Modul 1.3 : Aku dan Visiku
Salam dan bahagia, saya Eulis Anggunsari CGP Angkatan 7. Alhamdulillah, saya telah membersamai modul 1.3 dengan tagline, "Bagaimana saya bermimpi?" Ya, itulah yang saya pelajari di modul ini. Mimpi yang kemudian disusun melalui visi, yang coba saya implementasikan di sekolah. Mudahkah? tidak semudah membalikkan telapak tangan kawan. Untuk itu, saya coba refleksikan pembelajaran modul 1.3 dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
1. Facts (Peristiwa)
2.Feelings (Perasaan)
3.Findings (Pembelajaran)
4.Future (Penerapan)
Berikut pengalaman saya mempelajari modul 1.3, yang saya tulisakan dalam bentuk refleksi model 4F:
1. Facts (Peristiwa)
Surat cinta dari fasilitatorku Bu Yani, bersenandung di grup WA pada tanggal 22 November 2022, tanda awal menyambut modul 1.3. Beliau menyemangati para CGP untuk memulai pembelajaran dengan berliterasi di LMS. Membuka pemahaman awal pada tahap mulai dari diri dan eksplorasi konsep secara mandiri. Kata yang pertama muncul adalah "visi". Diilustrasikan bagaimana dulu sewaktu kecil pernah bermimpi akan suatu cita-cita, yang menjadi keinginan untuk mencapainya. Padahal, kita belum tahu apakah hal itu dapat dicapai atau tidak. Seperti itulah visi, harapan kita di masa depan.
Dalam tahapan mulai dari diri, saya berimajinasi tentang bagaimana murid di masa depan. Harapan pendidikan yang berpihak pada murid dengan landasan inisiatif perubahan. Pendidikan yang saya impikan agar murid dapat bertingkah laku sesuai profil pelajar pancasila. Mimpi besar tentang bagaimana ekosistem sekolah dapat saling bekerja sama mewujudkan suatu visi.
Kolaborasi ....
Kata yang penting untuk diresapi sebagai penguatan dalam membentuk "Visi Guru Penggerak".
Dalam tahapan eksplorasi konsep secara mandiri, saya tertarik dengan video penjelasan mengenai pendekatan inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA untuk membuat prakarsa perubahan dalam mewujudkan visi guru penggerak. Kemudian dikuatkan oleh fasilitator dalam forum diskusi virtual pada tanggal 25 November 2022. Saya bersama rekan CGP lain berdiskusi menyusun visi guru penggerak, menentukan prakarsa perubahan, dan menuliskan tahapan BAGJA, kemudian dipresentasikan pada tanggal 28 November 2022. Peristiwa ini menguatkan saya untuk semakin berinovasi menyusun visi yang nantinya dapat saya implementasikan di sekolah.
Dalam vicon elaborasi pemahaman pada tanggal 1 Desember 2022, bersama instruktur Bapak Faisal Bahar, saya berkumpul dengan CGP lain untuk menguatkan pemahaman pembelajaran modul 1.3. Melalui penjelasan materi dan tanya jawab, saya belajar menyusun visi yang berbasis aset/kekuatan yang ada di sekolah.
2.Feelings (Perasaan)
Perasaan saya selama mengikuti pembelajaran modul 1.3 cukup antusias, karena saya mencoba menggali impian yang ingin dicapai terhadap murid. Walau awalnya tidak mudah, sebab menyusun visi dengan tujuan yang berpihak pada murid, tentu harus melibatkan banyak pihak, intinya kita harus mampu menggerakkan ekosistem sekolah untuk mensukseskan visi yang kita buat. Dalam menerapkan aksi nyata untuk modul 1.3, saya semakin mengeratkan kolaborasi dengan rekan sejawat untuk dapat mewujudkan visi yang saya buat. Menyatukan pikiran dari beberapa orang tentu tidak mudah, namun ketika sudah tercipta ekosistem sekolah dengan rasa kekeluargaan, saya semakin bersemangat dan senang mengikuti pendidikan guru penggerak ini, karena menciptakan hubungan silaturahmi yang semakin erat dengan komunitas warga sekolah.
"Kita bisa, karena kita mau. Hiduplah bermanfaat untuk orang sekitar, sebab itu yang akan Kau tinggalkan sebagai jejak kehidupanmu."
Inilah kutipan motivasiku untuk pembelajaran modul 1.3 ini.
3.Findings (Pembelajaran)
Banyak hal yang saya pelajari dalam modul 1.3 ini. Terlebih bagaimana saya belajar menyusun visi guru penggerak untuk melakukan perubahan positif di sekolah.
Untuk mencapai suatu tujuan berdasarkan visi seorang guru tentu harus melakukan perubahan, terus berinovasi, dan terbuka terhadap perubahan zaman. Mengelola diri sendiri dan terus berupaya menggerakkan orang lain yang berada di dalam lingkaran pengaruh agar bersama-sama berkolaborasi. Mewujudkan visi haruslah dibangun gotong royong antar segenap komunitas orang dewasa di sekitar murid yang mengedepankan kepentingan murid. Hal ini berkaitan dengan peran guru dalam mensukseskannya.
Visi seorang guru haruslah sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada murid, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat, demi terciptanya student wellbeing.
Seorang guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam mewujudkan visi yang berpihak pada murid sesuai dengan kodratnya (filosofi KHD). Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam hal ini, diperlukan peningkatan kualitas pendidikan untuk membentuk kualitas generasi penerus bangsa yang tangguh. Maka sebagai pedoman, maka dalam menyusun visi yang berpihak pada murid, guru perlu menyelaraskan visi dengan dimensi profil pelajar pancasila.
Dalam memimpin perubahan positif harus berpikir strategi dan memahami inkuiri apresiatif sebagai paradigma. Inkuiri apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Guru penggerak harus dapat mengoptimalkan potensi/kekuatan yang dimiliki untuk merumuskan sebuah visi. Oleh karena itu diperlukan suatu rancangan/pendekatan yang disebut inkuiri apresiatif dengan tahapan BAGJA. Tahapan BAGJA memungkinkan guru penggerak membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan visi yang diimpikan.
Setelah mempelajari modul 1.3 hal baru mengenai diri saya adalah saya harus dapat mengembangkan potensi diri untuk semakin terbuka terhadap hal baru. Mampu bekerja sama dengan orang lain, untuk mewujudkan suatu tujuan. Saya dapat merumuskan visi yang berbasis kekuatan di sekolah, prakarsa perubahan, dan membuat tahapan BAGJA.
4.Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul 1.3, yaitu tentang visi guru penggerak. Maka saya akan berusaha menerapkan dan mewujudkan visi impian yaitu:
"Terwujudnya peserta didik yang religius, berkepribadian unggul, dan berjiwa kompetitif dalam era globalisasi."
Dalam mewujudkan visi tersebut, saya akan menerapkan prakarsa perubahan, yaitu "Menumbuhkan kreativitas murid melalui kegiatan lomba antar kelas pararel." Melalui prakarsa perubahan ini, saya menggali kekuatan murid yang memiliki potensi kreativitas, melalui kegiatan yang dapat memotivasi murid untuk semakin berkreasi, yakni dengan kegiatan lomba antar kelas pararel. Dengan begitu, akan muncul bakat murid yang selanjutnya dapat dikembangkan.
Untuk selanjutnya, saya akan berusaha belajar untuk memperbaiki kualitas dari visi yang telah saya buat. Saya akan melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat berpihak pada murid untuk menciptakan rasa nyaman dan semangat belajar pada murid. Saya akan terus mengembangkan inovasi menuju prakarsa perubahan yang lebih baik lagi. Saya berusaha menciptakan iklim harmonis antara rekan sejawat, murid, dan stakeholder, melalui kolaborasi yang baik guna mewujudkan visi dengan perubahan yang positif.
Demikian refleksi dwi mingguan modul 1.3, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.
Salam dan Bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar