pembelajaran sesuai dengan minatnya masing-masing. Selain pembelajaran berdiferensiasi dan PSE, saya sangat senang ketika melakukan praktik coaching bersama rekan CGP sebab dapat melatih keterampilan bertanya yang dapat memberdayakan kompetensi seseorang. Saya juga menerapkan praktik coaching bersama rekan sejawat untuk supervisi akademik, saya menjadi lebih tertantang untuk mampu menjadi coach yang baik.

Murid membuat produk pembelajaran sesuai minatnya



Murid membuat ucapan terima kasih untuk temannya




Praktik Coacing bersama rekan sejawat


Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran yang saya dapat adalah menerapkan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya belajar hal baru tentang memetakan kebutuhan murid sehingga murid dapat mengembangkan potensinya untuk mencapai tujuan pembelajaran dapat. Kita sebagai guru tidak bisa mengabaikan kebutuhan murid yang beragam, karena murid memiliki karakter, kesiapan, minat maupun cara belajar yang beragam. Melalui pembelajaran ini, saya berbagi pengetahuan bersama rekan sejawat di sekolah, tentang praktik coaching sebagai upaya memberdayakan kompetensi guru. Setelah saya mempelajari praktik pembelajaran yang berpihak pada murid ini, hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya adalah saya masih harus belajar dalam meningkatkan pembelajaran terutama yang berpihak pada murid. Saya tidak boleh berpuas diri terhadap apa yang sudah saya lakukan selama ini, sebab dunia pendidikan akan terus berkembang. Banyak hal yang perlu dicari tahu.  

Future (Penerapan)

Melalui pembelajaran paket modul 2 ini, saya akan berupaya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE dengan lebih baik bersama seluruh komunitas sekolah. Ilmu tentang praktik coaching juga akan saya terapkan bersama rekan sejawat dan murid. Saya akan berupaya beralih dari pembelajaran konvensional yang selama ini saya lakukan ke pembelajaran yang berpihak pada murid. Semua demi satu tujuan, yaitu "untuk murid". Ilmu tidak akan bermanfaat ketika hanya sebagai pengetahuan tanpa praktik dan perbaikan. 

Kesimpulannya, jangan berhenti belajar. Guru adalah sosok among yang menuntun perkembangan murid sesuai kodratnya demi kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya.  

Demikian refleksi dwi mingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

Eulis Anggunsari

CGP Angkatan 7

Minggu, 19 Maret 2023

"Saya Belajar Mendengar" - Jurnal Refleksi Dwimingguan Ke- 7



Modul 2.3        : Coaching untuk Supervisi Akademik 

Oleh                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.


Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Melalu Coaching, Saya belajar Mendengar"   

Fokus "mendengar aktif" kata kunci dalam kegiatan coaching yang saya maknai dalam pembelajaran modul 2.3 ini. Perjalanan calon guru penggerak angkatan 7 yang sedang saya ikuti, sudah masuk dalam tahap menjadi coach yang berupaya membantu coachee, hal baik ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk mampu mengimplementasikannya. Tentu tidaklah mudah karena kita perlu memiliki keterampilan bertanya dan strategi yang tepat dalam melakukan coaching. Seperti apa proses coaching? Saya belajar mengetahuinya melalui tahapan dengan alur "MERDEKA". 

     = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya mencoba mencari tahu bagaimana coaching dapat dilakukan dalam konteks pendidikan melalui supervisi akademik. Berikut saya refleksikan pembelajaran modul 2.3 dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Perjalanan mempelajari modul 2.3 ini, dimulai saat fasilitatorku, Bu Yani, menginformasikan untuk membuka LMS melalui pesan udara di grup WA, pada hari Kamis, 9 Maret 2023 untuk melakukan tahap "mulai dari diri". Dalam tahapan ini, saya menjawab pertanyaan tentang pengalaman saat disupervisi oleh kepala sekolah/pengawas. Dalam hal ini saya mereview bagaimana saat disupervisi. Hal baik yang saya dapat melalui materi modul 2.3 bahwa supervisi akademik hendaklah disertai dengan proses coaching, dengan begitu kita akan mendapat umpan balik dalam meningkatkan kompetensi diri dalam proses pembelajaran. 

Perjalanan selanjutnya, saya membuka eksplorasi konsep pada hari Jumat, 10 Maret 2023. Berbagai materi seputar coaching saya pelajari. Hal baik dalam eksplorasi konsep adalah saya belajar praktik coaching melalui video-video yang ada di eksplorasi konsep.  Kemudian, saat berdiskusi bersama fasilitator dan rekan CGP angkatan 7 lainnya, kami coba praktikan percakapan coaching melalui alur TIRTA, secara virtual melalui ruang kolaborasi (16-17 Maret 2023).

Hambatan dalam proses praktik coaching adalah memberikan pertanyaan berbobot untuk menggali potensi coachee dalam menemukan solusinya sendiri. Melalui praktik ini, seorang coach membutuhkan keterampilan bertanya sehingga dapat merespon masalah yang dihadapi coachee dengan pertanyaan yang berbobot. Untuk itu, saya belajar untuk "mendengar aktif" dengan kesadaran penuh sebelum dan saat kegiatan coaching, dengan begitu kita mampu merespon permasalahan coachee dengan baik.

Selanjutnya, untuk penguatan keterampilan coaching untuk supervisi akademik ini, CGP diharapkan dapat melakukan coaching lebih mendalam dalam tahapan demonstrasi kontekstual bersama rekan CGP lainnya. Tahapan berikutnya yang harus dilakukan adalah elaborasi pemahaman bersama instruktur, melakukan koneksi antar materi, dan mengimplementasikannya melalui aksi nyata.      

Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mempelajari modul 2.3 ini awalnya terkejut dengan materi yang cukup banyak ditampilkan di eksplorasi konsep. Terlebih saat menyimak video praktik coaching melalui alur TIRTA dan bagaimana kepala sekolah/pemimpin pembelajaran melakukan coaching melalui percakapan untuk perencanaan, percakapan untuk pemecahan masalah, percakapan untuk merefleksi, dan percakapan untuk kalibrasi. Hal ini membuat saya khawatir, sejauh mana saya bisa melakukan dan memiliki keterampilan coaching terhadap rekan sejawat atau murid saya nanti di sekolah. Namun, ketika saya menyadari pentingnya coaching ini, saya berupaya untuk percaya bahwa melalui latihan terus menerus, maka kegiatan coaching ini lambat laun dapat saya lakukan dengan baik. 

Jika dihubungkan dengan pengalaman di sekolah, sebetulnya tanpa saya sadari, coaching ini pernah dilakukan saat bersama rekan sejawat di sekolah ketika bertukar pikiran tentang masalah yang dihadapi di kelasnya, atau dengan murid saat menghadapi masalah. Namun, belum sesuai dengan prinsip coaching yang berupaya memaksimalkan potensi coachee dalam proses kreatif untuk mendapatkan solusi dari masalahnya sendiri, mungkin pada saat itu masih dalam prinsip kemitraan saja.

Saya sangat senang ketika berkolaborasi bersama rekan CGP saat melakukan diskusi virtual di ruang kolaborasi. Kami belajar melakukan coaching melalui percakapan alur TIRTA. "Seru" satu kata untuk kegiatan saat itu.



