Selasa, 26 Oktober 2021

Menulis Itu Mudah


 

Luangkanlah waktu, bukan menunggu waktu luang!

Ungkapan manis dari narasumber pada pertemuan ke-10 kelas menulis gelombang 22. Waktu kita yang kelola, tentukan skala prioritas untuk sesuatu yang dikerjakan, sebab ketika tidur saja, tubuh kita tetap bekerja.

 

Mengenal narasumber

Dr. Ngainun Naim, lahir di Tulungagung, 19 Juli 1975. Mengenyam hingga S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2011). Mencetak beberapa karya dalam bentuk buku, seperti:

1. Menulis Itu Mudah (2021)

2. Aktualisasi Pemikiran Islam Multikultural (Akademia Pustaka, 2020).

3. Spirit Literasi (Akademia Pustaka, 2019).

Banyak lagi judul buku yang sudah beliau karyakan.

 

Budayakan “Menulis Itu Mudah”!

Budaya berhubungan dengan kebiasaan yang dilakukan. Ketika menulis sudah membudaya, sudah menjadi hal yang biasa, maka menulis itu mudah.

Dr.Ngainum Naim membagi kunci suksesnya dalam menulis, seperti berikut:

1.Ciptakan mindset bahwa menulis itu mudah!

Semua berasal dari pikiran. Pikiran yang optimis akan mewujudkan kemudahan dalam menulis. Menulis tidak mesti menghabiskan waktu yang sama setiap harinya. Yang penting tidak putus menulis, sehingga menjadi suatu kebiasaan dan naik kelas menjadi kebutuhan.

2.Ciptakan mindset bahwa menulis merupakan keterampilan tingkat sekolah dasar!

 Seperti halnya murid tingkat sekolah dasar, yang baru memulai untuk mengeja kata atau merangkai kalimat. Menulislah dari apa yang kita tahu. Menulis tidak selalu membutuhkan pendidikan yang tinggi. Ada hasil karya yang ditulis berdasarkan pengalamannya, tanpa dipengaruhi oleh pendidikannya.

3. Banyak membaca.

Keterampilan produktif dipengaruhi oleh keterampilan pasif, ada bahan ada proses. Begitulah menulis sebagai proses yang memerlukan bahan untuk tulisannya melalui membaca referensi-referensi yang terkait. Membaca merupakan syarat wajib, sebab kecil kemungkinan orang bisa menulis baik, jika tidak memiliki budaya membaca. Budayakan membaca setiap harinya, dengan begitu ide menulis itu mudah ditemukan dan kemudian dikembangkan.

4.Meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang.

Tubuh dan pikiran agar selalu sehat harus terus produktif. Dalam setiap waktu ada hal yang harus dikerjakan, maka ketika kesibukkan itu muncul, kitalah yang harus mengaturnya. Di mana waktu yang tepat untuk menulis. Menulislah di mana pun kita bisa atau melalui media apa saja.

5.Rajin mengamati, mencatat, dan mengolah menjadi tulisan.

Penulis harus mengasah pendengaran dan penglihatan. Amati hal-hal yang berkaitan dengan tema tulisan, kemudian catat dari apa yang ditemukan, kemudian diolah menjadi sebuah tulisan. Teruslah berproses dalam menulis, jika sudah konsisten, maka kualitas akan mengikuti.

6.Belajar menulis kepada penulis.

Pendidikan menulis dapat diperoleh dari seorang penulis, misalnya saja melalui kelas menulis. Ketika masuk kelas menulis dan menemukan visi yang sama bahwa menulis itu mudah. Maka, pengalaman dari para penulis tersebut memperkaya perspektif dan dapat menggairahkan kita dalam menulis berdasarkan pengalaman mereka.

“Apa tipe dan kuadranmu dalam menulis?”

Jangan khawatir ketika tidak merasa berbakat menulis. Jika seseorang ingin bisa menulis, hal yang diperlukan bukan suatu bakat istimewa, tetapi minat yang besar dan kemauan berlatih. Cobalah identifikasi diri melalui tipe dan kuadran berikut, di manakah posisi kita dalam dunia tulis menulis?

Berikut tipe menulis menurut Dr. Ngainun:

1.Tipe menulis pertama adalah mereka yang terus bertahan, berproses, dan menekuni dunia menulis sejak mulai berkiprah sampai sekarang. Mereka yang memiliki tipe ini secara konsisten melakukan kegiatan menulis dan dapat dikatakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupannya.

2.Tipe menulis kedua adalah penulis musiman. Mereka yang memiliki tipe ini, produktif menulis tidak setiap saat tetapi bergantung kepada momentum. Ketika tidak ada dorongan, maka menjadi penulis yang cenderung pasif.

3.Tipe ketiga adalah penulis yang pernah produktif. Mereka yang memiliki tipe ini, pernah menghasilkan karya yang banyak dikagumi, namun berhenti dari produktivitasnya dalam menulis. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas seorang penulis, misalnya saja kesibukkan kerja.

4.Tipe keempat adalah penulis yang pernah muncul dengan karyanya. Mereka yang memiliki tipe ini, mungkin pernah menulis satu atau dua karya, pernah dikenal sebagai penulis,namun setelah itu tidak ada lagi karya yang diterbitkan.

5.Tipe kelima adalah penulis cita-cita. Mereka yang memiliki tipe ini, memiliki cita-cita sebagai penulis, namun belum punya karya yang diterbitkan. Menulis sebatas cita-cita atau impian yang tidak diwujudkan.

 

Dalam perspektif berbeda, penulis buku produktif Nurul Chomaria membagi penulis menjadi beberapa kuadran, antara lain:

1.Penulis yang mau dan mampu.

2.Penulis yang tidak mampu tapi mau.

3.Penulis yang yang mampu tapi tidak mau.

4.Penulis yang tidak mampu dan tidak mau.

Ketika kita sudah memahami posisi kita berdasarkan tipe dan kuadran tersebut, maka kita dapat menentukan langkah. Cara apa yang tepat kita lakukan ketika sudah terjun dalam dunia tulis menulis dan bagaimana meningkatkan minat dan kemauan untuk terus berlatih, sehingga di mana pun posisi kita saat ini, lambat laun akan merujuk pada satu posisi, yakni “penulis hebat”.

 

“Jangan merasa gusar!”

Menulis itu mudah dan janganlah gusar tentang hal lain, karena menulis adalah suatu proses yang akan menentukan takdirnya sendiri. Musuh terbesar menulis adalah diri sendiri, maka kendalikan dan bangun rasa percaya diri. Menulis adalah berproses, maka lakukanlah proses itu!

 

“Menulislah setiap hari!”

Makanlah makanan yang bergizi melalui membaca dan menulislah sebagai jalan literasi, yang selalu dibutuhkan dan dibiasakan setiap harinya. Bahkan Dr.Ngainun menyatakan bahwa literasi adalah jalan hidupnya. Setiap hari beliau menulis bermacam genre. Ada artikel jurnal ilmiah, ada artikel blog, ada esai di berbagai portal, ada resensi buku, laporan penelitian, dan banyak jenisnya. Dalam kamar kerjanya tertulis: SUDAHKAH MENULIS HARI INI?

 

“Menulislah seperti makhluk aneh”

Dr. Ngainun mengatakan bahwa dunia menulis sungguh unik dan menarik. Mungkin aneh bagi orang lain. Tapi kata aneh tidak selalu berkonotasi negatif. Bisa juga berkonotasi positif. Aneh karena jarang orang yang melakukan. Namun unik dan menarik sebab menghadirkan selaksa cerita tanpa tepi. Menulis memberikan hal yang baru, yang mungkin saja tidak banyak orang yang tahu, sehingga bisa jadi sebagian orang akan aneh, mengapa kita tahu akan hal itu. Maka, menulislah seperti makhluk aneh, yang dikagumi orang lain!

 

“Terima kasih atas makanan bergizimu, Doktor Ngainum, semoga saya bisa membuat tulisan yang dapat dibaca renyah dan bergizi bagi orang lain.”

5 komentar:

  1. Semangat ibu ...disiapkan jadi bahan buku solo. Pindahkan ke word. 👍

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Aamiin. Terima kasih bu. Bismillah semoga bisa menjadi buku

    BalasHapus
  4. luar biasa anggunnya resume bu anggun. mantapp dan semangat bun

    BalasHapus

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...