Resume
materi : 22
Tema : Menguak Dapur Penerbit
Mayor
Pemateri : Edi S. Mulyanta
Moderator : Helwiyah
Gelombang : 22
Penulis : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Perjalanan
menulis dalam pertemuan ke 22, menyimak tentang “Menguak Dapur Penerbit Mayor.”
Seperti apa, ya, dapurnya penerbit mayor? Yuk, simak paparan dari narasumber,
yakni Bapak Edi S. Mulyanta, dan didampingi oleh moderator Ibu Helwiyah, yang
akan memandu kegiatan pada pertemuan kali ini.
Mengenal
narasumber, inilah Bapak Edi S Mulyanto, M.T., lahir di Yogjakarta pada tanggal
24 Mei 1969. Mengeyam pendidikan S1 Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
tahun 1994, S2 Magister Tekhnologi Informatika Fakultas Elekto UGM Yogyakarta
tahun 2006, dan saat ini menjabat sebagai Publising Consultant Andi Publisher.
Berikut profil beliau:
https://www.pbuandi.com/2021/11/edi-s-mulyanta.html?view=flipcard
Perjalanan
menulis ini, telah memberikan pengalaman tentang arti menulis, seberapa sulit
menulis, hingga bagaimana hasil dari kegiatan menulis, dapat didokumentasikan
secara lebih bermakna melalui sebuah buku. Buku yang dapat bermakna untuk diri
kita sendiri, dan mungkin juga untuk orang lain yang membacanya.
Peran
penerbitlah yang mendukung tujuan dari penulis untuk bisa merealisasikan
cita-citanya untuk membuat buku. Buku yang dapat diterbitkan oleh penerbit
mayor, merupakan pencapaian yang luar biasa bagi penulis. Bagaimana peran serta
dari penerbit mayor tersebut, mari kita masuk dalam dapurnya.
Dalam
era covid 19 ini memang cukup berat bagi semua penerbit, baik penerbit skala
kecil hingga penerbit mayor. Semua berlomba untuk hanya sekadar bertahan hidup,
dari terpaan covid yang tanpa mengenal pandang bulu serta berimbas ke berbagai
sektor. Penerbit-penerbit berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan dan
tetap eksis.
Hal
tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk mengubah haluan visi dan misi
mereka ke arah yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang
lebih cepat dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum.
Beberapa penerbit yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, akhirnya
mencoba mengurangi intensitas terbitan bukunya, akhirnya berimbas pula ke
jumlah produksi buku mereka, dan memukul pula pendapatan atau omzet buku
mereka. Penerbit buku di bawah IKAPI adalah penerbit yang mementingkan UUD
(Ujung-ujungnya Duwit) untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara
otomatis cash flow akan terganggu, sehingga banyak penerbit akhirnya berpindah
haluan ke usaha yang lain.
Tugas
dari penerbitan adalah memberikan layanan industri, dalam menerbitkan atau
mempublikasikan hasil tulisan karya tulis dari penulis. Penerbit hanyalan intermediary
atau perantara dalam proses publikasi sebuah tulisan. Tugas penerbit adalah
menghasilkan keuntungan dalam setiap terbitannya. Baik itu penerbit mayor
maunpun indie, pada dasarnya konsep penerbitan keduanya sama, yaitu
mempublikasikan hasil tulisan dari penulis yang menjadi mitranya.
Yang
membedakan jenis penerbit adalah jumlah atau skala produksi setiap penerbit
yang tergabung dalam anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tersebut. Skala
produksi ini tercermin dalam ISBN setiap buku yang diterbitkan oleh penerbit
tersebut. Melalui ISBN ini dapat diketahui penggolongan skala produksi buku
yang dihasilkan setiap tahunnya. ISBN dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional,
yang diberikan hak oleh negara untuk memberikan nomor-nomor yang dikuasainya tersebut
untuk dibagikan kepada penerbit di Indonesia.