Findings (Pembelajaran)

Banyak hal yang saya pelajari dalam modul 2.3 ini, hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan peningkatan kompetensi diri melalui coaching untuk supervisi akademik. Materi yang dipelajari antara lain:

1. Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan

2. Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching

3. Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching

4. Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

Content PagesContent PagesContent Pages

Dalam forum diskusi eksplorasi konsep, kami menuliskan keterkaitan antara keterampilan coaching dengan supervisi akademik dan memberikan komentar kepada tanggapan rekan CGP yang lain. Hal baru yang saya peroleh dari modul 2.3 ini adalah coaching sangat dibutuhkan saat kepala sekolah/pemimpin pembelajaran melakukan supervisi akademik. Mungkin selama ini, bagi sebagian guru berasumsi bahwa supervisi yang dilakukan justru menjadi beban, karena merasa sedang dinilai atau mencari kekurangan atas proses pembelajaran yang dilakukan. Namun, setelah mempelajari modul ini, ternyata melalui coaching terjadi proses kolaborasi antara coach dengan coachee yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, untuk memberdayakan coachee. Dalam hal ini, justru seorang guru sedang digali potensinya, kepala sekolah memberikan umpan balik yang dapat memberdayakan potensi dari seorang guru untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi diri.

Content Pages 

Future (Penerapan)

Melalui pembelajaran modul 2.3 ini, saya akan belajar melakukan coaching dengan lebih baik bersama seluruh komunitas sekolah. Hal yang akan saya lakukan diantaranya:

  • Menerapkan keterampilan coaching untuk supervisi akademik yang bertujuan sebagai bentuk pengembangan diri.
  • Menerapkan coaching bersama rekan sejawat untuk membantunya belajar bukan mengajarinya, dalam hal ini belajar untuk menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. 
  • Menerapkan coaching yang dapat memberdayakan murid sehingga tujuan pembelajaran dapat berpihak pada murid.

Kesimpulannya, kita sebagai guru penting memiliki keterampilan coaching. Coaching untuk supervisi akademik mewujudkan peningkatan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran, yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, guru menuntun murid merdeka untuk dapat menggali segala kodrat yang dimiliki.  

Maka, melalui keterampilan coaching ini, saya belajar mendengar, mendengar masalah yang terjadi, menggali potensi, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. 

Demikian refleksi dwimingguan modul 2.3, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

CGP Angkatan 7

Senin, 06 Maret 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 (Menata emosi, meraih prestasi)


Modul 2.2       : Pembelajaran Sosial dan Emosional

Oleh                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.


Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Menata emosi, meraih prestasi"   

Ketika menyebut kata "emosi" tentu hal yang dibayangkan adalah sesuatu yang bisa saja mengganggu pikiran dan hati kita terhadap suatu situasi. Begitu pula, saat kumulai membuka LMS program guru penggerak untuk modul 2.2 ini. Bentuk emosi seperti yang tertera dalam roda emosi Plutchik, bisa berupa perasaan yang membawa kesenangan, namun juga bisa membawa kegelisahan. Seperti apa pembelajaran sosial dan emosi itu? Bagaimana menjalankannya? Apakah hasilnya? Begitu banyak pertanyaan yang ada, sehingga aku harus memulainya secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA". 

     = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya mencoba mencari tahu mengapa pembelajaran sosial dan emosional ini begitu penting dalam interaksi kita di sekolah. Berikut saya refleksikan pembelajaran modul 2.2 dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Perjalanan mempelajari modul 2.2 ini, dimulai saat fasilitatorku, Bu Yani, menginformasikan untuk membuka LMS melalui pesan udara di grup WA, pada hari Kamis, 23 Februari 2023. Melalui tahap mulai dari diri dan eksplorasi konsep, saya melakukan literasi di LMS. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman sebagai guru yang melibatkan sosial dan emosional dan membaca materi seputar pembelajaran sosial dan emosional, serta menganalisis kasus. Dalam proses mendidik tentu saya pernah mengalami suatu krisis dalam hal interaksi dengan murid, guru, maupun warga sekolah lainnya, di mana saya harus berusaha bangkit, dan merefleksikan diri untuk semakin memahami bahwa menata emosi itu sangatlah penting. Banyak hal baru, yang tentunya membuatku semakin "tahu" bahwa proses pembelajaran tidak hanya bagaimana materi disampaikan, namun ada pelibatan unsur lain agar kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna, yakni hubungan sosial dan emosional. 

Pada tanggal 28 Februari - 1 Maret 2023, saya bersama rekan CGP lainnya melakukan diskusi melalui tahap ruang kolaborasi dan presentasi secara virtual. Hal baik yang saya peroleh ketika diskusi adalah bagaimana pembelajaran sosial dan emosional dilakukan di kelas. Saya mencoba menerapkannya secara langsung di kelas, menata emosi murid melalui kegiatan pembukaan hangat, menanyakan kabar murid, bagaimana suasana hatinya, kemudian memberikan penguatan melalui keyakinan kelas yang telah dibuat sebelumnya.   

Hambatan yang terjadi saat mempelajari modul 2.2 ini adalah menyesuaikan pembelajaran sosial dan emosional dengan RPP pembelajaran. Namun, ketika membaca materi melalui eksplorasi konsep dan diskusi kelompok bersama rekan CGP, saya menyadari bahwa pembelajaran sosial dan emosional ini merupakan penguatan dalam proses pembelajaran sehingga dapat terintegrasi di dalam praktik mengajar. 

Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mempelajari modul 2.2 ini sangat senang sebab saya dapat menata emosi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Saya mengajar murid SD dengan daya konsentrasi yang relatif tidak lama, sehingga mudah jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Maka perlu refresh, untuk mengembalikan motivasi mereka. Saya pun berusaha tidak marah ketika suasana kelas mulai tidak kondusif, saya tanyakan apa keinginan mereka, lalu kami sepakat sebelum melanjutkan pembelajaran, kami membangun situasi positif seperti melakukan permainan maupun bernyanyi untuk menguatkan.

Selain itu, perasaan cemas juga menghampiri. Saya cemas jika tidak mampu menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini secara baik dengan murid. Bagaimana perasaan murid saat saya mengajar, menjadi berpengaruh terhadap proses menerima atau melaksanakan pembelajaran. Saya tidak ingin, ketidakmampuan saya memahami keadaan emosional mereka, akan mengurangi kualitas hasil dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. 

Findings (Pembelajaran)

Banyak hal yang saya pelajari dalam modul 2.2 ini, terlebih dalam menjaga hubungan positif dengan komunitas sekolah. Pembelajaran sosial dan emosional dapat dijalankan dengan menerapkan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE) bersama murid dan penguatan KSE bersama rekan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). 

Hal baru yang saya peroleh setelah mempelajari modul ini adalah pentingnya mengenali emosi sebelum melakukan tindakan, agar tindakan tidak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Selain mengenali emosi, seorang guru perlu mengelola emosi sehingga dapat kembali kepada suasana yang bahagia dan tenang, sehingga lingkungan pembelajaran menjadi nyaman dan menyenangkan. Pengelolaan emosi ini akan berdampak kepada kesadaran sosial, kemampuan kita berelasi/berinteraksi dengan orang lain, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dengan menata emosi, maka prestasi akan diraih.

Berikut konsep inti pembelajaran modul 2.2 tentang pembelajaran sosial dan emosional, antara lain:

1. Apa itu pembelajaran sosial dan emosional (PSE)?

Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah dengan tujuan, yaitu untuk memberikan pemahaman, penghayatan, dan kemampuan untuk mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan serta menunjukan empati kepada orang lain. PSE sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis ( well-being) secara optimal.

2. 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) dalam menerapkan pembelajaran sosial dan emosional, antara lain:

     a. Kesadaran diri

     b. Manajemen diri

     c. Kesadaran sosial

     d. Keterampilan berelasi

     e. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab  

3. Implementasi PSE di kelas dan sekolah, antara lain:

    a. Pengajaran eksplisit

    b. Integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik

    c. Menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah

4. Penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), antara lain dengan langkah-langkah:

   a. Menjadi teladan

   b. Belajar

   c. Berkolaborasi


Berdasarkan konsep inti PSE ini, antara guru dengan murid, pimpinan sekolah, sesama rekan guru dan tenaga kependidikan, wali murid, maupun masyarakat sekitar, harus tercipta hubungan yang harmonis sehingga dapat mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh komunitas sekolah. 

Hal bermanfaat pada proses pembelajaran saat menjalankan PSE adalah guru dapat mengelola dan mengendalikan sosial dan emosional sebelum dan setelah kegiatan belajar mengajar. Selain itu, guru dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan sosial dan emosional di sekolah. PSE ini dapat dilakukan untuk menemukan solusi dari masalah yang dihadapi oleh warga sekolah. Melalui teknik STOP yang disampaikan pada materi PSE ini, guru dan warga sekolah akan belajar lebih tenang dan fokus dalam menghadapi sebuah permasalahan serta mencari solusinya.

Future (Penerapan)

Melalui pembelajaran modul 2.2 ini, saya akan belajar melakukan PSE dengan lebih baik bersama seluruh komunitas sekolah. Hal yang akan saya lakukan diantaranya:

  • Mengelola emosi dengan menerapkan teknik STOP.
  • Memperbaiki pola pikir saya yang pada awalnya mengabaikan PSE dalam kegiatan belajar dan mengajar, menjadi peduli penerapan PSE sehingga murid merasa aman, nyaman, dan bahagia dalam belajar.
  • Merancang pembelajaran melalui RPP yang menerapkan KSE untuk dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar.
  • Berbagi hal baik dan diskusi bersama rekan sejawat dalam penerapan PSE sehingga dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi yang baik dan efektif, serta menjalin hubungan positif.

Kesimpulannya, kita sebagai guru perlu menata emosi murid agar prestasi/potensi yang dimiliki murid dapat tergali, sebab bagaimana seorang murid dapat mencapai tujuan jika pikiran dan perasaannya menimbulkan kegelisahan.   

Demikian refleksi dwi mingguan modul 2.2, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

CGP Angkatan 7

Kamis, 23 Februari 2023

2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi)




Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.”

(Arthur Aufderheide)



Setiap manusia punya pikiran dan rasa yang berbeda untuk mengontrol dirinya, maka hubungkan perbedaan itu menjadi suatu keselarasan.  



Menuliskan koneksi antar materi modul 2.1 menjadi penghubung bagi jalan pengetahuan yang akan membelajarkan Saya untuk mampu merangkul kemampuan murid sesuai kebutuhannya. Mudahkah? Setelah mengikuti materi dalam modul 2.1 ini tentang pembelajaran berdiferensiasi. Guru hendaklah dapat memetakan kebutuhan belajar murid. Pada dasarnya, setiap murid istimewa, dengan segala perbedaan, mereka akan tumbuh sesuai dengan kodratnya masing-masing. Potensi murid akan dapat tergali, ketika lingkungan "mengundang" mereka untuk belajar. 

Guru sebagai pendidik bertindak sebagai fasilitator dalam memberikan pemahaman materi kepada murid dan memfasilitasi agar semua murid mampu memproses ide atau informasi yang diperolehnya, serta mampu mengembangkan suatu produk sesuai dengan kemampuan muridnya masing-masing. Untuk itu, pada pembelajaran berdiferensiasi, perlu persiapan atau strategi pembelajaran yang tepat dari guru baik meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan belajar murid.

Apa itu pembelajaran berdiferensiasi?

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi dibuat oleh guru sebagai serangkaian keputusan yang dibuat terkait dengan kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Pembelajaran berdiferensiasi dilakukan untuk mendukung semua murid di kelas, agar murid berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing.




Guru perlu memahami kebutuhan belajar murid untuk melakukan pemetaan. Dasar pemetaan kebutuhan belajar murid dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi meliputi tiga hal, yaitu:

  1. Kesiapan Belajar Murid

Sebelum mempelajari materi atau topik, guru perlu memetakan kebutuhan murid. Dalam hal ini, guru harus mendiagnosa kesiapan belajar murid, menilai pengetahuan awal, menentukan apa yang murid ketahui, dan di mana murid berada. Misalnya, pada diferensiasi konten, ada murid yang sudah siap mempelajari materi yang di dalamnya terdapat masalah berupa tantangan atau kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Ada juga murid yang mungkin masih perlu mempelajari hal-hal yang mendasar dalam memahami materi. Tentunya, perbedaan kognitif dari murid membantu guru untuk mempersiapkan bahan ajar, cara atau strategi yang dapat mengakomodir kebutuhan tersebut dalam pembelajaran. Jumlah bantuan atau dukungan yang diberikan guru kepada murid menyesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar murid itu sendiri.

  1. Minat Murid

Hal lain yang perlu dilakukan sebelum melakukan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru perlu memetakan murid berdasarkan minat belajarnya. Minat murid pasti berbeda-beda. Minat menjadi motivasi penting bagi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, ada murid yang senang belajar seni, olah raga, sains atau bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini, guru harus siap untuk memfasilitasi kebutuhan murid tersebut. Guru dapat memberikan pilihan kepada muridnya untuk belajar sesuai dengan minatnya, misalnya dalam menghasilkan produk. Dalam diferensiasi produk, murid menghasilkan produk sebagai bentuk pencapaian tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan minat belajar murid masing-masing. Murid diberikan kebebasan dalam belajar. Murid bebas menghasilkan produk baik berupa teks atau tulisan seperti artikel, narasi, karangan atau bentuk produk lain yang sesuai minat belajarnya seperti audio, video, poster, mind mapping dan lainnya baik secara individu maupun secara berkelompok selama produk tersebut merujuk pada indikator atau standarisasi minimum penilaian.

  1. Profil Belajar Murid

Pemetaan kebutuhan murid berdasarkan profil belajar murid berkaitan dengan lingkungan, budaya, gaya belajar, dan kecerdasan majemuk. Gaya belajar murid beragam atau bervariasi, yaitu murid sebagai pembelajar visual, auditori, dan kinestetik. Misalnya pada diferensiasi proses, untuk murid yang memiliki gaya belajar visual maka pada proses pembelajaran guru dapat memberikan materi dengan menggunakan media berupa gambar-gambar, tampilan slide power point, grafik dan sebagainya yang membantu murid dalam belajar dan mengaitkan konsep satu dengan yang lainnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Demikian pula, untuk murid yang memiliki gaya belajar auditori maka guru dapat memberikan materi menggunakan atau diiringi dengan musik. Sedangkan untuk murid sebagai pembelajar kinestetik, gaya belajar murid lebih cenderung menggunakan gerakan (motorik).

Dengan ketiga dasar pemetaan tersebut, guru akan mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai, yaitu mampu mengakomodasi segala perbedaan dari murid, apa yang dibutuhkan oleh murid dalam belajar, dan apa yang dapat dilakukan oleh murid terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, serta bagaimana guru dapat merespon seluruh kebutuhan belajar murid yang berbeda tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru harus melakukan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. Namun, dalam melakukan praktik pembelajaran berdiferensiasi tentunya harus dilakukan secara efektif dan efisien, mempertimbangkan moda, usaha, dan waktu yang digunakan.

Bagaimana cara untuk dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi di kelas?

Untuk menjalankan pembelajaran berdiferensiasi dengan baik, maka guru hendaknya:

  1. Memahami tujuan pembelajaran
  2. Mengetahui dan merespon kebutuhan belajar murid, melalui tiga aspek, yaitu kesiapan belajar murid, minat murid, dan profil belajar murid
  3. Menggunakan 3 strategi pembelajaran berdiferansiasi, yaitu diferensiasi konten, proses, dan produk
  4. Menciptakan lingkungan belajar yang "mengundang" murid untuk belajar
  5. Melakukan manajemen kelas yang efektif
  6. Merancang RPP berdiferensiasi
  7. Melakukan penilaian berkelanjutan
Kebutuhan belajar murid dapat diidentifikasi berdasarkan cara-cara berikut:
  1. Mengamati perilaku murid-murid
  2. Mengidentifikasi pengetahuan awal
  3. Mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran
  4. Berbicara dengan guru murid di kelas sebelumnya
  5. Membaca rapor murid di kelas sebelumnya
  6. Menggunakan berbagai penilaian diagnostik dan formatif 

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas, dengan menggunakan strategi pembelajaran berikut:

1. Diferensiasi konten
Diferensiasi konten berkaitan dengan apa yang guru ajarkan, seperti materi, konsep atau keterampilan yang perlu dipelajari berdasarkan kurikulum. Mendiferensiasi konten dapat dilakukan dengan membedakan pengorganisasian atau format penyampaiannya bukan mengubah/menurunkan standar kurikulum.

2. Diferensiasi proses
Diferensiasi proses adalah kegiatan yang memungkinkan murid berlatih dan memahami atau memahami konten, dengan cara membedakan proses yang harus dijalani oleh murid.

3. Diferensiasi produk
Diferensiasi produk adalah bukti yang menunjukan apa yang telah murid pahami dengan cara membedakan/memodifikasi produk sebagai hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.

Guru dapat memilih salah satu atau mengkombinasi ketiga strategi pembelajaran tersebut.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal, jika pembelajaran berdiferensiasi ini dilakukan dengan efektif dan efisien maka semua murid akan merasa aman dan nyaman dalam belajar serta pemenuhan kebutuhan murid dapat terwujud. Tidak ada murid yang merasa diistimewakan atau sebaliknya. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini juga akan memberikan kemudahan bagi guru dalam memetakan dan mengakomodasi seluruh kebutuhan murid untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang selalu berubah.

Bagaimana keterkaitan antara modul pembelajaran berdiferensiasi dengan modul lain di program Pendidikan Guru Penggerak?

Untuk dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi,maka guru harus berusaha memenuhi kebutuhan belajar murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman berdasarkan filosofi Ki Hadjar Dewantara. Dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru penggerak harus berpihak pada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif, dan inovatif untuk menciptakan pembelajaran berdiferensiasi agar dapat memenuhi kebutuhan murid. Dengan demikian, seorang guru penggerak dapat mewujudkan kepemimpinan murid dengan menuntun murid merdeka belajar. Hal ini sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.

Pembelajaran berdiferensiasi pun dapat menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan visi guru penggerak yang berpihak pada murid. KI Hadjar Dewantara menjelaskan tujuan pendidikan, yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan visi guru penggerak yang berpihak pada murid, tentu akan terwujud pembelajaran yang berpihak pada murid, yaitu suatu pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan yang berbeda-beda pada murid, yaitu pembelajaran berdiferensiasi. 

Dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi antara guru dengan murid harus ada kesepakatan kelas terlebih dahulu agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai dengan nilai-nilai budaya positif. Murid belajar membudayakan hal baik, saling menghargai perbedaan, agar tujuan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan diterima oleh semua murid tanpa terkecuali. Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman akan membantu murid untuk merasa dihargai dan memiliki keterkaitan antara dirinya dengan guru maupun dengan teman di kelasnya, sehingga murid merasa dirinya menjadi bagian dari lingkungan terbaiknya. Maka guru dapat menerapkan posisi manajer untuk mengelola pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid.


Pembelajaran diferensiasi memerlukan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi yang berkelanjutan. Guru hendaklah belajar untuk semakin membuka diri dalam memperbaiki proses pembelajaran. Semua perjalanan butuh tenaga dan sarana untuk sampai suatu tujuan. Tujuan modul 2.1 ini adalah memerdekakan murid melalui pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda.

Semoga koneksi antar materi modul 2.1 membawa hal baik untuk saya khususnya, untuk pembaca pada umumnya. Salam sehat dan bahagia. Untuk Bapak/Guru hebat di seluruh Indonesia.

Eulis Anggunsari😊



    

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...