Modul 2.3 : Coaching untuk Supervisi Akademik
Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:
"Melalu Coaching, Saya belajar Mendengar"
Fokus "mendengar aktif" kata kunci dalam kegiatan coaching yang saya maknai dalam pembelajaran modul 2.3 ini. Perjalanan calon guru penggerak angkatan 7 yang sedang saya ikuti, sudah masuk dalam tahap menjadi coach yang berupaya membantu coachee, hal baik ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk mampu mengimplementasikannya. Tentu tidaklah mudah karena kita perlu memiliki keterampilan bertanya dan strategi yang tepat dalam melakukan coaching. Seperti apa proses coaching? Saya belajar mengetahuinya melalui tahapan dengan alur "MERDEKA".
M = Mulai dari Diri
E = Eksplorasi Konsep
R = Ruang Kolaborasi
D = Demonstrasi Kontekstual
E = Elaborasi Pemahaman
K = Koneksi Antar Materi
A = Aksi Nyata
Dengan mengikuti alur, saya mencoba mencari tahu bagaimana coaching dapat dilakukan dalam konteks pendidikan melalui supervisi akademik. Berikut saya refleksikan pembelajaran modul 2.3 dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
1. Facts (Peristiwa)
2.Feelings (Perasaan)
3.Findings (Pembelajaran)
4.Future (Penerapan)
Facts (Peristiwa)
Perjalanan mempelajari modul 2.3 ini, dimulai saat fasilitatorku, Bu Yani, menginformasikan untuk membuka LMS melalui pesan udara di grup WA, pada hari Kamis, 9 Maret 2023 untuk melakukan tahap "mulai dari diri". Dalam tahapan ini, saya menjawab pertanyaan tentang pengalaman saat disupervisi oleh kepala sekolah/pengawas. Dalam hal ini saya mereview bagaimana saat disupervisi. Hal baik yang saya dapat melalui materi modul 2.3 bahwa supervisi akademik hendaklah disertai dengan proses coaching, dengan begitu kita akan mendapat umpan balik dalam meningkatkan kompetensi diri dalam proses pembelajaran.
Perjalanan selanjutnya, saya membuka eksplorasi konsep pada hari Jumat, 10 Maret 2023. Berbagai materi seputar coaching saya pelajari. Hal baik dalam eksplorasi konsep adalah saya belajar praktik coaching melalui video-video yang ada di eksplorasi konsep. Kemudian, saat berdiskusi bersama fasilitator dan rekan CGP angkatan 7 lainnya, kami coba praktikan percakapan coaching melalui alur TIRTA, secara virtual melalui ruang kolaborasi (16-17 Maret 2023).
Hambatan dalam proses praktik coaching adalah memberikan pertanyaan berbobot untuk menggali potensi coachee dalam menemukan solusinya sendiri. Melalui praktik ini, seorang coach membutuhkan keterampilan bertanya sehingga dapat merespon masalah yang dihadapi coachee dengan pertanyaan yang berbobot. Untuk itu, saya belajar untuk "mendengar aktif" dengan kesadaran penuh sebelum dan saat kegiatan coaching, dengan begitu kita mampu merespon permasalahan coachee dengan baik.
Selanjutnya, untuk penguatan keterampilan coaching untuk supervisi akademik ini, CGP diharapkan dapat melakukan coaching lebih mendalam dalam tahapan demonstrasi kontekstual bersama rekan CGP lainnya. Tahapan berikutnya yang harus dilakukan adalah elaborasi pemahaman bersama instruktur, melakukan koneksi antar materi, dan mengimplementasikannya melalui aksi nyata.
Feelings (Perasaan)
Perasaan saya ketika mempelajari modul 2.3 ini awalnya terkejut dengan materi yang cukup banyak ditampilkan di eksplorasi konsep. Terlebih saat menyimak video praktik coaching melalui alur TIRTA dan bagaimana kepala sekolah/pemimpin pembelajaran melakukan coaching melalui percakapan untuk perencanaan, percakapan untuk pemecahan masalah, percakapan untuk merefleksi, dan percakapan untuk kalibrasi. Hal ini membuat saya khawatir, sejauh mana saya bisa melakukan dan memiliki keterampilan coaching terhadap rekan sejawat atau murid saya nanti di sekolah. Namun, ketika saya menyadari pentingnya coaching ini, saya berupaya untuk percaya bahwa melalui latihan terus menerus, maka kegiatan coaching ini lambat laun dapat saya lakukan dengan baik.
Jika dihubungkan dengan pengalaman di sekolah, sebetulnya tanpa saya sadari, coaching ini pernah dilakukan saat bersama rekan sejawat di sekolah ketika bertukar pikiran tentang masalah yang dihadapi di kelasnya, atau dengan murid saat menghadapi masalah. Namun, belum sesuai dengan prinsip coaching yang berupaya memaksimalkan potensi coachee dalam proses kreatif untuk mendapatkan solusi dari masalahnya sendiri, mungkin pada saat itu masih dalam prinsip kemitraan saja.
Saya sangat senang ketika berkolaborasi bersama rekan CGP saat melakukan diskusi virtual di ruang kolaborasi. Kami belajar melakukan coaching melalui percakapan alur TIRTA. "Seru" satu kata untuk kegiatan saat itu.
Findings (Pembelajaran)
Banyak hal yang saya pelajari dalam modul 2.3 ini, hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan peningkatan kompetensi diri melalui coaching untuk supervisi akademik. Materi yang dipelajari antara lain:
1. Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan
2. Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching
3. Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching
4. Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching
Dalam forum diskusi eksplorasi konsep, kami menuliskan keterkaitan antara keterampilan coaching dengan supervisi akademik dan memberikan komentar kepada tanggapan rekan CGP yang lain. Hal baru yang saya peroleh dari modul 2.3 ini adalah coaching sangat dibutuhkan saat kepala sekolah/pemimpin pembelajaran melakukan supervisi akademik. Mungkin selama ini, bagi sebagian guru berasumsi bahwa supervisi yang dilakukan justru menjadi beban, karena merasa sedang dinilai atau mencari kekurangan atas proses pembelajaran yang dilakukan. Namun, setelah mempelajari modul ini, ternyata melalui coaching terjadi proses kolaborasi antara coach dengan coachee yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, untuk memberdayakan coachee. Dalam hal ini, justru seorang guru sedang digali potensinya, kepala sekolah memberikan umpan balik yang dapat memberdayakan potensi dari seorang guru untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi diri.
Future (Penerapan)
Melalui pembelajaran modul 2.3 ini, saya akan belajar melakukan coaching dengan lebih baik bersama seluruh komunitas sekolah. Hal yang akan saya lakukan diantaranya:
- Menerapkan keterampilan coaching untuk supervisi akademik yang bertujuan sebagai bentuk pengembangan diri.
- Menerapkan coaching bersama rekan sejawat untuk membantunya belajar bukan mengajarinya, dalam hal ini belajar untuk menemukan solusi atas masalah yang dihadapi.
- Menerapkan coaching yang dapat memberdayakan murid sehingga tujuan pembelajaran dapat berpihak pada murid.
Kesimpulannya, kita sebagai guru penting memiliki keterampilan coaching. Coaching untuk supervisi akademik mewujudkan peningkatan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran, yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, guru menuntun murid merdeka untuk dapat menggali segala kodrat yang dimiliki.
Maka, melalui keterampilan coaching ini, saya belajar mendengar, mendengar masalah yang terjadi, menggali potensi, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Demikian refleksi dwimingguan modul 2.3, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.
Salam dan Bahagia.
CGP Angkatan 7
