Resume
materi : 15
Tema : Konsep Buku Nonfiksi
Pemateri : Musiin, M.Pd.
Moderator : Ms.Phia
Gelombang : 22
Penulis : Eulis Anggunsari, S.Pd.
Tak
terasa pertemuan kelas menulis gelombang 22, sudah berada di pertengahan
perjalanan. Ya, inilah perjalanan saya menuju suatu tujuan, yakni belajar
menulis hingga mempersembahkan hasil tulisan menjadi sebuah buku. Bismillah,
semoga Allah mudahkan.
Pertemuan
ke-15 kali ini, dimoderatori oleh Ms.Phia, yang juga sudah berhasil menerbitkan
buku melalui kelas menulis ini. Ms.Phia memperkenalkan narasumber, yakni Ibu
Musiin, M.Pd., yang akan membersamai bapak/ibu peserta menulis gelombang 22,
dengan tema “Konsep Buku Nonfiksi”.
Berikut
profil narasumber:
Musiin atau biasa dipanggil Bu Iin oleh orang-orang
di sekitarnya memiliki hobi membaca buku, menulis, travelling, dan memasak. Ia
lahir di kota Tahu Takwa Kediri dan merupakan seorang guru Bahasa Inggris di
SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998 .
Ia
pertama kali masuk sekolah di tahun 1977 – 1983 di SDN Kras I Kediri. Kemudian
setelah lulus melanjutkannya ke SMPN Kras dari tahun 1983-1986 dan sekolah lagi ke SMAN 4 Kediri lulus tahun
1989. Dari tahun 1989-1994. Ia melanjutkan ke IKIP negeri Malang Jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris. Pendidikan Strata II ditempuh di Universitas Negeri
Surabaya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Satra mulai tahun 2006-2009.
Kecintaan
akan profesi guru Bahasa Inggris membawanya menempuh Short Course di SEAMEO
RELC Singapura tahun 2015.
Pengalaman
mengajar dimulai dari menjadi dosen pada tahun 1994 di STKIP PGRI Jombang, STIE
Dewantara Jombang dan tutor bagi pekerja asing di PT Chiel Jedang Jombang.
Di
lingkungan dunia pendidikan, ia aktif menjadi tim pengembang mata pelajaran
Bahasa Inggris dan tim penilai angka kredit guru di tingkat Kabupaten Kediri.
Ia
juga Founder Organisasi Masyarakat. Seorang ibu yang penuh ide, suka berinovasi
dan semangat berbagi. Menghasilkan banyak buku dan menjadi editor. Bahkan
menjadi penulis buku nonfiksi telah mengantarkan untuk mengikuti ujian
sertifikat penulis dan telah berhasil memegang sertifikasi penulis pada tahun
2020.
Membaca
profil beliau, satu kata yang tepat disematkan untuk beliau “Super”. Ya, super
dalam berbagai bidang yang digeluti. Tidak semua orang dapat melakukannya.
Mengerjakan banyak hal, mungkin saja bisa, namun berhasil atau tidaknya, itulah
pilihannya. Siapa yang berhasil memilih, dia yang akan menjadi pemenangnya.
Pertemuan
kali ini Bu Iin, akan memberikan ilmunya dalam penulisan buku nonfiksi. Bu Iin
adalah alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8 yang juga mendapat kesempatan
sekaligus tantangan menulis yang diberikan Prof. Ekoji. Ia telah berhasil
menaklukakan tantangan menulis Prof.Ekoji dan bukunya telah berhasil dipajang
di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Bukunya berjudul “Literasi
Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi”.
Menulis
hadir dari kesungguhan hati, maka hindarilah ketakutan. Ketakutan ketika
menulis diantaranya: takut tidak ada yang membaca, takut salah
dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan, atau merasa karya orang lain lebih
bagus. Ketakutan itu ternyata
merendahkan potensi untuk menulis. Jika kita mampu mengatasi ketakutan
akan kesulitan menulis, maka kita akan mampu menjadi pemenang. Pemenang dalam
menerbitkan buku-buku terbaik.
Dengan
mengikuti pelatihan menulis akan meningkatkan kepercayaan diri dan menghindari
ketakutan dalam menulis. Bersama Om Jay dan pemateri hebat yang memberikan
motivasi untuk tetap menulis. Kegiatan ini adalah langkah untuk menuju sebuah
puncak kesuksesan untuk menjadi penulis yang hebat.
Bu
Iin membagi pengalamannya menulis bersama Prof.Ekoji, yang diibaratkan sebagai
seorang “Master Chef” yang memberi banyak
pilihan bahan masakan yang bisa diolah menjadi berbagai jenis hidangan.
Pilihannya ada pada diri masing-masing peserta. Bahan masakan yang disediakan
Prof Eko, bisa diperoleh di EKOJI Channel. Seperti yang disampaikan Prof.Ekoji,
menulis dapat disesuaikan dengan hobi, kegemaran, kesukaan, cerita, atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai.
Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang
ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. Maka, dalam kegiatan menulis
ini, kita akan belajar melahirkan buku tersebut.