Nah,
angka di publication element tersebut adalah jumlah produksi buku yang dapat
dilakukan oleh penerbit tersebut. Melalui angka ini terlihat berapa kekuatan
produksi buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit.
Secara
materi terbitan, sebenarnya tidak ada bedanya antara penerbit mayor dan minor.
Hanya terkadang penerbit tertentu memilih spesialisasi pada Genre tertentu
untuk lebih fokus dalam produksi maupun pemasarannnya. Penerbit mayor memiliki
jumlah produksi cukup besar, akhirnya mempunyai saluran pemasaran yang cukup beragam
yang sering disebut Omni Channel Marketing selain tentunya outlet di toko buku.
Penerbit
mayor tetap berkembang selama masa pandemi, sebab pemasaran buku beralih ke
online. Saluran toko buku mengalami kontraksi yang cukup dalam, sehingga
saluran outlet toko buku pun menyesuaikan dengan berpindahnya proses pemasaran
ke sistem online, maupun digitalisasi materi dalam bentuk media lain selain
tulisan.
Tantangan
ini cukup berat bagi penerbit-penerbit dengan skala kecil, yang hanya
menggantungkan outletnya di toko buku. Karena imbas dari lock down diberbagai
sentra ekonomi, menjadikan saluran penjualan buku semakin sulit bejualan.
Media-media
baru sebagai sarana promosi buku pun berkembang seperti channel Webinar,
Podcast, IG Live, WA Group seperti group kelas menulis bersama PGRI ini, mejadi
media promosi yang luar biasa berkembang. Hal yang unik dari pandemi ini,
adalah buku cetak masih menjadi pilihan pembaca dalam memperluas cakrawala
pikirnya. Di samping elektronik book yang
juga berkembang.
Iklim
penerbitan secara umum tidak surut selama pandemi ini. Penerbit mayor selalu
tidak kurang dalam menjaring tulisan-tulisan baru yang bermunculan luar biasa
banyak selama pandemi.
Tahun
pandemi, semangat menulis penulis-penulis baru sangat luar biasa, dengan
banyaknya tulisan yang masuk ke penerbit. Hal ini tidak diimbangi dengan
pendapatan penjualan buku yang sangat tergerus dengan adanya Covid 19 yang
telah mencapai gelombang ke 2 di tahun 2021 ini. Saat awal tahun 2021 penerbit
di Indonesia sebenarnya telah mulai bangkit, tercermin dalam pendapatan pada
bulan Januari dan Februari yang telah mencapai tahap memantul ke atas. Tetapi
sayang masuk di tahap gelombang 2 covid betul-betul meratakan pendapatan ke
level yang terendah.
Penerbit
pun dengan terpaksa melakukan pengereman produksi yang luar biasa ketat dalam
mengantisipasi hal tersebut. Strategi yang dilakukan adalah dengan menyimpan
tenaga, energi penulis yang tidak lekang oleh pandemi, dengan tetap melakukan
seleksi-seleksi materi buku yang menarik.
Menabung
naskah, adalah strategi dalam menghadapi pandemi, walaupun ada hal yang harus
dikorbankan yaitu proses cetak fisik buku yang terkendala. Hal ini disiasati
dengan menerbitkan E-Book untuk mempercepat proses penerbitan sebuah buku.
E-book adalah sarana media digital buku yang masih sangat muda, sehingga proses
bisnis yang menyertainya belum bisa mengangkat proses industri perbukuan yang
masih ditopang cetak buku fisik.
Ke
depan penerbit menyadari, bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan. Hanya
proses pemasarannya yang berubah mengikuti zaman. E-book akan tetap menarik
karena konsep praktis, ramah lingkungan, dan menjanjikan keterbukaan dalam
menerima media-media lain sebagai media pengayaannya. Google dengan sigap juga
telah mencoba peruntungannya di era digital ini, yaitu dengan Google Booksnya
menjadikan konsep digitalisasi e-book sudah mencapai ke industrialisasi digital
masa depan.
Hal
yang menjadi tantangan penerbit buku di era digital, yaitu:
a. Cepat
dalam menguasai teknologi.
b. Gunakan
konsep multimedia.
c. Pengawinan
antara media-media baru.
d. Menjadikan
buku akan semakin mengecil secara fisik.
Sebagai
penulis, harus memberikan pengayaan-pengayaan tidak hanya kemampuan tulis
belaka. Akan tetapi pengembangan di sisi penulis harus diberdayakan. Seperti
penulis mempunyai Blog, Channel Youtube, Twitter, Podcast, bahkan Tiktok yang
dapat dijadikan sarana promosi tulisan bukunya. Hal ini akan memberikan
rangsangan penerbit untuk tidak mampu menolak tulisan penulis karena
followernya banyak, menjadi selebriti di Youtube, atau Selebriti Tiktok. Ke
depan materi tulisan tidak akan melulu dijadikan alasan penerbit dalam
menerbitkan buku, akan tetapi kemampuan penulis dalam membantu mempromosikan
tulisanlah yang menjadi primadona penulis-penulis baru.
Persaingan
penerbit akan semakin keras, tidak memandang penerbit mayor maupun minor. Hal
ini karena ke depan proses penerbitan bisa dilakukan sendiri oleh penulis.
Lihat saja bang Tere Liye yang dapat memproduksi sendiri tulisannya melalui
Google Books: https://www.google.com/search?tbm=bks&q=tere+liye
Pelajari
karakteristik penerbitnya, dengan melihat hasil-hasil terbitannya. Setiap
penerbit mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Penulis adalah makhluk bebas, yang
dapat menawarkan ke semua penerbit. Tinggal kepintaran penulis dalam mengatur
strategi, kemampuan, dan memilah serta memilah penerbitan. Penulis juga dapat
mencoba menuliskan di aplikasi Wattpad, follower pembaca di situ biasanya
dipantau oleh penerbit-penerbit mayor.
Penerbit
minor, juga tidak kalah kreatifnya dalam menjaring penulis. Dengan banyaknya syarat-syarat
kenaikan pangkat guru, dosen, hingga guru besar, menjadikan penerbit-penerbit
saling bersaing mengisi peluang tersebut. Hal yang penting sebagai penulis
adalah, jaga kejujuran, jaga idealisme, dan selalu belajar dari berbagai genre
tulisan orang lain. Mengukur diri, dan menyesuaikan dengan kemampuan diri,
menguliknya akan menjadi daya tawar yang baik bagi tulisan saat ditawarkan ke
penerbit. Ke depan persaingan penerbit tidak hanya antar penerbit akan tetapi
dengan digitalisasi yang menjadikan persamaan derajat antara penulis, penerbit,
penyalur, dan pembaca buku.
Penerbit
mayor saat ini tidak kekurangan naskah untuk diterbitkan, hanya kekurangan
likuidasi dalam memproses naskahnya menjadi sebuah tulisan atau media lain ke
pembaca. Sehingga saat ini yang menjadi masalah adalah media apa yang sesuai
dalam mendukung sebuah terbitan buku.
Akhirnya,
semua unsur dunia penerbitan akan menjadi lebih berwarna dan saling
menguntungkan dari penulis, penerbit, hingga pembaca buku dengan terbentuknya
dunia digital yang cukup menjanjikan ke depannya. Pesan narasumber jangan
segan-segan menawarkan tulisan ke berbagai skala penerbit, karena saat ini
konten adalah raja-nya sehingga penerbit memerlukan kesegaran konten yang dapat
dikembangkan menjadi komoditas yang menguntungkan.
Demikianlah
dapur penerbit yang telah kita masuki. Seperti halnya dapur para penjual yang
menyajikan makanan terbaiknya, penerbit pun mengolah sebuah buku dengan
bumbu-bumbu pilihan, meramu dan menerbitkannya, sehingga buku dapat bermanfaat
dan bernilai jual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar