Minggu, 14 November 2021

Mengenal Penerbit Indie

 


Resume materi     : 17

Tema                    : Mengenal Penerbit Indie

Pemateri               : Mukminin, S.Pd., M.Pd.

Moderator            : Aam Nurhasanah        

Gelombang           : 22   

Penulis                  : Eulis Anggunsari, S.Pd.

Inilah perjalananku menulis hari ini!

Pertemuan menulis ketujuh belas

Bersiaplah untuk kita berkemas

Perjalanan menulis kali ini, dimulai dengan kata berkemas. Ya, berkemas untuk menyiapkan naskah resume pelatihan menulis menjadi sebuah buku.

Untuk menerbitkan buku, tentu penulis harus menentukan penerbitnya. Dalam pertemuan pelatihan belajar menulis PGRI, Rabu, 10 November 2021, Pak Mukminin membersamai peserta sebagai narasumber dan Bu Aam Nurhasanah sebagai moderator. Pak Mukminin akan mengajak kita mengenal penerbit dari tulisan yang sudah kita kemas, melalui tema pertemuan kali ini, yaitu “Mengenal Penerbit Indie”.

Mari kenali dulu narasumber kali ini, Pak Mukminin!

Pak Mukminin,  S.Pd., M.Pd. atau akrab disapa Cak Inin adalah narasumber penerbit indie dan alumni pelatihan belajar menulis PGRI gelombang 8. Mukminin, S.Pd.,M.Pd. lahir di Jombang, 6 Juli 1965. Lulus D2  IKIP NEGERI Surabaya tahun 1987. Lulus S1 IKIP PGRI Tuban 1998. Lulus S 2 UNISDA LAMONGAN 2012, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Berikut profil Cak Inin:

https://cakinin.blogspot.com//10/curiculum-vitae.html

Hobi membaca dan menulis, mengantarkan beliau menjadi penulis buku. Buku solo perdana Cak Inin berjudul "55 Pantun Nasehat", terbit tepat di usia ke 55 tahun. Usia bukan penghalang, justru pembuka jalan.



Hasil resume kuliah online bersama Om Jay dan PGRI pada gelombang 8, yang dimulai Maret s.d. Juli 2020, Cak Inin terbitkan melalui buku berjudul "Jurus Jitu Menjadi Penulis Andal Bersama Pakar". Buku ini merupakan karya Cak Inin yang berbuah manis, sebab mendapat sambutan hangat dari para pembacanya.

 

Berdasarkan profil beliau, yang mulai menulis buku di usia 55 tahun, memberikan motivasi kepada kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi penulis buku. Berbuatlah selagi bisa, maka kita akan menemukan identitas kita.

Di zaman era informasi digital ini, semua orang bisa menulis dan menerbitkan buku. Baik sebagai pelajar, mahasiswa, pegawai, guru, dosen, maupun wiraswasta. Menulis dan menerbitkan buku itu mudah, tidak serumit yang kita bayangkan. Apalagi sebagai seorang guru pasti bisa menulis baik fiksi maupun karya ilmiah. Guru memiliki banyak kisah dan pengalaman inspiratif, yang dapat ditulis dan diterbitkan menjadi buku yang bermanfaat bagi orang lain/ pembaca.

Uintuk bisa terlatih menulis memang butuh ketekunan dan perjuangan. Selain itu, perlu juga tekad dan motivasi tinggi agar tidak goyah saat menjalani proses menulis.

Berbicara motivasi, ada banyak kata-kata agar terus semangat menulis. Melalui kata-kata mutiara tentang menulis bisa menjadi motivasi agar sukses dalam berkarya.

Kata-kata mutiara motivasi diri dalam menulis:

1."Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak". - Ali bin Abi Thalib

2. "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis". - Imam Al-Ghazali

Menulislah agar kita punya karya yang tetap terjaga.

Seorang yang ingin bisa menulis dan menerbitkan buku, maka perlu memahami tahapan menerbitkan buku. Ada 5 (lima) tahapan yg harus dilalui:

1. Prawriting

a)     Tahap awal penulis mencari ide apa yang akan ditulis dengan peka terhadap sekitar (pay attention).

b)    Penulis harus kreatif menangkap fenomena yg terjadi di sekitar untuk menjadi tulisan. Sehingga menarik minat pembaca.

c)     Penulis banyak membaca buku. Jika ide tak lagi muncul, ciptakan dengan membaca.

2. Drafting

Penulis mulai menulis naskah buku sesuai dengan apa yang disukai (passion). Boleh menulis artikel, cerpen, puisi, novel dan sebagainya dengan penuh kreatif dalam merangkai kata, menggunakan majas, dan berekpresi untuk menarik pembaca.

3. Revisi

Setelah naskah selesai maka kita lakukan revisi naskah. Merevisi tulisan mana yang baik dicantumkan, naskah mana yang perlu dibuang, naskah mana yang perlu ditambahkan.

4. Editing/ Swasunting

Setelah naskah direvisi, maka masuk tahapan editing. Penulis melakukan pengeditan. Hal ini berkaitan dengan menghindari kesalahan yang dapat terjadi, baik dalam aspek kebahasaan, maupun secara substansi/isi naskah, sehingga buku yang diterbitkan menjadi berkualitas. Tahap ini boleh dikatakan sebagai "Swasunting" yaitu menyunting tulisan sendiri sebelum masuk penerbit. Maka penulis dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai PUEBI.

5. Publikasi 

Jika tulisan berupa naskah buku sudah yakin, maka perjalanan menulis memasuki tahap publikasi atau penerbitan buku.

Pertanyaannya apakah Anda sudah mempunyai pandangan penerbit yang akan menerbitkan buku Anda?

Jawabannya adalah penerbit independen (penerbit Indie) yang Anda suka. Melalui pelatihan belajar menulis PGRI gelombang 22 ini, ada beberapa penerbit indie yang dapat membantu dalam menerbitkan buku, yaitu:

Oase;

Gemala;

YPTD;dan

Kamila Press Lamongan.

Sudah siap, menerbitkan buku?

Kenali jenis penerbit dulu, ya! Penerbit buku ada dua (2) macam, yaitu penerbit mayor dan penerbit indie. Apa perbedaannya? mari ikuti uraian berikut ini:

No.

Perbedaan

Penerbit Mayor

Penerbit Indie

1.

Jumlah Cetakan

Penerbit mayor  mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku.

Penerbit indie hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD (Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.

2.

Pemilihan Naskah yang Diterbitkan

Naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum menerbitkan sebuah naskah. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan.

Tidak menolak naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan, tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi, naskah tersebut pasti kami terbitkan. Penerbit indie adalah alternatif baru bagi para penulis untuk membukukan tulisannya.

3.

Profesionalitas

Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan SDM di perusahaan besar mereka.

Penerbit indie pun profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah penerbitan. Kadang murah cover kurang bagus, kertas dalam cokelat kasar bukan bookpaper (kertas coklat halus). Contoh penerbit indie, yaitu Kamila Press Lamongan yang menjaga mutu cover bagus cerah mengkilat isi buku kertas cokelat halus dan awet (bookpapar).

4.

Waktu Penerbitan

Pada umumnya sebuah naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui. Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.

Penerbit indie akan segera memproses naskah yang diterima dengan cepat. Dalam hitungan minggu buku sudah bisa terbit. Karena memang, tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini dan itu. Penerbit indie menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.

5.

Royalti

Kebanyakan penerbit mayor mematok royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku.

Umumnya 15-20%  dari harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis lewat fb, instagram, wa grup, twitter, status, dll.

6.

Biaya Penerbitan

Biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit.

Berbayar sesuai dengan aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yang diterbitkan tidak sama.

 

Setelah memahami perbedaan antara penerbit mayor dan penerbit indie. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Anda  sudah mempunyai pandangan penerbit yang akan menerbitkan buku Anda?

Janganlah ragu, bergabunglah dengan penerbit Kamila Press Lamongan! Solusi untuk menerbitkan buku Anda.

CV Kamila Press Lamongan

Melayani cetak buku, dengan jasa ISBN,  editing,  Lay out, dan  design cover buku  dengan harga terjangkau.

Berikut syarat-syarat penerbitan di KAMILA PRESS LAMONGAN:

1. Kirimkan naskah lengkap mulai judul, kata pengantar, daftar isi, naskah daftar isi, daftar pustaka, biodata penulis dengan foto penulis, dan synopsis.

2. Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran font 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf Arial, Calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file kirim ke WA Cak Inin atau email gusmukminin@gmail.com

Bagaimana dengan rincian biayanya?

Biaya Cetak buku  A5, kertas "Bookpapar (coklat halus)", termasuk biaya ISBN, Layuot, edit, cover buku:

A. 60 halaman:

- Cetak 5 buku/ eksp. =  566.000

- Cetak 10 buku/ eksp. =  632.000, plus ongkir

B. 70 halaman: 

 

-         Cetak 5 buku = 570.000

-         Cetak 10 buku = 650.000, plus ongkir

C. 85 halaman :

 - Cetak 5 buku = 580.000

- Cetak 10 buku = 660.000

D. 90 halaman:

- Cetak 5 buku = 600.000

- Cetak 10 buku = 715.000

E. 100 halaman:

- Cetak 5 buku = 635.000

- Cetak 10 buku = 725.000

F. 125 halaman:

- Cetak 5 buku = 650.000

- Cetak 10 buku = 751.000

G. 150 halaman:

- Cetak 5 buku = 665.000

- Cetak 10 buku = 800.000

H. 200 halaman:

-  Cetak 5 buku = 695.000

- Cetak 10 buku = 841.000

I. 250 halaman:

- Cetak 5 buku = 725.000

- Cetak 10 buku = 900.000

J. 300 halaman:

- Cetak 5 buku = 753.000

- Cetak 10 buku = 957.000

Setelah cetak 10 buku dengan jumlah halaman dan harga tersebut, lebihnya dihitung harga cetak ulang :

1.  Cetak buku 60 halaman

Harga @ 20.000

2. Cetak buku 70-75  halaman harga  @21.000

3. Cetak buku 100 halaman harga @ 23.500

4. Cetak buku 140 halaman harga @ 27.000

5. Cetak buku 150 halaman @ 30.000

6. Cetak buku 250 halaman harga @ 40.000

7. Cetak buku  300 halaman harga @  45.000

Demikian materi pada pertemuan kali ini tentang mengenal penerbit indie, yang salah satunya adalah CV Kamila Press Lamongan. Tunggu apalagi dengan mudahnya informasi menerbitkan buku melalui pelatihan belajar menulis ini, sudah saatnya, “Menerbitkan Buku”. Buku adalah cerminan kita, dalam ribuan kilometer perjalanan!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...