Tentu
banyak hal dalam kehidupan yang dapat kita tuliskan. Namun tidak semua bisa
membukukannya. Hal ini bergantung pada kesiapan seseorang untuk menghadirkan
apa yang ada dipikiran menjadi suatu visual, yang dapat diketahui oleh banyak
orang. Menjadi jejak keabadian, yang menunjukkan kehidupan dalam ribuan
kilometer jauhnya.
Menulis
bukanlah keterampilan yang mudah. Keterampilan produktif yang memerlukan
kematangan pikiran, sehingga dapat mengolah suatu ilmu. Perjuangan menjadi
penulis dengan mengikuti kelas menulis, langkah tepat untuk meningkatkan
keterampilan menulis, yang menghasilkan buku, dan melahirkan kecintaan terhadap
menulis.
Apa alasan menjadi penulis?
Penulis
harus memahami alasan dalam menulis, sehingga dapat memposisikan diri, untuk
apa ia melakukannya. Berikut alasan menjadi penulis:
a.Mewariskan
ilmu lewat buku.
b.Ingin
punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun
offline.
c.Mengembangkan
profesi sebagai seorang guru.
Kutipan
dari Pramoedya Ananta Toer tentang menulis, menjadi penguat bahwa menulis akan
memberikan kontribusi luar biasa dalam kehidupan. Seseorang akan dikenal dan
dikenang dengan ilmunya melalui tulisan.
Pikiran
menjadi penulis harus diimbangi dengan keikutsertaan dalam mengikuti kelas menulis
(salah satunya kelas Om Jay dan
tantangan menulis selama 1 minggu bersama Prof.Ekoji). Dengan begitu,
menerbitkan sebuah buku bukan lagi menjadi mimpi.
Berkaitan
dengan tema pada pertemuan ini. Mari kita ketahui tentang pengertian buku
nonfiksi!
Buku
nonfiksi merupakan buku yang berisi kejadian sebenarnya dan bersifat
informatif. Menurut KBBI, nonfiksi adalah yang tidak bersifat fiksi, tetapi
berdasarkan fakta dan kenyataan (tentang karya sastra, karangan, dan
sebagainya).
Dalam
penulisan buku nonfiksi ada 3 pola, yakni:
1.Pola
Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari
sederhana ke rumit.)
Contoh:
Buku Pelajaran
2.Pola
Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.)
Contoh:
Buku Panduan
3.Pola
Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini
diterapkan pada buku-buku kumpulan
tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara.)
Contoh
buku pola klaster, yakni buku Bu Iin berjudul “Literasi Digital Nusantara.
Meningkatkan Daya Saing Generasi”.
Bagaimana
menulis buku nonfiksi? Berikut proses penulisan buku yang terdiri atas 5 (lima) langkah, yakni:
1.Pratulis
Dalam
kegiatan pratulis, yang harus dilakukan adalah:
a.Menentukan
tema
Dalam
menentukan tema, fokus pada satu (1) ide dasar yang akan dikembangkan dalam
sebuah buku. Pilihlah tema yang dikuasai/ yang menjadi passion, sehingga tidak ada keraguan dalam menulis. Tema dari buku
nonfiksi, dapat berupa parenting, pendidikan, motivasi dll.
b.Menemukan
ide
Penulis
dapat menemukan ide menarik yang akan menjadi inspirasi dari berbagai hal yang
ada di sekitar, seperti pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, berita di
media massa, status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, imajinasi, mengamati
lingkungan, perenungan, dan membaca buku.
c.Merencanakan
jenis tulisan
Tentukan
jenis tulisan sehingga tulisan menjadi teratur dan sistematis. Bunda Iin dalam
bukunya, mengangkat tema pendidikan. Ide berasal dari berita di media
massa, mengamati lingkungan serta
diperkuat dari materi di Prof.EKOJI Channel dengan judul Digital Mindset (The
Key to Transform Your Organization) yang tayang pada tanggal 20 Maret 2020.
Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi di internet.
Sebab buku tersebut ditulis di awal pandemi Covid-19, jadi semua referensi
berasal dari internet.
d.Mengumpulkan
bahan tulisan
Untuk
memperkaya tulisan, maka penulis harus mengumpulkan bahan tulisan/referensi
yang sesuai. Referensi terdiri atas:
1.Pengetahuan
yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal;
2.Keterampilan
yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal;
3.Pengalaman
yang diperoleh sejak balita hingga saat ini;
4.
Penemuan yang telah didapatkan;
5.
Pemikiran yang telah direnungkan.
e.Bertukar
pikiran
Penulis
harus bertukar pikiran dengan penulis lainnya. Terlebih jika mempunyai mentor
yang relevan, sehingga menghadirkan tulisan yang berkualitas.
f.Menyusun
daftar
Penulis
harus menyusun daftar yang sistematis.
g.Meriset
Penulis
harus melakukan penelitian yang sesuai untuk meningkatkan tulisannya.
h.Membuat
Mind Mapping
Penulis
harus membuat peta pikiran, sehingga tulisannya teratur.
i.Menyusun
kerangka
Tahap
berikutnya membuat kerangka. Berikut contoh kerangka penulisan buku nonfiksi, kerangka
ini Bu Iin ajukan ke Prof. Ekoji dan disetujui untuk melanjutkan ke proses
penulisan:
BAB
1 Penggunaan Internet Di Indonesia
A. Pembagian Generasi Pengguna Internet
B. Karakteristik Generasi Dalam Berinternet
BAB
2 Media Sosial
A. Media Sosial
B. UU ITE
C. Kejahatan di Media Sosial
BAB
3 Literasi Digital
A. Pengertian
B. Elemen
C. Pengembangan
D. Kerangka Literasi Digital
E. Level Kompetensi Literasi Digital
F. Manfaat
G. Penerapan Literasi Digital Pada Lintas
Geerasi
H. Kewargaan Digital
BAB
4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara
A. Keluarga
B. Sekolah
C. Masyarakat
BAB
5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62
A. Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di
Indonesia
B. Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di
Indonesia
C. Membangun Digital Mindset Warganet +62
Dalam
menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, Bu Iin mengikuti nasihat Pak
Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be).
Pak Yulius juga merupakan alumni gelombang 8. Langkah beliau sangat mujarab
untuk menulis sebuah buku. Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan kita
menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar
pustaka tertata secara otomatis.
Berikut
ini contoh anatomi buku nonfiksi:
1. Halaman Judul
2. Halaman Persembahan (OPSIONAL)
3. Halaman Daftar Isi
4. Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta
kepada tokoh yang berpengaruh)
5. Halaman Prakata
6. Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)
7. Bagian /Bab
8. Halaman Lampiran (OPSIONAL)
9. Halaman Glosarium
10. Halaman Daftar Pustaka
11. Halaman Indeks
12. Halaman Tentang Penulis
2.Menulis
Draf
Setelah
melalui langkah pratulis, penulis mulai menulis draf, berdasarkan kerangka yang
sudah dibuat. Menghubungkan berbagai teori yang berhubungan dengan tulisan.
Langkah
menulis draf, yakni:
a.Menuangkan
konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas.
b.Tidak
mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan.
3.Merevisi
Draf
Langkah
merevisi draf, yakni:
a.Merevisi
sistematika/struktur tulisan dan penyajian.
b.Memeriksa
gambaran besar dari naskah.
4.Menyunting
Naskah
Langkah
menyunting naskah, harus memperhatikan KBBI dan PUEBI. Hal-hal yang harus
diperhatikan adalah ejaan, tata bahasa, diksi, serta data dan fakta.
5.Menerbitkan
Setelah
empat (4) langkah di atas terpenuhi, maka buku siap untuk diterbitkan.
Adakah
hambatan dalam menulis? Tentu saja terkadang penulis merasa kesulitan menulis
dengan berbagai hambatan, seperti berikut:
a.Hambatan
waktu
b.Hambatan
kreativitas
c.Hambatan
teknis
d.Hambatan
tujuan
e.Hambatan
psikologis
Bagaimanakah
cara mengatasinya? Mengatasi hambatan menulis dapat dilakukan dengan banyak
membaca, mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait
dengan narasumber, disiplin menulis setiap hari, atau melakukan hobi terlebih
dahulu, untuk meningkatkan mood,
sehingga dapat kembali menulis.
Om
Jay telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga dengan menulis setiap hari
di blog. Dari tulisan tersebut, pasti akan menjadi sangat menarik karena
berdasarkan apa yang kita alami dan kita rasakan. Blog yang kita tulis adalah
refleksi dari apa yang kita rasakan atau pengalaman yang terjadi, dan ini akan
menjadi sesuatu yang bermakna jika berupa buku. Selanjutnya dengan seiring
waktu, melalui belajar menulis setiap hari. Akan muncul ide untuk menulis buku
nonfiksi.
Di
era informasi yang begitu deras ini, dalam hitungan detik informasi baru selalu
muncul. Tentu kita tidak boleh begitu saja mempercayai suatu sumber, terlebih
untuk penulisan buku nonfiksi. Salah satu cara untuk mengenali apakah informasi
itu valid dengan memverifikasi sumber berita. Kita bisa mengenali apakah sumber
berita tersebut hoax atau fakta dengan berbagai aplikasi. Aplikasi plagiarism
checker bisa mendeteksi apakah tulisan tersebut copy paste dari tulisan orang
lain. Google image juga sangat membantu kita mengetahui kebenaran suatu sumber
dengan cara copy gambar dari berita dan kita cari di google pencarian gambar. Penulis
bisa menggunakan sumber yang diambil dari internet dengan menuliskan sumbernya.
Demikian
materi yang disampaikan Bu Iin dalam pertemuan kali ini. Bu Iin menyampaikan
bahwa menulis adalah melaksanakan kesempatan. Kesempatan untuk menerbitkan buku
bersama Om Jay dan kesempatan dalam menaklukan tantangan menulis bersama
Prof.Ekoji. Namun pertanyaannya, mau ambil kesempatan itu atau tidak sama
sekali?
“Fokuslah pada suatu tujuan menulismu
saat ini “menerbitkan buku”, maka penulis akan menemukan identitasnya!”
Write like a pro. Good job
BalasHapusThanks Ms.Phia
BalasHapus