Jumat, 10 Desember 2021

Membuat Resume Mendunia

 

Resume materi     : 25

Tema                    : Membuat Resume Mendunia

Pemateri               : Ms.Phia

Moderator            : Aam Nurhasanah

Gelombang           : 22            

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

Bersama dua srikandi, Ms Phia dan Bu Aam, pertemuan belajar menulis bersama PGRI asuhan Om Jay ini, bertambah semarak dengan tema yang diusung “Membuat Resume Mendunia.” Teringat sebuah kalimat legenda yang disampaikan oleh bapak bangsa, Soekarno, yaitu “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Peran serta pemuda dalam membangun bangsa yang sudah digagas sejak lama, dan kini generasi abad 21 yang harus meneruskannya. Banyak aspek yang dapat dilakukan untuk bergerak dan maju mengguncangkan dunia. Salah satunya bergerak dalam literasi, membuat buku, menggerakkan cakap membaca dan menulis, niscaya dunia seolah ada di depan mata.

Senin, 29 November 2021, Bu Aam sebagai moderator membuka kegiatan pertemuan menulis dengan semangat. Berimbang dengan narasumber Ms.Phia dengan segudang prestasi, khususnya dalam literasi, berbagi kepada peserta tentang bagaimana membuat resume mendunia.

Ms.Phia dikenal sebagai sang bilingual blogger, dengan kecakapannya berbahasa Inggris. Saat menjadi peserta menulis gelombang 20, beliau satu-satunya peserta yang menulis resume menggunakan bahasa Inggris. Ms. Phia juga menjadi salah satu peserta terbaik alumni gelombang 20 yang membuat 2 buku dengan versi Inggris dan Indonesia. Tulisan beliau bisa dilihat pada link berikut:

https://msphia-bilingualblogger.blogspot.com/2021/09/create-effective-and-professional-e-mail.html

https://msphiablog.wordpress.com/2021/09/08/sukabumi

Tulisan Ms. Phia di WordPress mendapatkan respon yang positif dari beberapa penulis luar negeri. Ms.Phia mendapat kiriman email dari penulis Rusia, Jerman, dan Australia.

Menulis dalam bahasa Inggris merupakan cara MS.Phia dalam memberikan kontribusi dalam dunia literasi. Mengenalkan Indonesia lebih luas dalam tulisannya. Dengan menguasai bahasa Inggris, kita tidak akan dijajah di negara sendiri.

Ms.Phia aktif menulis di blog, yang dapat diakses semua orang di penjuru dunia. Artikel Ms.Phia di blog tentang bagaimana cara bertelepon dalam bahasa Inggris dalam waktu 24 jam memiliki 876 viewers. Tulisannya dapat dilihat pada link berikut:

https://msphia-bilingualblogger.blogspot.com/2021/10/making-phone-call-and-appoinment-in.html.  

Tulisan di blog inilah yang mengangkat karya negeri di mata dunia. Tulisan yang dibaca dan dikomentari oleh penulis asing inilah, dapat dikatakan bahwa tulisan dapat mendunia.

Menulis dengan menggunakan bahasa Inggris mungkin bagi sebagian orang sangatlah sulit. Keterampilan berbahasa ini perlu dipelajari dan dipraktikkan terus menerus sehingga menjadi fasih. Namun ketika mindset “sulit” dalam menulis bahasa Inggris menjadi “mudah”, setiap orang pasti dapat melakukannya, tentu saja dengan niat/kemauan dan usaha yang tak kunjung padam.

Hilangkan pikiran yang merasa insecure dalam berbahasa Inggris. Insecurity itu biasanya muncul karena kita merasa kurang menguasai, kurang bisa, dan kurang-kurang lainnya yang dirasa membebani pikiran. Terlebih karena kita jarang menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian.

Mulailah dari saat ini, lalu lihat yang terjadi! Dengan berani mencoba berbicara atau menulis dalam bahasa Inggris, lambat laun keterampilan berbahasa Inggris kita pun akan meningkat. Jangan ada keraguan, khawatir salah ucap atau sebagainya!  Fokus pada tujuan dan percaya pada kemampuan diri.

Untuk membuat resume/ tulisan kita mendunia selain melalui blog yang dapat dibaca oleh semua orang di penjuru dunia, kita juga harus melakukan peningkatan kemampuan dengan terus belajar. Ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis dalam bahasa Inggris, yaitu antara lain :

1. Google Translate

2. U Dictionary

3. Webster Online Dictionary

4. Oxford Online Dictionary

Dengan aplikasi tersebut, menulis dalam bahasa Inggris semudah seperti menulis dalam bahasa Indonesia. Aplikasi tersebut tidak hanya translate perkata namun dalam kalimat yang panjang pun bisa dilakukan. Walaupun kecanggihan teknologi dengan aplikasi penerjemah sudah mempermudah kegiatan menulis dalam bahasa Inggris, keberadaan seorang translator sangat dibutuhkan karena translatorlah yang bertugas memperindah tulisan berbahasa Inggris tersebut, dengan pemilihan diksi yang sesuai.

Demikian paparan Ms.Phia dalam pertemuan kali ini. Membuat resume/tulisan dapat mendunia, tentu saja jika ditulis dengan bahasa yang konvensional, bahasa yang dapat dimengerti oleh masyarakat dunia, yakni bahasa Inggris. Tulisan bahasa Inggris dengan mengangkat fenomena Indonesia dengan keragamannya akan semakin mengenalkan Indonesia di mata dunia.

“Kini ada generasi literasi yang akan mengguncangkan dunia dengan karyanya!”

Apakah itu kita?

Kamis, 09 Desember 2021

Poin Buku Pada Kenaikan Pangkat PNS

 


Resume materi     : 24

Tema                    : Poin Buku Pada Kenaikan Pangkat PNS

Pemateri               : Imron Rosidi

Moderator            : Dail Ma’ruf

Gelombang           : 22            

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

Pengembangan terhadap profesi yang digeluti, sepatutnya memang terus dilakukan. Pun begitu bagi pengembangan guru, agar mendapatkan angka kredit/poin untuk kenaikan pangkat, khususnya bagi PNS, maka perlu adanya Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Buku termasuk sebagai penyumbang poin dalam kenaikan pangkat PNS. Wah, selaras dengan kegiatan belajar menulis bersama PGRI asuhan Om Jay ini, belajar menulis buku, yang mudah-mudahan dapat bermanfaat, salah satunya bagi kenaikan pangkat melalui buku. Yuk, simak penjelasan narasumber.

Pertemuan ke 24, ditemani oleh moderator Bapak Dail Ma’ruf yang memandu kegiatan dari awal hingga akhir pertemuan. Moderator menyapa peserta dan mengenalkan narasumber. Narasumber pertemuan ini adalah Bapak Dr Imron Rosidi M.Pd, lahir di Surabaya, 10 Juni 1966. Beliau adalah kepala sekolah di SMAN 1 Bangil dan sebagai salah satu tim penilai angka kredit pusat untuk kenaikan pangkat IV c sampai IV e dan ketua tim penilai angka kredit di Provinsi Jawa Timur. Beliau aktif dalam menyumbangkan buku dalam memajukan literasi, seperti buku–buku pelajaran SMP dan SMA, artikel, dan jurnal ilmiah. Berselancarlah pada profil Bapak Imron berikut ini: http://guru-umarbakri.blogspot.com

Menulis buku, maka lihat apa yang terjadi, “naik pangkat”!



Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) terdiri atas:

1.     Pengembangan diri

Jenis pengembangan diri, yakni melalui MGMP atau KKG dan diklat fungsional.

2.     Publikasi ilmiah

Dalam hal ini, PKB dilaksanakan dengan membuat buku-buku ilmiah. Buku publikasi ilmiah yang dapat meningkatkan poin pada kenaikan pangkat PNS (Permenpan No. PER/16/M.PAN-RB/11/2009), yaitu:

a.     Buku hasil penelitian

b.     Buku pelajaran

c.      Buku pengayaan

d.     Buku pedoman guru



3.     Karya inovatif

Buku karya inovatif yang dapat meningkatkan poin pada kenaikan PNS, yaitu:

a.     Buku kumpulan puisi

b.     Buku kumpulan cerpen

c.      Buku novel

 


Itulah kriteria dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) yang akan membantu dalam kenaikan pangkat. Siapkan diri untuk membuat buku!

Unsur PKB untuk kenaikan pangkat pengembangan diri wajib dipenuhi untuk golongan III b sampai IV e. Sedangkan untuk publikasi ilmiah dari III b sampai III d bebas karya publikasi ilmiah dan karya inovatif sesuai dengan buku IV. Sedangkan dari golongan III d ke IV a wajib melakukan penelitian minimal satu dan kriteria 50% karya inovatif. Untuk gambaran jelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

 


 


Bagaimana buku-buku tersebut dinilai, berikut ketentuannya:

1.     Syarat buku publikasi ilmiah yang akan dinilai

a.     Buku hasil penelitian yang akan dinilai adalah mengubah laporan penelitian dalam bentuk buku.

b.     Buku pelajaran yang akan dinilai adalah buku dengan ISBN lengkap misalnya buku kelas 1 SD – 3 SD, buku kelas 4 SD – 6 SD, kelas VII SMP– IX SMP dan kelas X SMA – XII SMA.

c.      Buku pengayaan yang akan dinilai adalah buku–buku terjemahan, modul, dan diktat.

ü   Karya terjemahan memiliki angka kredit 1

ü   Modul dan diktat memiliki angka kredit 0,5

ü   Buku pendidikan memiliki angka kredit 1,5

d.     Buku pedoman guru memiliki angka kredit 1,5

2.     Syarat buku karya inovatif yang dinilai



3.     Angka kredit buku publikasi ilmiah







Bagaimana mengubah laporan penelitian menjadi buku ISBN, yang juga mempengaruhi poin pada kenaikan pangkat, simak penjelasan melalui table berikut:



Demikian uraian yang disampaikan narasumber pada pertemuan ini, yang menambah wawasan, khususnya untuk PNS dalam meningkatkan dan mengembangkan keprofesiannya. Lakukan yang terbaik, jujur, dan penuh tanggung jawab, sebab kenaikan pangkat adalah bonus dari kerja keras.

“Menulislah untuk poin terbaikmu!”


Menjadi Penulis Penerbit Mayor

 

Resume materi     : 23

Tema                    : Menjadi Penulis Penerbit Mayor

Pemateri               : Joko Irawan Mumpuni

Moderator            : Mr. Bams

Gelombang           : 22            

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

Salam literasi! Jika pertemuan sebelumnya disampaikan tentang dapurnya penerbit mayor, nah, pada pertemuan kali ini, Rabu, 24 November2021, kita akan membahas bagaimana menjadi penulis penerbit mayor. Ingin tahu tipsnya? Yuk, simak materi kali ini!

Kegiatan diawali dengan sapa hangat dari Mr Bams selaku moderator, memotivasi untuk mengikuti kegiatan dengan baik. Narasumber yang membersamai kita pada pertemuan kali ini adalah Bapak Joko Irawan Mumpuni, yang akan menyampaikan materi dengan tema “Menjadi Penulis Penerbit Mayor.”

Menjadi penulis penerbit mayor merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang penulis. Narasumber memberikan tips bagaimana mengantarkan tulisan kita kepada penerbit mayor, yaitu:

1. Pertimbangan naskah yang akan dipilih penerbit



Kriteria terbesar ada di peluang pasar dan reputasi penulis. Reputasi penulis berkaitan dengan nilai jual buku, oleh karena itu penerbit akan cek CV dari penulis tersebut kemudian mengkonfirmasi dengan data google cendekia, akun sosmednya berapa followernya, berapa jumlah pertemanannya, berapa jumlah subscribernya dll. Berikut contoh gambar penulis yang memiliki angka tinggi di google cendekia:





2. Peluang potensi pasar merupakan kriteria yang penting menjadi pertimbangan penerbit. Hal yang terkait dengan hal ini adalah tema tulisan. Pilih tema yang sedang ngetrend, maka akan disukai pembaca. Kita dapat memanfaatkan google trend untuk menelusurinya. Contoh tema yang sedang ngetrend saat ini :



3. Cermati pergeseran perilaku konsumen karena akan berpengaruh pada peluang potensi pasar.



4. Format buku apa yang sering dibeli masyarakat juga berpengaruh terhadap potensi pasar.

 


5. Perhatikan jenis tulisan yang digemari masyarakat karena akan berpengaruh terhadap pemilihan tema buku yang banyak dicari pembeli.

 


6. Tema dengan daur hidup panjang serta memiliki pasar yang luas akan berpengaruh terhadap Oplah (jumlah eksemplar dicetak) dan ini akan menjadi pertimbangan penerbit.


