"Pemimpin dan Sumber daya Sekolahku"
Oleh : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Tanda yang kusematkan dalam perjalananku kali ini adalah:
"Pemimpin dan Sumber Daya Sekolahku"
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat aset/sumber daya yang harus dimanfaatkan secara maksimal dan saling berinteraksi antara satu aset dengan lainnya. Seorang pemimpin, dalam hal ini kepala sekolah, berperan penting dalam pengelolaan sumber daya. Seorang pemimpin perlu menerapkan pendekatan berbasis kekuatan/aset, dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Melalui modul 3.2 ini, saya mempelajari materi yang berkaitan dengan pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Pembelajaran modul 3.2 ini, dilakukan secara tahap demi tahap, melalui alur "MERDEKA".
M = Mulai dari Diri
E = Eksplorasi Konsep
R = Ruang Kolaborasi
D = Demonstrasi Kontekstual
E = Elaborasi Pemahaman
K = Koneksi Antar Materi
A = Aksi Nyata
Dengan mengikuti alur, saya belajar bahwa guru diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya untuk menggali, menganalisis, dan memetakan potensi sumber daya peserta didik sehingga mampu berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing. Berikut saya membuat jurnal refleksi dwimingguan dengan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway, yaitu:
1. Facts (Peristiwa)
2.Feelings (Perasaan)
3.Findings (Pembelajaran)
4.Future (Penerapan)
Facts (Peristiwa)
Selasa, 2 Mei 2023, Bu Yani sebagai fasilitator menginformasikan bahwa kegiatan pembelajaran modul 3.2 dimulai dengan tahapan "mulai dari diri modul 3.2" di LMS. Melalui awal kegiatan pembelajaran ini, tergambar seperti apa pembelajaran yang akan dilakukan dengan kata kunci "pemimpin dan aset/sumber daya". Tahapan mulai dari diri, saya mengidentifikasi bagian-bagian dari ekosistem sekolah dan pemanfaatannya. Rabu, 3 Mei 2023, dalam tahapan eksplorasi konsep, dikuatkan pemahaman tentang sekolah sebagai ekosistem, aset/sumber daya yang dapat dimanfaatkan, dan pendekatan berbasis kekuatan/aset yang harus diterapkan.
Pembelajaran modul 3.2, dilanjutkan dengan tahapan ruang kolaborasi, untuk berdiskusi bersama rekan CGP lain tentang identifikasi aset daerah sesuai dengan kondisi lingkungan. Tahapan demonstrasi kontekstual dengan menganalisis video dan pemantapan materi melalui tahapan elaborasi pemahaman bersama instruktur pada hari Kamis, 11 Mei 2023.
Hal baik yang saya dapatkan setelah melewati beberapa tahap pembelajaran modul 3.2 ini adalah saya menyadari bahwa dalam ekosistem sekolah semua bagian harus saling berinteraksi sehingga secara seimbang, selaras, dan berkesinambungan dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid. Sebelum mempelajari modul 3.2, saya beranggapan bahwa aset sekolah hanya berupa bentuk fisik/sarana dan prasarana, namun setelah mempelajari modul ini, ada 7 aset/sumber daya yang berperan penting dan saling berhubungan.
Saya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan potensi sumber daya yang ada di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan projek kelas 4, saya beserta rekan guru bekerja sama merencanakan kegiatan yang memanfaatkan bahan pembelajaran yang berasal dari lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaan, murid secara kreatif membuat produk dengan tema teknologi dengan menggunakan bahan yang ada dan mudah didapat.
![]() |
| Kegiatan Projek Kelas 4 |
Feelings (Perasaan)
Perasaan saya ketika mempelajari modul 3.2 ini sangat senang dan tertarik untuk menggali dan memetakan sumber daya yang ada di sekolah, sehingga mampu digunakan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Murid merupakan salah satu aset yang memiliki potensi yang harus dikembangkan untuk menumbuhkan profil pelajar pancasila dalam dirinya. Melalui pemanfaatan aset/sumber daya yang tepat, maka murid akan menerima pembelajaran yang lebih bermakna.
Findings (Pembelajaran)
Banyak hal yang saya peroleh dalam pembelajaran modul 3.2 ini. Hal baru yang yang saya ketahui mengenai diri saya setelah mempelajari modul 3.2 ini adalah saya harus menggunakan pendekatan berbasis kekuatan dalam proses pembelajaran yang saya laksanakan di kelas. Mungkin selama ini, saya masih berpikir berbasis kekurangan sehingga tak jarang beberapa gagasan yang muncul menjadi tak dapat dijalankan.
Materi yang saya pelajari di modul 3.2, antara lain:
- Ekosistem sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua faktor ini saling membutuhkan dan memengaruhi dalam keberhasilan proses pembelajaran.
- Faktor-faktor biotik yang ada di dalam ekosistem sekolah, antara lain: murid, kepala sekolah, guru, staf/tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orang tua, masyarakat sekitar sekolah, dinas terkait, dan pemerintah daerah.
- Faktor-faktor abiotik yang ada di dalam ekosistem sekolah, antara lain: keuangan, sarana dan prasarana, serta lingkungan alam.
- Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu sehingga potensi tidak berkembang. Sedangkan pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri sehingga potensi sumber daya yang ada di sekolah dapat berkembang dan berkelanjutan.
- 7 aset dalam sebuah komunitas yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di sekolah: 1. Modal manusia 2. Modal sosial 3. Modal politik 4. Modal agama dan budaya 5. Modal fisik 6. Modal lingkungan alam 7. Modal finansial
Terdapat 7 aset sebagai kekuatan utama dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah dan pembelajaran di kelas dengan melakukan pendekatan berbasis aset sebagai sumber daya untuk mencapai visi dan misi sekolah dan nasional. Pemimpin berperan dalam mengelola sumber daya sebagai kekuatan yang dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu/kualitas pendidikan dan mewujudkan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.
Future (Penerapan)
Setelah mempelajari modul 3.2 ini, penerapan yang akan saya coba lakukan dalam kegiatan pembelajaran selanjutnya adalah:
- Guru sebagai aset manusia dalam melaksanakan pembelajaran harus berinovasi dan memperkaya diri dalam mengelola sumber daya di kelas dan di sekolah agar tercipta pendidikan yang berpihak pada murid.
- Mengajak serta rekan sejawat memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekolah dalam proses pembelajaran.
- Saya akan mengubah cara berpikir berbasis masalah menjadi cara berpikir berbasis aset, karena pendekatan berbasis aset ini merupakan cara praktis untuk menemukan dan mengenali hal-hal yang positif, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir. Sebagai pemimpin pembelajaran perlu menemukenali kekuatan sebagai potensi yang menjadi fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia.
Untuk mengelola sumber daya yang ada di sekolah, maka seorang pemimpin harus berkolaborasi dengan seluruh komunitas yang ada di lingkungan sekolah. Saya berharap sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberdayakan sumber daya yang ada di sekolah, menjadi lebih bermanfaat.
"Gunakan sumber daya di sekolahku, mari berinovasi!"
Demikian refleksi dwi mingguan kali ini, semoga bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, bagi pembaca pada umumnya.
Salam dan Bahagia.
Eulis Anggunsari
CGP Angkatan 7


Tidak ada komentar:
Posting Komentar