Selasa, 27 Desember 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - Modul 1.4

 


Modul 1.4        : Budaya Positif

Oleh                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.


Alhamdulillah, tahapan akhir modul 1, yakni pembelajaran modul 1.4 dengan tema "Budaya Positif" telah kulalui. Hal ini merupakan bagian dari perjalananku menempuh pendidikan guru penggerak angkatan 7. Selalu ada cerita dari kisah perjalanan ini. Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:

"Membudayakan yang baik, Memperbaiki Keadaan"   

Ketika menyebut kata "positif" tentu hal yang dibayangkan adalah sesuatu yang baik. Begitu pula, saat kumulai membuka LMS program guru penggerak untuk modul 1.4. Seperti apa budaya positif itu? Bagaimana menjalankannya? Apakah hasilnya? Begitu banyak pertanyaan yang ada, sehingga aku harus memulainya secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA". 

M      = Mulai dari Diri

E      = Eksplorasi Konsep

R      = Ruang Kolaborasi

D      = Demonstrasi Kontekstual

E      = Elaborasi Pemahaman

K      = Koneksi Antar Materi

A      = Aksi Nyata

Dengan mengikuti alur, saya mencoba membudayakan hal yang baik, terutama dalam pembiasaan di sekolah. Memperbaiki keadaan yang tentunya berbeda sebelum dan sesudah saya mengikuti program pendidikan guru penggerak ini. Berikut saya refleksikan pembelajaran modul 1.4 dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Facts (Peristiwa)

Perjalanan mempelajari modul 1.4 ini, dimulai saat fasilitatorku, Bu Yani, menginformasikan untuk membuka LMS melalui pesan udara di grup WA, pada hari Selasa, 6 Desember 2022. Kegiatan tahap mulai dari diri dan eksplorasi konsep dengan melakukan literasi di LMS, menjawab pertanyaan-pertanyaan, refleksi, harapan, dan ekspektasi, ini yang harus aku pelajari. Banyak hal baru, yang tentunya membuatku semakin "tahu" apa yang harus jadi "budaya".

Kemudian bagian peristiwa perjalananku membersamai modul 1.4 ini adalah tahap ruang kolaborasi, pada hari Senin, 12 Desember 2022. Saya dan teman-teman CGP angkatan 7 melakukan diskusi kelompok secara virtual dipandu oleh Bu Yani, sebagai fasilitator. Hal yang kami diskusikan adalah analisis studi kasus dengan menerapkan budaya positif . Melalui diskusi ini, kami belajar untuk menangani permasalahan murid dengan menggunakan posisi kontrol guru dan segitiga restitusi. Kemudian pada hari Selasa, 13 Desember 2022, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya.

Peristiwa yang mengesankan ketika mempelajari modul 1.4 ini adalah ketika melakukan tugas demonstrasi kontekstual bersama murid-muridku, yaitu Khanza dan Kia. Kami melakukan ilustrasi mengenai penanganan masalah murid dengan melakukan praktik segitiga restitusi. Hal baik terjadi melalui praktik ini, di mana saya mulai memahami dan belajar menangani permasalahan murid dengan lebih terbuka, mengidentifikasi masalah dan mencari solusi bersama dengan murid. Alhamdulillah, murid-muridku tampak bersemangat dalam mengikuti kegiatan ini.

Yuk, simak praktik segitiga restitusi Kami!

Pemahaman terhadap budaya positif dikuatkan melalui tahap elaborasi pemahaman bersama instruktur, Bapak Suhartono, pada hari Jumat, 16 Desember 2022. Kami CGP Angkatan 7 dari Provinsi Banten, diberikan penjelasan materi budaya positif, kemudian ada tanya jawab antarpeserta dan instruktur. Selanjutnya, saya tuangkan materi yang saya pelajari secara mandiri maupun diskusi bersama fasilitator dan instruktur, melalui tahap koneksi antar materi. Saya pun menyiapkan rancangan untuk tindakan aksi nyata yang akan saya lakukan pada bulan Januari 2023. Harapan saya semoga rangkaian aksi nyata yang akan saya lakukan akan berjalan lancar.

Hambatan yang terjadi saat mempelajari modul 1.4 ini, karena pada saat yang sama, di sekolah sedang mengadakan kegiatan PAS 1 (Penilaian Akhir Semester). Kemudian sebagai wali kelas saya harus mempersiapkan untuk pembagian rapor pada tanggal 17 Desember 2022. Bismillah, saya niatkan diri untuk melakukan keduanya. Rekan guru memberikan dukungan agar saya dapat menyelesaikan tugas sebagai wali kelas dan CGP. Alhamdulillah, rapor semester 1 dapat diselesaikan dan sudah diberikan kepada orang tua. Tugas CGP pun sudah dapat diselesaikan hingga koneksi antar materi. Berlanjut, nanti di bulan Januari akan melakukan aksi nyata.

Feelings (Perasaan)

Perasaan saya ketika mempelajari modul 1.4 ini awalnya cukup terkejut karena banyaknya materi yang harus dipelajari dan dikerjakan dalam modul ini. Namun, setelah mempelajarinya satu persatu, saya semakin tertarik, bahwa materi-materi ini memang saling berkaitan. Hal ini membudayakan pikiran dan hati untuk bebenah diri. "Membudayakan yang baik, memperbaiki keadaan." Ada hal yang dulu saya lakukan terhadap murid, yang ternyata kurang tepat, dan waktunya sekarang untuk memperbaiki keadaan tersebut. Berdasarkan materi posisi kontrol guru yang saya pelajari, dulu saya menggunakan posisi kontrol penghukum dan pemantau. Di mana melalui posisi ini, saya dengan cepat dapat menyelesaikan masalah murid dengan memberikan hukuman/konsekuensi. Namun, setelah saya mempelajari materi ini, hendaklah kita sebagai guru dapat menggunakan posisi kontrol manajer. Perlu bagi guru berada pada posisi manajer dalam menjalankan kedisiplinan serta mampu melakukan pendekatan segitiga restitusi agar motivasi yang tumbuh pada murid adalah motivasi internal. Dengan posisi manajer ini, guru telah menerapkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yaitu "menuntun". Menuntun murid sebagai manajer bagi dirinya sendiri untuk dapat bertanggung jawab dan menemukan solusi atas permasalahannya sendiri sehingga tercipta identitas sukses/positif. Jika masih dalam tahap posisi kontrol penghukum dan pemantau, murid masih termotivasi secara eksternal dan kemungkinan akan melakukan kesalahan secara berulang.

Mempelajari modul 1.4 ini, saya senang dapat memahami budaya positif sebagai kebiasaan baik yang harus dilakukan di sekolah. Budaya positif hadir untuk menciptakan lingkungan sekolah yang baik, sehingga seluruh warga sekolah merasa aman dan nyaman berada di sekolah. Budaya positif akan mendukung tercapainya visi sekolah. Sebagaimana dijelaskan dalam modul 1.3 tentang visi guru penggerak bahwa warga sekolah dapat melakukan perubahan positif secara kolaboratif dan berbasis kekuatan, melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). Visi sekolah harus sesuai dengan filosofi pendidikan KHD (modul 1.1), yaitu untuk berpihak kepada murid, memerdekakan murid, mendorong terciptanya merdeka belajar, dan membentuk profil pelajar pancasila. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus senantiasa menerapkan nilai dan peran guru penggerak (modul 1.2) menjadi teladan, membangun kolaborasi dengan seluruh warga sekolah sehingga budaya positif dapat terwujud.

Findings (Pembelajaran)

Banyak hal yang saya pelajari dalam modul 1.4 terlebih dalam menciptakan budaya positif di sekolah. Bagaimana menjalankan budaya positif di sekolah? Tentu guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan yang positif. Budaya positif dapat dijalankan dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, teori kontrol, memahami motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol seorang guru, keyakinan sekolah/kelas, dan melaksanakan segitiga restitusi terhadap penyelesaian masalah.

Berikut konsep inti pembelajaran modul 1.4 tentang budaya positif, antara lain:

1. Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan

Disiplin positif mengajarkan murid bertanggung jawab dan menumbuhkan kesadaran diri berdasarkan nilai-nilai kebajikan. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang. Nilai-nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia dikenal dengan Profil Pelajar Pancasila, yaitu 

- Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia

- Mandiri 

- Bernalar Kritis 

- Berkebinekaan Global 

- Bergotong royong 

- Kreatif

2. Teori Kontrol/Teori Pilihan (Dr. William Glasser)

  • Anda tidak bisa mengontrol orang lain, hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda.
  • Semua perilaku memiliki tujuan.
  • Model berpikir menang-menang, kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru.
  • Realitas (kebutuhan) kita berbeda. Kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia. Setiap orang memiliki gambaran berbeda.

3. Teori Motivasi Perilaku Manusia

Teori motivasi perilaku manusia, antara lain:

  • Untuk menghindari ketidaknyamanan/hukuman
  • Untuk mendapatkan imbalan/ penghargaan dari orang lain
  • Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya

4. Posisi Kontrol Guru

Berikut 5 (lima) posisi kontrol guru, yaitu:

  • penghukum
  • pembuat merasa bersalah
  • teman
  • pemantau
  • manajer

5. Kebutuhan Dasar Manusia

Berikut 5 (lima) kebutuhan dasar manusia, yaitu:

  • bertahan hidup
  • kasih sayang dan rasa diterima
  • kebebasan
  • kesenangan
  • penguasaan 

6. Keyakinan kelas

Untuk mendukung motivasi intrinsik, kembali ke nilai-nilai/keyakinan-keyakinan lebih menggerakkan seseorang dibandingkan mengikuti serangkaian peraturan-peraturan. Keyakinan kelas/sekolah merupakan ketetapan yang telah disepakati, berupa pernyataan universal yang mudah diingat, dipahami, dan diterapkan. Guru berperan dalam terbentuknya keyakinan kelas/sekolah berdasarkan kesepakatan bersama antara guru dan murid. Murid dapat mencurahkan pendapatnya, sehingga terjadi proses disiplin positif dengan adanya kesadaran dari murid untuk melaksanakan keyakinan kelas dengan penuh tanggung jawab.

7. Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Gossen; 2004). Guru yang memposisikan diri sebagai manajer menggunakan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah. Berikut segitiga restitusi:

  • menstabilkan identitas
  • validasi tindakan yang salah
  • menanyakan keyakinan



Dengan mempelajari modul 1.4 ini, hal baru yang akan saya kembangkan dalam diri saya adalah menangani masalah murid dengan segitiga restitusi. Guru hendaklah memposisikan diri sebagai manajer menggunakan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah, yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan agar murid dapat mandiri dan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan. 

Saya pernah memberikan stiker bintang kepada murid jika melakukan hal baik. Saya mengganggapnya sebagai suatu keberhasilan karena murid melakukan tindakan baik. Ternyata hal itu kurang tepat. Berdasarkan teori motivasi yang telah saya pelajari, ternyata hal tersebut membuat murid "dihukum oleh penghargaan". Dihukum oleh penghargaan dapat berdampak kurang baik, karena penghargaan yang berlebihan dapat merusak hubungan, menurunkan kualitas, mematikan kreatifitas, dan mengurangi motivasi intrinsik. Murid baru ada ditahap termotivasi eksternal melalui bujukan, sehingga terjadi ketergantungan. Respon murid akan berbeda, ketika kegiatan tersebut tidak lagi diberikan penghargaan (stiker bintang). Untuk itu, saya belajar untuk dapat mengembangkan motivasi murid, dengan meminimalkan penghargaan.

Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.4, yaitu tentang budaya positif. Maka saya akan berusaha menerapkan dan mewujudkan budaya positif di sekolah. Saya akan berusaha mengembangkan diri dan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah untuk mewujudkan budaya positif. Tindakan yang akan saya lakukan setelah mempelajari materi modul 1.4, antara lain:

  1. Membentuk keyakinan kelas bersama murid.
  2. Berkolaborasi dengan guru BK dalam menangani masalah murid dengan menggunakan segitiga restitusi. 
  3. Melakukan sosialisasi dengan rekan guru tentang budaya positif di sekolah (akan dilaksanakan bulan Januari 2023).

Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.4, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.

Senin, 05 Desember 2022

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan (Modul 1.3)

 


Modul 1.3 : Aku dan Visiku

Salam dan bahagia, saya Eulis Anggunsari CGP Angkatan 7. Alhamdulillah, saya telah membersamai modul 1.3 dengan tagline, "Bagaimana saya bermimpi?" Ya, itulah yang saya pelajari di modul ini. Mimpi yang kemudian disusun melalui visi, yang coba saya implementasikan di sekolah. Mudahkah? tidak semudah membalikkan telapak tangan kawan. Untuk itu, saya coba refleksikan pembelajaran modul 1.3 dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:

1. Facts (Peristiwa)

2.Feelings (Perasaan)

3.Findings (Pembelajaran)

4.Future (Penerapan)


Berikut pengalaman saya mempelajari modul 1.3, yang saya tulisakan dalam bentuk refleksi model 4F:

1. Facts (Peristiwa)

Surat cinta dari fasilitatorku Bu Yani, bersenandung di grup WA pada tanggal 22 November 2022, tanda awal menyambut modul 1.3. Beliau menyemangati para CGP untuk memulai pembelajaran dengan berliterasi di LMS. Membuka pemahaman awal pada tahap mulai dari diri dan eksplorasi konsep secara mandiri. Kata yang pertama muncul adalah "visi". Diilustrasikan bagaimana dulu sewaktu kecil pernah bermimpi akan suatu cita-cita, yang menjadi keinginan untuk mencapainya. Padahal, kita belum tahu apakah hal itu dapat dicapai atau tidak. Seperti itulah visi, harapan kita di masa depan.

Dalam tahapan mulai dari diri, saya berimajinasi tentang bagaimana murid di masa depan. Harapan pendidikan yang berpihak pada murid dengan landasan inisiatif perubahan. Pendidikan yang saya impikan agar murid dapat bertingkah laku sesuai profil pelajar pancasila. Mimpi besar tentang bagaimana ekosistem sekolah dapat saling bekerja sama mewujudkan suatu visi.      

Kolaborasi ....

Kata yang penting untuk diresapi sebagai penguatan dalam membentuk "Visi Guru Penggerak".   

Dalam tahapan eksplorasi konsep secara mandiri, saya tertarik dengan video penjelasan mengenai pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA untuk membuat prakarsa perubahan dalam mewujudkan visi guru penggerak. Kemudian dikuatkan oleh fasilitator dalam forum diskusi virtual pada tanggal 25 November 2022. Saya bersama rekan CGP lain berdiskusi menyusun visi guru penggerak, menentukan prakarsa perubahan, dan menuliskan tahapan BAGJA, kemudian dipresentasikan pada tanggal 28 November 2022. Peristiwa ini menguatkan saya untuk semakin berinovasi menyusun visi yang nantinya dapat saya implementasikan di sekolah. 

Dalam vicon elaborasi pemahaman pada tanggal 1 Desember 2022, bersama instruktur Bapak Faisal Bahar, saya berkumpul dengan CGP lain untuk menguatkan pemahaman pembelajaran modul 1.3. Melalui penjelasan materi dan tanya jawab, saya belajar menyusun visi yang berbasis aset/kekuatan yang ada di sekolah. 

2.Feelings (Perasaan)

Perasaan saya selama mengikuti pembelajaran modul 1.3 cukup antusias, karena saya mencoba menggali impian yang ingin dicapai terhadap murid. Walau awalnya tidak mudah, sebab menyusun visi dengan tujuan yang berpihak pada murid, tentu harus melibatkan banyak pihak, intinya kita harus mampu menggerakkan ekosistem sekolah untuk mensukseskan visi yang kita buat. Dalam menerapkan aksi nyata untuk modul 1.3, saya semakin mengeratkan kolaborasi dengan rekan sejawat untuk dapat mewujudkan visi yang saya buat. Menyatukan pikiran dari beberapa orang tentu tidak mudah, namun ketika sudah tercipta ekosistem sekolah dengan rasa kekeluargaan, saya semakin bersemangat dan senang mengikuti pendidikan guru penggerak ini, karena menciptakan hubungan silaturahmi yang semakin erat dengan komunitas warga sekolah.

"Kita bisa, karena kita mau. Hiduplah bermanfaat untuk orang sekitar, sebab itu yang akan Kau tinggalkan sebagai jejak kehidupanmu."

Inilah kutipan motivasiku untuk pembelajaran modul 1.3 ini.

 3.Findings (Pembelajaran)

Banyak hal yang saya pelajari dalam modul 1.3 ini. Terlebih bagaimana saya belajar menyusun visi guru penggerak untuk melakukan perubahan positif di sekolah. 

Untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan visi seorang guru tentu harus melakukan perubahan, terus berinovasi, dan terbuka terhadap perubahan zaman. Mengelola diri sendiri dan terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam lingkaran pengaruh agar bersama-sama berkolaborasi. Mewujudkan visi haruslah dibangun gotong royong antar segenap komunitas orang dewasa di sekitar murid yang mengedepankan kepentingan murid. Hal ini berkaitan dengan peran guru dalam mensukseskannya.

Visi seorang guru haruslah sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat, demi terciptanya student wellbeing.

Seorang guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam mewujudkan visi yang berpihak pada murid sesuai dengan kodratnya (filosofi KHD)Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam hal ini, diperlukan peningkatan kualitas pendidikan untuk membentuk kualitas generasi penerus bangsa yang tangguh. Maka sebagai pedoman, maka dalam menyusun visi yang berpihak pada murid, guru perlu menyelaraskan visi dengan dimensi profil pelajar pancasila.  

Dalam memimpin perubahan positif harus berpikir strategi dan memahami inkuiri apresiatif sebagai paradigma. Inkuiri apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Guru penggerak harus dapat mengoptimalkan potensi/kekuatan yang dimiliki untuk merumuskan sebuah visi. Oleh karena itu diperlukan suatu rancangan/pendekatan yang disebut inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA. Tahapan BAGJA memungkinkan guru penggerak membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan visi yang diimpikan.

Setelah mempelajari modul 1.3 hal baru mengenai diri saya adalah saya harus dapat mengembangkan potensi diri untuk semakin terbuka terhadap hal baru. Mampu bekerja sama dengan orang lain, untuk mewujudkan suatu tujuan. Saya dapat merumuskan visi yang berbasis kekuatan di sekolah, prakarsa perubahan, dan membuat tahapan BAGJA. 

 4.Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.3, yaitu tentang visi guru penggerak. Maka saya akan berusaha menerapkan dan mewujudkan visi impian yaitu:

"Terwujudnya peserta didik yang religius, berkepribadian unggul, dan berjiwa kompetitif dalam era globalisasi."

Dalam mewujudkan visi tersebut, saya akan menerapkan prakarsa perubahan, yaitu "Menumbuhkan kreativitas murid melalui kegiatan lomba antar kelas pararel." Melalui prakarsa perubahan ini, saya menggali kekuatan murid yang memiliki potensi kreativitas, melalui kegiatan yang dapat memotivasi murid untuk semakin berkreasi, yakni dengan kegiatan lomba antar kelas pararel. Dengan begitu, akan muncul bakat murid yang selanjutnya dapat dikembangkan.

Untuk selanjutnya, saya akan berusaha belajar untuk memperbaiki kualitas dari visi yang telah saya buat. Saya akan melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat berpihak pada murid untuk menciptakan rasa nyaman dan semangat belajar pada murid. Saya akan terus mengembangkan inovasi menuju prakarsa perubahan yang lebih baik lagi. Saya berusaha menciptakan iklim harmonis antara rekan sejawat, murid, dan stakeholder, melalui kolaborasi yang baik guna mewujudkan visi dengan perubahan yang positif.

Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.3, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.

Salam dan Bahagia.




  

Visiku (Koneksi antar Materi Modul 1.3)


                                                             Koneksi antar Materi Modul 1.3

                                                               Visi Guru Penggerak

                                                                    Oleh : Eulis Anggunsari

Berbicara visi, saya berangan-angan ketika kecil dulu, mengenai cita-cita. Menurut KBBI, visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan, pandangan atau wawasan ke depan, tentang apa yang tampak dalam khayalan, penglihatan atau pengamatan. Bagaimana saya dulu berharap ingin menjadi apa ketika sudah besar nanti, hal ini didorong atas sugesti penglihatan atau pengamatan yang terjadi di lingkungan sekitar saya saat itu. 

Menjadi guru, tidaklah berhenti pada hanya masuk kelas dan mengajar. Tentu saya juga punya mimpi atau harapan yang ingin diwujudkan di masa depan. Visi harus menjadi kemampuan dalam menciptakan gambaran masa depan yang akan dilakukan untuk mencapai atau mendapatkan sebuah tujuan. Saya melihat, mengamati, apa yang dibutuhkan oleh murid saya, sebagai suatu tujuan.

Bagaimana saya bermimpi akan suatu tujuan mengenai peran saya sebagai guru/pendidik?

Untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan visi seorang guru tentu harus melakukan perubahan, terus berinovasi, dan terbuka terhadap perubahan zaman. Mengelola diri sendiri dan terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam lingkaran pengaruh agar bersama-sama berkolaborasi. Mewujudkan visi haruslah dibangun gotong royong antar segenap komunitas orang dewasa di sekitar murid yang mengedepankan kepentingan murid. Hal ini berkaitan dengan peran guru dalam mensukseskannya.

Visi seorang guru haruslah sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat, demi terciptanya student wellbeing.

Seorang guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam mewujudkan visi yang berpihak pada murid sesuai dengan kodratnya (filosofi KHD)Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam hal ini, diperlukan peningkatan kualitas pendidikan untuk membentuk kualitas generasi penerus bangsa yang tangguh. Maka sebagai pedoman, maka dalam menyusun visi yang berpihak pada murid, guru perlu menyelaraskan visi dengan dimensi profil pelajar pancasila.


Dalam mewujudkan visi yang berpihak pada murid dan selaras dengan profil pelajar pancasila, perlu ada pimpinan yang menggerakan diri, sesama, serta lingkungan masyarakat untuk mewujudkan sekolah yang berpihak pada murid. Untuk itu, guru penggerak sebagai pimpinan harus menanamkan nilai-nilai dan perannya sebagai guru penggerak. Visi guru penggerak harus mencerminkan nilai dan peran guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar pancasila. Nilai-nilai guru penggerak, yaitu berpihak pada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif, dan Inovatif. Sedangkan peran guru penggerak, yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, pendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan  komunitas praktisi.

Inkuiri Apresiatif (IA)

Visi terwujud jika terjadi proses perubahan, perlu ada upaya nyata. Maka paradigma atau pendekatan yang menjadi alat perubahan yang dapat dilakukan adalah pendekatan inkuiri apresiatif (IA). Inkuiri apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif di sekolah. Pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan ke arah yang lebih baik. IA adalah salah satu cara untuk mewujudkan visi secara kolaboratif. 

BAGJA

Guru penggerak harus dapat mengoptimalkan potensi/kekuatan yang dimiliki untuk merumuskan sebuah visi. Oleh karena itu diperlukan suatu rancangan/pendekatan yang disebut inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA. Tahapan BAGJA memungkinkan guru penggerak membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan visi yang diimpikan.



Saya menyusun visi dengan menyelaraskan pendekatan IA dengan tahapan BAGJA. Tentu hal ini disesuaikan dengan aset/kekuatan yang saya temui di sekolah. Di mana murid memiliki potensi untuk menumbuhkan kreativitas, namun perlu wadah untuk menyalurkannya. Maka visi yang saya buat adalah:

"Terwujudnya peserta didik yang berakhlakul karimah, berkepribadian unggul, dan berjiwa kompetitif dalam era globalisasi."

Namun, sebagaimana filosofi pendidikan KHD di mana penanaman budi pekerti murid perlu dikembangkan, maka saya mengubah salah satu aspek visi sehingga lebih mencerminkan profil pelajar pancasila yang memiliki jiwa kompetitif dengan didasari iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lahirlah visi saya:

"Terwujudnya peserta didik yang religius, berkepribadian unggul, dan berjiwa kompetitif dalam era globalisasi."

Semoga lahirnya visi ini, akan mendorong saya untuk semakin semangat dalam menanamkan filosofi pendidikan KHD dan profil pelajar pancasila yang berpihak pada murid. Sehingga mampu menerapkan nilai dan peran guru penggerak untuk mewujudkan visi. Bermimpi itu nikmat, tapi bermimpi saja tidak cukup, bangunlah dari mimpi itu untuk dapat tergerak, bergerak, dan menggerakan.

Salam dan bahagia. 

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...