Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:
"Untuk murid, pembelajaran ini kulakukan"
Alhamdulilllah, perjalanan guru penggerak sudah kulalui tahap demi tahap, sampai pada tahap paket modul 2, saya belajar tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Melalui pembelajaran paket modul 2 ini, saya mempelajari tentang pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial dan emosional, dan coaching untuk supervisi akademik. Materi-materi tersebut merujuk pada kesimpulan bahwa "untuk murid, pembelajaran ini kulakukan". Seorang guru hendaknya memahami pembelajaran yang dilakukan bertujuan untuk menggali potensi murid. Pembelajaran paket modul 2, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA".
M = Mulai dari Diri
E = Eksplorasi Konsep
R = Ruang Kolaborasi
D = Demonstrasi Kontekstual
E = Elaborasi Pemahaman
K = Koneksi Antar Materi
A = Aksi Nyata
Dengan mengikuti alur, saya belajar untuk memposisikan diri sebagai guru yang dapat melakukan pembelajaran "untuk murid" demi tercapai tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Berikut saya akan membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
1. Facts (Peristiwa)
2.Feelings (Perasaan)
3.Findings (Pembelajaran)
4.Future (Penerapan)
Facts (Peristiwa)
Jurnal refleksi dwimingguan ini berisi tentang pengalaman mempelajari paket modul 2 tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosional bersama murid-murid di kelas. Pembelajaran menjadi berbeda dan bervariasi, saya mencoba mengakomodasi kebutuhan murid yang beragam. Ya, hal ini dilakukan "untuk murid". Saya berupaya menjadi guru yang mampu menuntun murid untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan berdasarkan kemampuan murid. Hal baik yang saya peroleh ketika menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE, murid lebih aktif dan memiliki kesiapan lebih matang dari sebelumnya. Saya menyiapkan perangkat pembelajaran yang beragam sehingga murid bisa memilih sesuai minat dan kebutuhannya. Selain itu, saya menerapkan teknik STOP untuk meningkatkan fokus murid, sehingga murid memiliki kesadaran penuh untuk mengikuti pembelajaran. Adapun hambatan yang saya alami ketika melakukan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid adalah memetakan murid sesuai kebutuhannya sehingga pembelajaran berdiferensiasi dapat terlaksana dengan baik. Hal yang saya lakukan ketika terjadi hambatan tersebut adalah mencari referensi terkait pembelajaran berdiferensiasi dan melakukan tes maupun wawancara sehingga dapat memetakan kebutuhan murid.
Feelings (Perasaan)
Perasaan saya ketika mulai menerapkan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid adalah senang. Hal ini membuat saya belajar bahwa guru perlu memahami kebutuhan murid dan mengetahui keadaan sosial emosional yang terjadi pada murid. Ketika melakukan teknik STOP pertama kali di kelas, murid tampak antusias dan mengikuti alur, kemudian ketika saya menanyakan bagaimana perasaan, mereka tampak menjadi lebih tenang. Apalagi saat menerapkan PSE, saya senang murid antusias ketika membuat produk ucapan terima kasih untuk temannya, hal ini sebagai bentuk empati. Begitu pula saat melakukan pembelajaran berdiferensiasi dengan membuat produk pembelajaran bervariasi, saya sangat senang, murid-murid secara kreatif dapat menghasilkan produk pembelajaran sesuai dengan minatnya masing-masing. Selain pembelajaran berdiferensiasi dan PSE, saya sangat senang ketika melakukan praktik coaching bersama rekan CGP sebab dapat melatih keterampilan bertanya yang dapat memberdayakan kompetensi seseorang. Saya juga menerapkan praktik coaching bersama rekan sejawat untuk supervisi akademik, saya menjadi lebih tertantang untuk mampu menjadi coach yang baik.
![]() |
| Murid membuat produk pembelajaran sesuai minatnya |
| Praktik Coacing bersama rekan sejawat |
Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya dapat adalah menerapkan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya belajar hal baru tentang memetakan kebutuhan murid sehingga murid dapat mengembangkan potensinya untuk mencapai tujuan pembelajaran dapat. Kita sebagai guru tidak bisa mengabaikan kebutuhan murid yang beragam, karena murid memiliki karakter, kesiapan, minat maupun cara belajar yang beragam. Melalui pembelajaran ini, saya berbagi pengetahuan bersama rekan sejawat di sekolah, tentang praktik coaching sebagai upaya memberdayakan kompetensi guru. Setelah saya mempelajari praktik pembelajaran yang berpihak pada murid ini, hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya adalah saya masih harus belajar dalam meningkatkan pembelajaran terutama yang berpihak pada murid. Saya tidak boleh berpuas diri terhadap apa yang sudah saya lakukan selama ini, sebab dunia pendidikan akan terus berkembang. Banyak hal yang perlu dicari tahu.
Future (Penerapan)
Melalui pembelajaran paket modul 2 ini, saya akan berupaya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan PSE dengan lebih baik bersama seluruh komunitas sekolah. Ilmu tentang praktik coaching juga akan saya terapkan bersama rekan sejawat dan murid. Saya akan berupaya beralih dari pembelajaran konvensional yang selama ini saya lakukan ke pembelajaran yang berpihak pada murid. Semua demi satu tujuan, yaitu "untuk murid". Ilmu tidak akan bermanfaat ketika hanya sebagai pengetahuan tanpa praktik dan perbaikan.
Kesimpulannya, jangan berhenti belajar. Guru adalah sosok among yang menuntun perkembangan murid sesuai kodratnya demi kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya.
Demikian refleksi dwi mingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.
Salam dan Bahagia.
Eulis Anggunsari
CGP Angkatan 7
.jpeg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar