Selasa, 07 Desember 2021

Menguak Dapur Penerbit Mayor

 


Resume materi     : 22

Tema                    : Menguak Dapur Penerbit Mayor

Pemateri               : Edi S. Mulyanta

Moderator            : Helwiyah

Gelombang           : 22            

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

Perjalanan menulis dalam pertemuan ke 22, menyimak tentang “Menguak Dapur Penerbit Mayor.” Seperti apa, ya, dapurnya penerbit mayor? Yuk, simak paparan dari narasumber, yakni Bapak Edi S. Mulyanta, dan didampingi oleh moderator Ibu Helwiyah, yang akan memandu kegiatan pada pertemuan kali ini.

Mengenal narasumber, inilah Bapak Edi S Mulyanto, M.T., lahir di Yogjakarta pada tanggal 24 Mei 1969. Mengeyam pendidikan S1 Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 1994, S2 Magister Tekhnologi Informatika Fakultas Elekto UGM Yogyakarta tahun 2006, dan saat ini menjabat sebagai Publising Consultant Andi Publisher. Berikut profil beliau:

https://www.pbuandi.com/2021/11/edi-s-mulyanta.html?view=flipcard

 

Perjalanan menulis ini, telah memberikan pengalaman tentang arti menulis, seberapa sulit menulis, hingga bagaimana hasil dari kegiatan menulis, dapat didokumentasikan secara lebih bermakna melalui sebuah buku. Buku yang dapat bermakna untuk diri kita sendiri, dan mungkin juga untuk orang lain yang membacanya.

Peran penerbitlah yang mendukung tujuan dari penulis untuk bisa merealisasikan cita-citanya untuk membuat buku. Buku yang dapat diterbitkan oleh penerbit mayor, merupakan pencapaian yang luar biasa bagi penulis. Bagaimana peran serta dari penerbit mayor tersebut, mari kita masuk dalam dapurnya.

Dalam era covid 19 ini memang cukup berat bagi semua penerbit, baik penerbit skala kecil hingga penerbit mayor. Semua berlomba untuk hanya sekadar bertahan hidup, dari terpaan covid yang tanpa mengenal pandang bulu serta berimbas ke berbagai sektor. Penerbit-penerbit berusaha dengan berbagai cara untuk bertahan dan tetap eksis.

Hal tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk mengubah haluan visi dan misi mereka ke arah yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang lebih cepat dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum. Beberapa penerbit yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, akhirnya mencoba mengurangi intensitas terbitan bukunya, akhirnya berimbas pula ke jumlah produksi buku mereka, dan memukul pula pendapatan atau omzet buku mereka. Penerbit buku di bawah IKAPI adalah penerbit yang mementingkan UUD (Ujung-ujungnya Duwit) untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara otomatis cash flow akan terganggu, sehingga banyak penerbit akhirnya berpindah haluan ke usaha yang lain.

Tugas dari penerbitan adalah memberikan layanan industri, dalam menerbitkan atau mempublikasikan hasil tulisan karya tulis dari penulis. Penerbit hanyalan intermediary atau perantara dalam proses publikasi sebuah tulisan. Tugas penerbit adalah menghasilkan keuntungan dalam setiap terbitannya. Baik itu penerbit mayor maunpun indie, pada dasarnya konsep penerbitan keduanya sama, yaitu mempublikasikan hasil tulisan dari penulis yang menjadi mitranya.

Yang membedakan jenis penerbit adalah jumlah atau skala produksi setiap penerbit yang tergabung dalam anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tersebut. Skala produksi ini tercermin dalam ISBN setiap buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut. Melalui ISBN ini dapat diketahui penggolongan skala produksi buku yang dihasilkan setiap tahunnya. ISBN dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional, yang diberikan hak oleh negara untuk memberikan nomor-nomor yang dikuasainya tersebut untuk dibagikan kepada penerbit di Indonesia.

Nah, angka di publication element tersebut adalah jumlah produksi buku yang dapat dilakukan oleh penerbit tersebut. Melalui angka ini terlihat berapa kekuatan produksi buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit.

Secara materi terbitan, sebenarnya tidak ada bedanya antara penerbit mayor dan minor. Hanya terkadang penerbit tertentu memilih spesialisasi pada Genre tertentu untuk lebih fokus dalam produksi maupun pemasarannnya. Penerbit mayor memiliki jumlah produksi cukup besar, akhirnya mempunyai saluran pemasaran yang cukup beragam yang sering disebut Omni Channel Marketing selain tentunya outlet di toko buku.

Penerbit mayor tetap berkembang selama masa pandemi, sebab pemasaran buku beralih ke online. Saluran toko buku mengalami kontraksi yang cukup dalam, sehingga saluran outlet toko buku pun menyesuaikan dengan berpindahnya proses pemasaran ke sistem online, maupun digitalisasi materi dalam bentuk media lain selain tulisan.

Tantangan ini cukup berat bagi penerbit-penerbit dengan skala kecil, yang hanya menggantungkan outletnya di toko buku. Karena imbas dari lock down diberbagai sentra ekonomi, menjadikan saluran penjualan buku semakin sulit bejualan.

Media-media baru sebagai sarana promosi buku pun berkembang seperti channel Webinar, Podcast, IG Live, WA Group seperti group kelas menulis bersama PGRI ini, mejadi media promosi yang luar biasa berkembang. Hal yang unik dari pandemi ini, adalah buku cetak masih menjadi pilihan pembaca dalam memperluas cakrawala pikirnya. Di samping elektronik book yang juga berkembang.

Iklim penerbitan secara umum tidak surut selama pandemi ini. Penerbit mayor selalu tidak kurang dalam menjaring tulisan-tulisan baru yang bermunculan luar biasa banyak selama pandemi.

Tahun pandemi, semangat menulis penulis-penulis baru sangat luar biasa, dengan banyaknya tulisan yang masuk ke penerbit. Hal ini tidak diimbangi dengan pendapatan penjualan buku yang sangat tergerus dengan adanya Covid 19 yang telah mencapai gelombang ke 2 di tahun 2021 ini. Saat awal tahun 2021 penerbit di Indonesia sebenarnya telah mulai bangkit, tercermin dalam pendapatan pada bulan Januari dan Februari yang telah mencapai tahap memantul ke atas. Tetapi sayang masuk di tahap gelombang 2 covid betul-betul meratakan pendapatan ke level yang terendah.

Penerbit pun dengan terpaksa melakukan pengereman produksi yang luar biasa ketat dalam mengantisipasi hal tersebut. Strategi yang dilakukan adalah dengan menyimpan tenaga, energi penulis yang tidak lekang oleh pandemi, dengan tetap melakukan seleksi-seleksi materi buku yang menarik.

Menabung naskah, adalah strategi dalam menghadapi pandemi, walaupun ada hal yang harus dikorbankan yaitu proses cetak fisik buku yang terkendala. Hal ini disiasati dengan menerbitkan E-Book untuk mempercepat proses penerbitan sebuah buku. E-book adalah sarana media digital buku yang masih sangat muda, sehingga proses bisnis yang menyertainya belum bisa mengangkat proses industri perbukuan yang masih ditopang cetak buku fisik.

Ke depan penerbit menyadari, bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan. Hanya proses pemasarannya yang berubah mengikuti zaman. E-book akan tetap menarik karena konsep praktis, ramah lingkungan, dan menjanjikan keterbukaan dalam menerima media-media lain sebagai media pengayaannya. Google dengan sigap juga telah mencoba peruntungannya di era digital ini, yaitu dengan Google Booksnya menjadikan konsep digitalisasi e-book sudah mencapai ke industrialisasi digital masa depan.

Hal yang menjadi tantangan penerbit buku di era digital, yaitu:

a.     Cepat dalam menguasai teknologi.

b.     Gunakan konsep multimedia.

c.      Pengawinan antara media-media baru.

d.     Menjadikan buku akan semakin mengecil secara fisik.

Sebagai penulis, harus memberikan pengayaan-pengayaan tidak hanya kemampuan tulis belaka. Akan tetapi pengembangan di sisi penulis harus diberdayakan. Seperti penulis mempunyai Blog, Channel Youtube, Twitter, Podcast, bahkan Tiktok yang dapat dijadikan sarana promosi tulisan bukunya. Hal ini akan memberikan rangsangan penerbit untuk tidak mampu menolak tulisan penulis karena followernya banyak, menjadi selebriti di Youtube, atau Selebriti Tiktok. Ke depan materi tulisan tidak akan melulu dijadikan alasan penerbit dalam menerbitkan buku, akan tetapi kemampuan penulis dalam membantu mempromosikan tulisanlah yang menjadi primadona penulis-penulis baru.

Persaingan penerbit akan semakin keras, tidak memandang penerbit mayor maupun minor. Hal ini karena ke depan proses penerbitan bisa dilakukan sendiri oleh penulis. Lihat saja bang Tere Liye yang dapat memproduksi sendiri tulisannya melalui Google Books: https://www.google.com/search?tbm=bks&q=tere+liye

Pelajari karakteristik penerbitnya, dengan melihat hasil-hasil terbitannya. Setiap penerbit mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Penulis adalah makhluk bebas, yang dapat menawarkan ke semua penerbit. Tinggal kepintaran penulis dalam mengatur strategi, kemampuan, dan memilah serta memilah penerbitan. Penulis juga dapat mencoba menuliskan di aplikasi Wattpad, follower pembaca di situ biasanya dipantau oleh penerbit-penerbit mayor.

Penerbit minor, juga tidak kalah kreatifnya dalam menjaring penulis. Dengan banyaknya syarat-syarat kenaikan pangkat guru, dosen, hingga guru besar, menjadikan penerbit-penerbit saling bersaing mengisi peluang tersebut. Hal yang penting sebagai penulis adalah, jaga kejujuran, jaga idealisme, dan selalu belajar dari berbagai genre tulisan orang lain. Mengukur diri, dan menyesuaikan dengan kemampuan diri, menguliknya akan menjadi daya tawar yang baik bagi tulisan saat ditawarkan ke penerbit. Ke depan persaingan penerbit tidak hanya antar penerbit akan tetapi dengan digitalisasi yang menjadikan persamaan derajat antara penulis, penerbit, penyalur, dan pembaca buku.

Penerbit mayor saat ini tidak kekurangan naskah untuk diterbitkan, hanya kekurangan likuidasi dalam memproses naskahnya menjadi sebuah tulisan atau media lain ke pembaca. Sehingga saat ini yang menjadi masalah adalah media apa yang sesuai dalam mendukung sebuah terbitan buku.

Akhirnya, semua unsur dunia penerbitan akan menjadi lebih berwarna dan saling menguntungkan dari penulis, penerbit, hingga pembaca buku dengan terbentuknya dunia digital yang cukup menjanjikan ke depannya. Pesan narasumber jangan segan-segan menawarkan tulisan ke berbagai skala penerbit, karena saat ini konten adalah raja-nya sehingga penerbit memerlukan kesegaran konten yang dapat dikembangkan menjadi komoditas yang menguntungkan.

Demikianlah dapur penerbit yang telah kita masuki. Seperti halnya dapur para penjual yang menyajikan makanan terbaiknya, penerbit pun mengolah sebuah buku dengan bumbu-bumbu pilihan, meramu dan menerbitkannya, sehingga buku dapat bermanfaat dan bernilai jual.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...