Minggu, 31 Oktober 2021

Kiat Menulis Cerita Fiksi


 

Resume materi     : 11

Tema                    : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Pemateri               : Sudomo, S.Pt.

Moderator            : Dail Ma’ruf

Gelombang           : 22

Penulis                 : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

“Membaca cerita fiksi, berselancar dalam suatu kehidupan imajinasi. Menerka alur, sebagai pelipur.”

 

Paling enak pergi rekreasi

Foto-foto, pasang status

Memang asyik dunia fiksi

Belajarnya bersama, kelas menulis

 

          Pantun pembuka untuk pertemuan kelas menulis gelombang 22 pertemuan kesebelas, yang membuat puas. Ya… membuat puas, sebab ternyata nikmat belajar menulis cerita fiksi.

          Narasumber pada pertemuan kali ini, yaitu Sudomo, S.Pt. atau akrab disapa Pak Momo. Beliau mengajar IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB. Selain aktif mengajar, beliau juga mengikuti program pendidikan guru penggerak angkatan 2 Kabupaten Lombok Barat. Beliau aktif dan memiliki banyak prestasi dalam membuat karya fiksi. Hal ini berawal dari ketertarikan beliau terhadap menulis fiksi pada tahun 2009, kemudian bergabung dengan komunitas menulis fiksi dan akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan tulisan fiksi.

          Dari kecil, kita terbiasa membaca atau mendengar sebuah cerita. Senang rasanya ketika di sekolah ada pelajaran yang dikaitkan dengan dongeng. Pada saat itu seolah-olah kita terlibat dalam cerita tersebut. Imajinasi kita mengalir. Mengikuti aktivitas tokoh hingga menerka bagaimana akhir dari cerita tersebut. Seolah-olah yang membuat cerita itu adalah kita. Nah, Pak Momo mengatakan bahwa menulis cerita fiksi haruslah melibatkan pembaca dalam tulisan kita. Teknik ini disebut show don’t tell. Pembaca akan tertarik dengan tulisan fiksi kita, jika ada sensasi yang menimbulkan ketagihan untuk membacanya. Hal ini melibatkan unsur rasa, di mana pembaca seolah-olah ikut merasakan yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Misalnya, ketika menggambarkan tokoh sedang sedih, kita dapat menuliskan penggambaran kesedihannya tanpa harus menuliskan langsung bahwa tokoh sedang sedih, sehingga pembaca pun akan tahu bahwa penggambaran itu membuat tokoh bahkan yang membaca ikut bersedih.

          Belajar menulis cerita fiksi sangatlah penting, sebab akan merangsang imajinasi untuk menciptakan ide-ide baru. Mengapa kita harus belajar menulis cerita fiksi, berikut alasannya:

a.Salah satu aspek yang dinilai dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah literasi teks fiksi. 

          Salah satu komponen dalam AKM atau ANBK adalah literasi, yaitu teks literasi fiksi. Dengan mampu menulis cerita fiksi, seorang guru tentu akan lebih mudah membuat soal latihan AKM untuk muridnya. Mampu membuat sendiri untuk kebutuhan pembelajaran.

b.Sebagai cara menemukan passion dalam bidang kepenulisan.

          Seorang penulis tentu punya gayanya sendiri dalam menulis. Mungkin saja gaya penulisan fiksi bisa jadi identitas bahkan pembeda bagi penulis lainnya.

c.Sebagai upaya menyembunyikan dan menyembuhkan diri.

           Menurut KBBI, fiksi adalah cerita rekaan. Ketika menulis cerita rekaan, tidak dipungkiri adanya sentuhan dari kisah-kisah kehidupan nyata yang terjadi di sekitar, sehingga seolah-olah pembaca juga pernah mengalaminya. Menulis cerita fiksi juga dapat menjadi “curhat tersembunyi” penulisnya. Ketika tidak bisa diungkapkan, maka tulisan fiksi bisa jadi tempat bahkan obat yang dapat menyembuhkan dari kegelisahan, menyelesaikan intrik yang terjadi dalam imajinasi ceritanya.

d.Sebagai jalan mengeksplorasi kemampuan menulis.

            Mengembangkan kemampuan menulis dapat dilakukan dengan belajar menulis fiksi. Misalnya, terkait dengan tema yang dekat dengan penulis yang berprofesi guru, tentu akan lebih mudah mengeksplorasi kemampuan menulisnya, jika membuat cerita fiksi tentang guru dan murid. Dimulai menulis fiksi berdasarkan pengalaman, maka jika dilakukan secara konsisten, kemampuan menulis fiksi akan berkembang dan menemukan kualitasnya.

Apa saja syarat menulis cerita fiksi?

             Jika kita mau, kita pasti bisa. Seperti ungkapan "Man Jadda Wa Jadda" yang memiliki arti, barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti berhasil. Berikut syarat bisa menulis cerita fiksi:

a.Komitmen dan niat yang kuat.

Ada niat, tapi sungkan untuk berkomitmen, maka menulis hanya impian.

b.Kemauan dan kemampuan melakukan riset.

Menurut KBBI, riset adalah penyelidikan (penelitian) suatu masalah secara bersistem, kritis, dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang baru, atau melakukan penafsiran yang lebih baik. Dalam menulis cerita fiksi, seorang penulis harus mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan tema/ide baru atau tema yang sedang popular, melakukan kajian-kajian atau referensi dari berbagai media, sehingga hasil tulisannya semakin berkualitas.

c.Banyak membaca cerita fiksi.

Belajarlah dari penulis cerita fiksi, dengan membaca karyanya. Dengan begitu, kita dapat memahami bagaimana menulis cerita fiksi. Mengembangkan konflik-konflik, sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh.

d.Mempelajari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Penting bagi penulis menguasai kaidah kebahasaan, sehingga tulisannya dapat tersampaikan dengan baik, teratur, dan sistematis.

e.Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi.

Menulis cerita fiksi harus sesuai dengan unsur pembentuk cerita.

f.Menjaga konsistensi menulis.

Menulis harus dilakukan terus menerus sehingga dapat meningkatkan kualitas dan menciptakan “habit” menulis.

Apa saja bentuk cerita fiksi?

Perkembangan dunia tulis menulis fiksi, menghadirkan beberapa bentuk cerita fiksi, diantaranya sebagai berikut:

Bentuk

Ciri

Fiksimini

Beberapa kata

Flash Fiction

Jumlah kata khusus

Pentigraf

Cerita tiga paragraf

Cerpen

< 7.500 kata

Novelet

7.500 – 17.500 kata

Novela

17.500 -40.000 kata

Novel

>40.000 kata

 

Apa saja unsur-unsur pembangun cerita fiksi?

Untuk membuat cerita yang utuh, maka dalam sebuah cerita harus memperhatikan unsur-unsur berikut:

a.Tema

Tema adalah ide pokok yang menjadi dasar cerita. Apa ide yang ingin dihadirkan dalam tulisan fiksi harus dapat dikembangkan menjadi sebuah cerita. Tips menentukan tema, yaitu dekat dengan penulis, menarik perhatian penulis, bahan mudah diperoleh, dan ruang lingkup terbatas. Sedangkan cara menentukan tema adalah menyesuaikan dengan minat, mengangkat kehidupan nyata, berimajinasi, membaca, dan mendengarkan curahan hati. Misalnya saja, seorang guru dapat menuliskan cerita fiksi dengan mengembangkan tema berupa pengalaman siswa belajar di rumah atau perjuangan guru selama pembelajaran jarak jauh, jika dikaitkan dengan pandemi Covid 19 yang melanda dunia pendidikan.

b.Premis

Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsur-unsur premis adalah karakter, tujuan, tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Cara membuat premis, yaitu tulis masing-masing unsur pembentuknya kemudian rangkai menjadi satu kalimat utuh. Contoh premis : Seorang anak SD mengajak dua orang temannya melakukan perjalanan ke rumah kakeknya dan berusaha memperoleh pemahaman tentang materi IPA. Dengan adanya premis, maka garis besar cerita sudah terbentuk.

c.Alur/Plot

Alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Rangkaian peristiwa tersebut terjalin menurut sebab akibat. Macam-macam alur diantaranya alur maju, alur mundur, alur campuran, alur flashback, dan alur kronologis. Unsur-unsur alur/plot, yaitu:

1.pengenalan cerita

2.awal konflik

3.menuju konflik

4.konflik memuncak/klimaks

5.penyelesaian/ending

Penting adanya pengembangan alur cerita yang baik, sehingga pembaca ikut terlibat dalam konflik yang terjadi hingga sampai ke dalam penyelesaian.

Contoh alur/plot:

Pengenalan cerita

Rama seorang siswa SD berusia 11 tahun sedang belajar. Ia mendapatkan tugas dari gurunya tentang pesawat sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Awal konflik

Rama belajar dengan membaca buku paket. Namun, tidak kunjung paham. Ia belum bisa menyelesaikan tugasnya. Ibunya memberikan saran untuk belajar ke rumah kakek.

Menuju konflik

Rama mengajak dua orang temannya. Salah seorang temannya tidak diberikan izin oleh orang tuanya. Rama berusaha meyakinkan akhirnya berhasil mengajak.

Konflik/Klimaks

Rama dan kedua temannya sampai di rumah kakek. Kakek dan nenek meminta mereka menemukan sendiri. Di sana mereka berusaha menemukan pesawat sederhana. Di sana mereka dituduh mencuri oleh anak kampung saat menemukan pesawat sederhana secara tidak sengaja di halaman.

Ending

Setelah kakek dan nenek meminta maaf, mereka bertiga pun dimaafkan. Kakek dan nenek berjanji akan menjelaskan kepada mereka tentang pesawat sederhana. Mereka pun memahami penjelasan sambil menjalankan berbagai macam hukuman. Mereka membersihkan rumah kakek dan nenek menggunakan pesawat sederhana.

 

d.Penokohan

Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dalam menulis cerita fiksi, penggambaran tokoh beserta karakter/wataknya itu penting. Sehingga pembaca paham tentang siapa saja tokoh penting atau tokoh utama maupun tokoh pendukungnya/figuran.

Tokoh berdasarkan jenisnya, yaitu: tokoh utama (tokoh yang sering muncul dalam cerita karena peranannya yang sangat penting) dan tokoh figuran (tokoh pemeran pendamping/pendukung)

Tokoh berdasarkan wataknya, yaitu:

1.Protagonis tokoh yang menampilkan kebaikan,

2.Antagonis tokoh jahat atau tokoh penentang kebaikan,

3.Tritagonis tokoh atau pemeran pendukung yang memiliki karakter penengah dalam cerita, baik untuk tokoh protagonis, maupun antagonis.

Teknik pengembangan tokoh, antara lain:

1.analitik

2.fisik dan perilaku tokoh

3.lingkungan tokoh

4.tata bahasa tokoh

5.penggambaran oleh tokoh lain

Penggambaran tokoh akan menentukan ketertarikan dari pembacanya. Misalnya saja, anak-anak akan tertarik membaca cerita dengan “figur superhero” dengan petualangannya.

e.Latar/Setting

Latar adalah penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Jenis-jenis latar antara lain: latar waktu, latar tempat, latar suasana, latar sosial, latar material, dan latar integral. Penting adanya penggambaran latar dalam sebuah cerita, sehingga pembaca masuk dalam kondisi tersebut.

f.Sudut pandang

Sudut pandang adalah cara penulis menempatkan dirinya terhadap cerita yang diwujudkan dalam pandangan tokoh cerita. Macam-macam sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama tunggal, orang pertama jamak, orang kedua, orang ketiga tunggal, orang ketiga jamak, dan campuran.

Bagaimana kiat menulis cerita fiksi?

Menulis fiksi adalah proses kreatif, yang memerlukan:

a.Niat

Niat untuk menulis akan memotivasi diri untuk memulai dan menyelesaikan tulisan.

b.Baca

Membaca fiksi orang lain adalah upaya menemukan bahan belajar/referensi berupa ide, pemilihan kata, serta gaya dan teknik penulisan.

c.Ide dan Genre

Ide muncul kapan saja, maka segera catat saat ide mendadak muncul. Menemukan ide dapat pula dengan cara mengembangkan imajinasi. Sedangkan pemilihan genre disesuaikan dengan yang disukai dan dikuasai.

d.Outline

Outline adalah kerangka tulisan yang disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi. Kerangka tulisan harus memuat:

1.Tema, agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksinya.

2.Premis, sebagai pengembangan tema.

3.Alur, harus berdasarkan unsur-unsurnya.

4.Penokohan, harus berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik.

5.Latar, harus menunjukkan sisi eksotis dan detail.

6.Sudut pandang, akan menggambarkan penceritaan yang unik.

e.Menulis

Proses menulis harus bisa membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik). Melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik cara memaparkan secara jelas kepada pembaca. Menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh. Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi. Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas. Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi), kemudian membuat ending yang baik.

f.Swasunting

Swasunting adalah proses meneliti kembali atau proses penyuntingan suatu naskah tulisan yang dilakukan oleh penulis untuk menyelesaikan tulisannya dan meminimalkan kesalahan dalam tulisannya. Swasunting dilakukan setelah tulisan selesai, bukan saat menulis. Saat menulis fokus saja pada pengembangan ide, setelah selesai baru dilakukan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita. Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri. Secara objektif memperbaiki kesalahan dalam tulisan. Jangan lupa menyiapkan KBBI dan PUEBI.

g.Publikasi

Setelah proses kreatif dalam menulis cerita fiksi selesai, tulisan kita siap untuk dipublikasikan. Banyak media yang dapat kita gunakan untuk mengenalkan dan mempublikasikan karya tulis kita kepada khalayak. Misalnya saja melalui blog atau mengikuti komunitas menulis agar karya tulis kita dapat diterbitkan menjadi sebuah buku.

           Demikian materi kelas menulis pertemuan ke-11 dengan tema "Kiat Menulis Cerita Fiksi". Mari visualkan imajinasimu dengan menulis!

2 komentar:

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...