 

Itulah tips-tips bagaimana sebuah tulisan dapat diterbitkan oleh penerbit mayor. Penulis harus cermat dalam mengusung tema dan mengolah tulisan secara lebih menarik sesuai tema-tema yang sedang trend/ berkembang.

Menjadi seorang penulis tentu saja merupakan hal yang membanggakan. Ada kepuasan tersendiri ketika dapat menuliskan sesuatu yang dapat diterima oleh pembacanya. Berikut keuntungan dalam menulis:

a.     Kepuasan atau kebutuhan batin : buku merupakan karya monumental yang akan selalu dikenang.

b.     Reputasi : buku yang berhasil publish akan meningkatkan reputasi penulisnya.

c.      Karier : peningkatan status jabatan, peningkatan karier di institusi/ perusahaan.

d.     Uang : royalty, diskon pembelian langsung, mengajar/ seminar.        

Semoga dapat memotivasi kita dalam mewujudkan karya. Kata motivasi dari Pramoedya Ananta Toer:

“Orang boleh pandai setinggi langit, namun kalau tidak menulis akan hilang ditelan masa dan sejarah.”

Mari mulai dan lakukan, sebab suatu saat nanti, dalam ribuan kilometer perjalanan, kita telah membuat satu tanda atas jalan yang telah dilalui, jalan itu bernama “MENULIS”!

 

Selasa, 07 Desember 2021

Menguak Dapur Penerbit Mayor

 


Resume materi     : 22

Tema                    : Menguak Dapur Penerbit Mayor

Pemateri               : Edi S. Mulyanta

Moderator            : Helwiyah

Gelombang           : 22            

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

Perjalanan menulis dalam pertemuan ke 22, menyimak tentang “Menguak Dapur Penerbit Mayor.” Seperti apa, ya, dapurnya penerbit mayor? Yuk, simak paparan dari narasumber, yakni Bapak Edi S. Mulyanta, dan didampingi oleh moderator Ibu Helwiyah, yang akan memandu kegiatan pada pertemuan kali ini.

Mengenal narasumber, inilah Bapak Edi S Mulyanto, M.T., lahir di Yogjakarta pada tanggal 24 Mei 1969. Mengeyam pendidikan S1 Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 1994, S2 Magister Tekhnologi Informatika Fakultas Elekto UGM Yogyakarta tahun 2006, dan saat ini menjabat sebagai Publising Consultant Andi Publisher. Berikut profil beliau:

https://www.pbuandi.com/2021/11/edi-s-mulyanta.html?view=flipcard

 

Perjalanan menulis ini, telah memberikan pengalaman tentang arti menulis, seberapa sulit menulis, hingga bagaimana hasil dari kegiatan menulis, dapat didokumentasikan secara lebih bermakna melalui sebuah buku. Buku yang dapat bermakna untuk diri kita sendiri, dan mungkin juga untuk orang lain yang membacanya.

Peran penerbitlah yang mendukung tujuan dari penulis untuk bisa merealisasikan cita-citanya untuk membuat buku. Buku yang dapat diterbitkan oleh penerbit mayor, merupakan pencapaian yang luar biasa bagi penulis. Bagaimana peran serta dari penerbit mayor tersebut, mari kita masuk dalam dapurnya.

Dalam era covid 19 ini memang cukup berat bagi semua penerbit, baik penerbit skala kecil hingga penerbit mayor. Semua berlomba untuk hanya sekadar bertahan hidup, dari terpaan covid yang tanpa mengenal pandang bulu serta berimbas ke berbagai sektor. Penerbit-penerbit berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan dan tetap eksis.

Hal tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk mengubah haluan visi dan misi mereka ke arah yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang lebih cepat dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum. Beberapa penerbit yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, akhirnya mencoba mengurangi intensitas terbitan bukunya, akhirnya berimbas pula ke jumlah produksi buku mereka, dan memukul pula pendapatan atau omzet buku mereka. Penerbit buku di bawah IKAPI adalah penerbit yang mementingkan UUD (Ujung-ujungnya Duwit) untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara otomatis cash flow akan terganggu, sehingga banyak penerbit akhirnya berpindah haluan ke usaha yang lain.

Tugas dari penerbitan adalah memberikan layanan industri, dalam menerbitkan atau mempublikasikan hasil tulisan karya tulis dari penulis. Penerbit hanyalan intermediary atau perantara dalam proses publikasi sebuah tulisan. Tugas penerbit adalah menghasilkan keuntungan dalam setiap terbitannya. Baik itu penerbit mayor maunpun indie, pada dasarnya konsep penerbitan keduanya sama, yaitu mempublikasikan hasil tulisan dari penulis yang menjadi mitranya.

Yang membedakan jenis penerbit adalah jumlah atau skala produksi setiap penerbit yang tergabung dalam anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tersebut. Skala produksi ini tercermin dalam ISBN setiap buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut. Melalui ISBN ini dapat diketahui penggolongan skala produksi buku yang dihasilkan setiap tahunnya. ISBN dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional, yang diberikan hak oleh negara untuk memberikan nomor-nomor yang dikuasainya tersebut untuk dibagikan kepada penerbit di Indonesia.

Nah, angka di publication element tersebut adalah jumlah produksi buku yang dapat dilakukan oleh penerbit tersebut. Melalui angka ini terlihat berapa kekuatan produksi buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit.

Secara materi terbitan, sebenarnya tidak ada bedanya antara penerbit mayor dan minor. Hanya terkadang penerbit tertentu memilih spesialisasi pada Genre tertentu untuk lebih fokus dalam produksi maupun pemasarannnya. Penerbit mayor memiliki jumlah produksi cukup besar, akhirnya mempunyai saluran pemasaran yang cukup beragam yang sering disebut Omni Channel Marketing selain tentunya outlet di toko buku.

Penerbit mayor tetap berkembang selama masa pandemi, sebab pemasaran buku beralih ke online. Saluran toko buku mengalami kontraksi yang cukup dalam, sehingga saluran outlet toko buku pun menyesuaikan dengan berpindahnya proses pemasaran ke sistem online, maupun digitalisasi materi dalam bentuk media lain selain tulisan.

Tantangan ini cukup berat bagi penerbit-penerbit dengan skala kecil, yang hanya menggantungkan outletnya di toko buku. Karena imbas dari lock down diberbagai sentra ekonomi, menjadikan saluran penjualan buku semakin sulit bejualan.

Media-media baru sebagai sarana promosi buku pun berkembang seperti channel Webinar, Podcast, IG Live, WA Group seperti group kelas menulis bersama PGRI ini, mejadi media promosi yang luar biasa berkembang. Hal yang unik dari pandemi ini, adalah buku cetak masih menjadi pilihan pembaca dalam memperluas cakrawala pikirnya. Di samping elektronik book yang juga berkembang.

Iklim penerbitan secara umum tidak surut selama pandemi ini. Penerbit mayor selalu tidak kurang dalam menjaring tulisan-tulisan baru yang bermunculan luar biasa banyak selama pandemi.

Tahun pandemi, semangat menulis penulis-penulis baru sangat luar biasa, dengan banyaknya tulisan yang masuk ke penerbit. Hal ini tidak diimbangi dengan pendapatan penjualan buku yang sangat tergerus dengan adanya Covid 19 yang telah mencapai gelombang ke 2 di tahun 2021 ini. Saat awal tahun 2021 penerbit di Indonesia sebenarnya telah mulai bangkit, tercermin dalam pendapatan pada bulan Januari dan Februari yang telah mencapai tahap memantul ke atas. Tetapi sayang masuk di tahap gelombang 2 covid betul-betul meratakan pendapatan ke level yang terendah.

Penerbit pun dengan terpaksa melakukan pengereman produksi yang luar biasa ketat dalam mengantisipasi hal tersebut. Strategi yang dilakukan adalah dengan menyimpan tenaga, energi penulis yang tidak lekang oleh pandemi, dengan tetap melakukan seleksi-seleksi materi buku yang menarik.

Menabung naskah, adalah strategi dalam menghadapi pandemi, walaupun ada hal yang harus dikorbankan yaitu proses cetak fisik buku yang terkendala. Hal ini disiasati dengan menerbitkan E-Book untuk mempercepat proses penerbitan sebuah buku. E-book adalah sarana media digital buku yang masih sangat muda, sehingga proses bisnis yang menyertainya belum bisa mengangkat proses industri perbukuan yang masih ditopang cetak buku fisik.

Ke depan penerbit menyadari, bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan. Hanya proses pemasarannya yang berubah mengikuti zaman. E-book akan tetap menarik karena konsep praktis, ramah lingkungan, dan menjanjikan keterbukaan dalam menerima media-media lain sebagai media pengayaannya. Google dengan sigap juga telah mencoba peruntungannya di era digital ini, yaitu dengan Google Booksnya menjadikan konsep digitalisasi e-book sudah mencapai ke industrialisasi digital masa depan.

Hal yang menjadi tantangan penerbit buku di era digital, yaitu:

a.     Cepat dalam menguasai teknologi.

b.     Gunakan konsep multimedia.

c.      Pengawinan antara media-media baru.

d.     Menjadikan buku akan semakin mengecil secara fisik.

Sebagai penulis, harus memberikan pengayaan-pengayaan tidak hanya kemampuan tulis belaka. Akan tetapi pengembangan di sisi penulis harus diberdayakan. Seperti penulis mempunyai Blog, Channel Youtube, Twitter, Podcast, bahkan Tiktok yang dapat dijadikan sarana promosi tulisan bukunya. Hal ini akan memberikan rangsangan penerbit untuk tidak mampu menolak tulisan penulis karena followernya banyak, menjadi selebriti di Youtube, atau Selebriti Tiktok. Ke depan materi tulisan tidak akan melulu dijadikan alasan penerbit dalam menerbitkan buku, akan tetapi kemampuan penulis dalam membantu mempromosikan tulisanlah yang menjadi primadona penulis-penulis baru.

Persaingan penerbit akan semakin keras, tidak memandang penerbit mayor maupun minor. Hal ini karena ke depan proses penerbitan bisa dilakukan sendiri oleh penulis. Lihat saja bang Tere Liye yang dapat memproduksi sendiri tulisannya melalui Google Books: https://www.google.com/search?tbm=bks&q=tere+liye

Pelajari karakteristik penerbitnya, dengan melihat hasil-hasil terbitannya. Setiap penerbit mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Penulis adalah makhluk bebas, yang dapat menawarkan ke semua penerbit. Tinggal kepintaran penulis dalam mengatur strategi, kemampuan, dan memilah serta memilah penerbitan. Penulis juga dapat mencoba menuliskan di aplikasi Wattpad, follower pembaca di situ biasanya dipantau oleh penerbit-penerbit mayor.

Penerbit minor, juga tidak kalah kreatifnya dalam menjaring penulis. Dengan banyaknya syarat-syarat kenaikan pangkat guru, dosen, hingga guru besar, menjadikan penerbit-penerbit saling bersaing mengisi peluang tersebut. Hal yang penting sebagai penulis adalah, jaga kejujuran, jaga idealisme, dan selalu belajar dari berbagai genre tulisan orang lain. Mengukur diri, dan menyesuaikan dengan kemampuan diri, menguliknya akan menjadi daya tawar yang baik bagi tulisan saat ditawarkan ke penerbit. Ke depan persaingan penerbit tidak hanya antar penerbit akan tetapi dengan digitalisasi yang menjadikan persamaan derajat antara penulis, penerbit, penyalur, dan pembaca buku.

Penerbit mayor saat ini tidak kekurangan naskah untuk diterbitkan, hanya kekurangan likuidasi dalam memproses naskahnya menjadi sebuah tulisan atau media lain ke pembaca. Sehingga saat ini yang menjadi masalah adalah media apa yang sesuai dalam mendukung sebuah terbitan buku.

Akhirnya, semua unsur dunia penerbitan akan menjadi lebih berwarna dan saling menguntungkan dari penulis, penerbit, hingga pembaca buku dengan terbentuknya dunia digital yang cukup menjanjikan ke depannya. Pesan narasumber jangan segan-segan menawarkan tulisan ke berbagai skala penerbit, karena saat ini konten adalah raja-nya sehingga penerbit memerlukan kesegaran konten yang dapat dikembangkan menjadi komoditas yang menguntungkan.

Demikianlah dapur penerbit yang telah kita masuki. Seperti halnya dapur para penjual yang menyajikan makanan terbaiknya, penerbit pun mengolah sebuah buku dengan bumbu-bumbu pilihan, meramu dan menerbitkannya, sehingga buku dapat bermanfaat dan bernilai jual.


"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...