Luangkanlah waktu, bukan menunggu waktu
luang!
Ungkapan
manis dari narasumber pada pertemuan ke-10 kelas menulis gelombang 22. Waktu
kita yang kelola, tentukan skala prioritas untuk sesuatu yang dikerjakan, sebab
ketika tidur saja, tubuh kita tetap bekerja.
Mengenal
narasumber
Dr.
Ngainun Naim, lahir di Tulungagung, 19 Juli 1975. Mengenyam hingga S3 Studi
Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2011). Mencetak beberapa karya dalam
bentuk buku, seperti:
1.
Menulis Itu Mudah (2021)
2.
Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).
3.
Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).
Banyak
lagi judul buku yang sudah beliau karyakan.
Budayakan
“Menulis Itu Mudah”!
Budaya
berhubungan dengan kebiasaan yang dilakukan. Ketika menulis sudah membudaya,
sudah menjadi hal yang biasa, maka menulis itu mudah.
Dr.Ngainum
Naim membagi kunci suksesnya dalam menulis, seperti berikut:
1.Ciptakan
mindset bahwa menulis itu mudah!
Semua
berasal dari pikiran. Pikiran yang optimis akan mewujudkan kemudahan dalam
menulis. Menulis tidak mesti menghabiskan waktu yang sama setiap harinya. Yang
penting tidak putus menulis, sehingga menjadi suatu kebiasaan dan naik kelas
menjadi kebutuhan.
2.Ciptakan
mindset bahwa menulis merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar!
Seperti halnya murid tingkat sekolah dasar,
yang baru memulai untuk mengeja kata atau merangkai kalimat. Menulislah dari
apa yang kita tahu. Menulis tidak selalu membutuhkan pendidikan yang tinggi.
Ada hasil karya yang ditulis berdasarkan pengalamannya, tanpa dipengaruhi oleh
pendidikannya.
3.
Banyak membaca.
Keterampilan
produktif dipengaruhi oleh keterampilan pasif, ada bahan ada proses. Begitulah
menulis sebagai proses yang memerlukan bahan untuk tulisannya melalui membaca
referensi-referensi yang terkait. Membaca merupakan syarat wajib, sebab kecil
kemungkinan orang bisa menulis baik, jika tidak memiliki budaya membaca. Budayakan
membaca setiap harinya, dengan begitu ide menulis itu mudah ditemukan dan
kemudian dikembangkan.
4.Meluangkan
waktu, bukan menunggu waktu luang.
Tubuh
dan pikiran agar selalu sehat harus terus produktif. Dalam setiap waktu ada hal
yang harus dikerjakan, maka ketika kesibukkan itu muncul, kitalah yang harus
mengaturnya. Di mana waktu yang tepat untuk menulis. Menulislah di mana pun
kita bisa atau melalui media apa saja.
5.Rajin
mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan.
Penulis
harus mengasah pendengaran dan penglihatan. Amati hal-hal yang berkaitan dengan
tema tulisan, kemudian catat dari apa yang ditemukan, kemudian diolah menjadi
sebuah tulisan. Teruslah berproses dalam menulis, jika sudah konsisten, maka
kualitas akan mengikuti.
6.Belajar
menulis kepada penulis.
Pendidikan
menulis dapat diperoleh dari seorang penulis, misalnya saja melalui kelas
menulis. Ketika masuk kelas menulis dan menemukan visi yang sama bahwa menulis
itu mudah. Maka, pengalaman dari para penulis tersebut memperkaya perspektif
dan dapat menggairahkan kita dalam menulis berdasarkan pengalaman mereka.
“Apa tipe dan kuadranmu dalam menulis?”
Jangan
khawatir ketika tidak merasa berbakat menulis. Jika seseorang ingin bisa
menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang
besar dan kemauan berlatih. Cobalah identifikasi diri melalui tipe dan kuadran
berikut, di manakah posisi kita dalam dunia tulis menulis?
Berikut
tipe menulis menurut Dr. Ngainun:
1.Tipe
menulis pertama adalah mereka yang terus bertahan, berproses, dan menekuni
dunia menulis sejak mulai berkiprah sampai sekarang. Mereka yang memiliki tipe
ini secara konsisten melakukan kegiatan menulis dan dapat dikatakan sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupannya.
2.Tipe
menulis kedua adalah penulis musiman. Mereka yang memiliki tipe ini, produktif menulis
tidak setiap saat tetapi bergantung kepada momentum. Ketika tidak ada dorongan,
maka menjadi penulis yang cenderung pasif.
3.Tipe
ketiga adalah penulis yang pernah produktif. Mereka yang memiliki tipe ini,
pernah menghasilkan karya yang banyak dikagumi, namun berhenti dari
produktivitasnya dalam menulis. Banyak hal yang dapat mempengaruhi
produktivitas seorang penulis, misalnya saja kesibukkan kerja.
4.Tipe
keempat adalah penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mereka yang memiliki
tipe ini, mungkin pernah menulis satu atau dua karya, pernah dikenal sebagai
penulis,namun setelah itu tidak ada lagi karya yang diterbitkan.
5.Tipe
kelima adalah penulis cita-cita. Mereka yang memiliki tipe ini, memiliki
cita-cita sebagai penulis, namun belum punya karya yang diterbitkan. Menulis
sebatas cita-cita atau impian yang tidak diwujudkan.
Dalam
perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis
menjadi beberapa kuadran, antara lain:
1.Penulis
yang mau dan mampu.
2.Penulis
yang tidak mampu tapi mau.
3.Penulis
yang yang mampu tapi tidak mau.
4.Penulis
yang tidak mampu dan tidak mau.
Ketika
kita sudah memahami posisi kita berdasarkan tipe dan kuadran tersebut, maka
kita dapat menentukan langkah. Cara apa yang tepat kita lakukan ketika sudah terjun
dalam dunia tulis menulis dan bagaimana meningkatkan minat dan kemauan untuk terus
berlatih, sehingga di mana pun posisi kita saat ini, lambat laun akan merujuk
pada satu posisi, yakni “penulis hebat”.
“Jangan
merasa gusar!”
Menulis
itu mudah dan janganlah gusar tentang hal lain, karena menulis adalah suatu
proses yang akan menentukan takdirnya sendiri. Musuh terbesar menulis adalah
diri sendiri, maka kendalikan dan bangun rasa percaya diri. Menulis adalah
berproses, maka lakukanlah proses itu!
“Menulislah
setiap hari!”
Makanlah
makanan yang bergizi melalui membaca dan menulislah sebagai jalan literasi,
yang selalu dibutuhkan dan dibiasakan setiap harinya. Bahkan Dr.Ngainun
menyatakan bahwa literasi adalah jalan hidupnya. Setiap hari beliau menulis
bermacam genre. Ada artikel jurnal ilmiah, ada artikel blog, ada esai di
berbagai portal, ada resensi buku, laporan penelitian, dan banyak jenisnya. Dalam
kamar kerjanya tertulis: SUDAHKAH MENULIS HARI INI?
“Menulislah
seperti makhluk aneh”
Dr.
Ngainun mengatakan bahwa dunia menulis sungguh unik dan menarik. Mungkin aneh
bagi orang lain. Tapi kata aneh tidak selalu berkonotasi negatif. Bisa juga
berkonotasi positif. Aneh karena jarang orang yang melakukan. Namun unik dan
menarik sebab menghadirkan selaksa cerita tanpa tepi. Menulis memberikan hal
yang baru, yang mungkin saja tidak banyak orang yang tahu, sehingga bisa jadi
sebagian orang akan aneh, mengapa kita tahu akan hal itu. Maka, menulislah
seperti makhluk aneh, yang dikagumi orang lain!
“Terima
kasih atas makanan bergizimu, Doktor Ngainum, semoga saya bisa membuat tulisan
yang dapat dibaca renyah dan bergizi bagi orang lain.”
wow hebat... siip Bu
BalasHapusSemangat ibu ...disiapkan jadi bahan buku solo. Pindahkan ke word. 👍
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAamiin. Terima kasih bu. Bismillah semoga bisa menjadi buku
BalasHapusluar biasa anggunnya resume bu anggun. mantapp dan semangat bun
BalasHapus