Minggu, 07 November 2021

Konsep Buku Nonfiksi

 

Resume materi   : 15

Tema                  : Konsep Buku Nonfiksi

Pemateri             : Musiin, M.Pd.

Moderator          : Ms.Phia

Gelombang        : 22

Penulis               : Eulis Anggunsari, S.Pd.

 

Tak terasa pertemuan kelas menulis gelombang 22, sudah berada di pertengahan perjalanan. Ya, inilah perjalanan saya menuju suatu tujuan, yakni belajar menulis hingga mempersembahkan hasil tulisan menjadi sebuah buku. Bismillah, semoga Allah mudahkan.

Pertemuan ke-15 kali ini, dimoderatori oleh Ms.Phia, yang juga sudah berhasil menerbitkan buku melalui kelas menulis ini. Ms.Phia memperkenalkan narasumber, yakni Ibu Musiin, M.Pd., yang akan membersamai bapak/ibu peserta menulis gelombang 22, dengan tema “Konsep Buku Nonfiksi”.

Berikut profil narasumber:

Musiin  atau biasa dipanggil Bu Iin oleh orang-orang di sekitarnya memiliki hobi membaca buku, menulis, travelling, dan memasak. Ia lahir di kota Tahu Takwa Kediri dan merupakan seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998 .

Ia pertama kali masuk sekolah di tahun 1977 – 1983 di SDN Kras I Kediri. Kemudian setelah lulus melanjutkannya ke SMPN Kras dari tahun 1983-1986 dan  sekolah lagi ke SMAN 4 Kediri lulus tahun 1989. Dari tahun 1989-1994. Ia melanjutkan ke IKIP negeri Malang Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Pendidikan Strata II ditempuh di Universitas Negeri Surabaya Jurusan Pendidikan Bahasa dan Satra mulai tahun 2006-2009.

Kecintaan akan profesi guru Bahasa Inggris membawanya menempuh Short Course di SEAMEO RELC Singapura tahun 2015.

Pengalaman mengajar dimulai dari menjadi dosen pada tahun 1994 di STKIP PGRI Jombang, STIE Dewantara Jombang dan tutor bagi pekerja asing di PT Chiel Jedang Jombang.

Di lingkungan dunia pendidikan, ia aktif menjadi tim pengembang mata pelajaran Bahasa Inggris dan tim penilai angka kredit guru di tingkat Kabupaten Kediri.

Ia juga Founder Organisasi Masyarakat. Seorang ibu yang penuh ide, suka berinovasi dan semangat berbagi. Menghasilkan banyak buku dan menjadi editor. Bahkan menjadi penulis buku nonfiksi telah mengantarkan untuk mengikuti ujian sertifikat penulis dan telah berhasil memegang sertifikasi penulis pada tahun 2020.

Membaca profil beliau, satu kata yang tepat disematkan untuk beliau “Super”. Ya, super dalam berbagai bidang yang digeluti. Tidak semua orang dapat melakukannya. Mengerjakan banyak hal, mungkin saja bisa, namun berhasil atau tidaknya, itulah pilihannya. Siapa yang berhasil memilih, dia yang akan menjadi pemenangnya.

Pertemuan kali ini Bu Iin, akan memberikan ilmunya dalam penulisan buku nonfiksi. Bu Iin adalah alumni kelas menulis Om Jay gelombang 8 yang juga mendapat kesempatan sekaligus tantangan menulis yang diberikan Prof. Ekoji. Ia telah berhasil menaklukakan tantangan menulis Prof.Ekoji dan bukunya telah berhasil dipajang di toko buku Gramedia secara online maupun offline. Bukunya berjudul “Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi”.

Menulis hadir dari kesungguhan hati, maka hindarilah ketakutan. Ketakutan ketika menulis diantaranya: takut tidak ada yang membaca, takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan, atau merasa karya orang lain lebih bagus. Ketakutan itu ternyata  merendahkan potensi untuk menulis. Jika kita mampu mengatasi ketakutan akan kesulitan menulis, maka kita akan mampu menjadi pemenang. Pemenang dalam menerbitkan buku-buku terbaik.

Dengan mengikuti pelatihan menulis akan meningkatkan kepercayaan diri dan menghindari ketakutan dalam menulis. Bersama Om Jay dan pemateri hebat yang memberikan motivasi untuk tetap menulis. Kegiatan ini adalah langkah untuk menuju sebuah puncak kesuksesan untuk menjadi penulis yang hebat.

Bu Iin membagi pengalamannya menulis bersama Prof.Ekoji, yang diibaratkan sebagai seorang “Master Chef”  yang memberi banyak pilihan bahan masakan yang bisa diolah menjadi berbagai jenis hidangan. Pilihannya ada pada diri masing-masing peserta. Bahan masakan yang disediakan Prof Eko, bisa diperoleh di EKOJI Channel. Seperti yang disampaikan Prof.Ekoji, menulis dapat disesuaikan dengan hobi, kegemaran, kesukaan, cerita,  atau sesuatu yang dikuasai dan dicintai. Pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki adalah bentuk buku yang ada di dalam diri kita yang belum dikeluarkan. Maka, dalam kegiatan menulis ini, kita akan belajar melahirkan buku tersebut.

Tentu banyak hal dalam kehidupan yang dapat kita tuliskan. Namun tidak semua bisa membukukannya. Hal ini bergantung pada kesiapan seseorang untuk menghadirkan apa yang ada dipikiran menjadi suatu visual, yang dapat diketahui oleh banyak orang. Menjadi jejak keabadian, yang menunjukkan kehidupan dalam ribuan kilometer jauhnya.

Menulis bukanlah keterampilan yang mudah. Keterampilan produktif yang memerlukan kematangan pikiran, sehingga dapat mengolah suatu ilmu. Perjuangan menjadi penulis dengan mengikuti kelas menulis, langkah tepat untuk meningkatkan keterampilan menulis, yang menghasilkan buku, dan melahirkan kecintaan terhadap menulis.

Apa alasan menjadi penulis?

Penulis harus memahami alasan dalam menulis, sehingga dapat memposisikan diri, untuk apa ia melakukannya. Berikut alasan menjadi penulis:

a.Mewariskan ilmu lewat buku.

b.Ingin punya buku karya sendiri yang bisa terpajang di toko buku online maupun offline.

c.Mengembangkan profesi sebagai seorang guru.

Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer tentang menulis, menjadi penguat bahwa menulis akan memberikan kontribusi luar biasa dalam kehidupan. Seseorang akan dikenal dan dikenang dengan ilmunya melalui tulisan.



Pikiran menjadi penulis harus diimbangi dengan keikutsertaan dalam mengikuti kelas menulis (salah satunya kelas Om Jay dan  tantangan menulis selama 1 minggu bersama Prof.Ekoji). Dengan begitu, menerbitkan sebuah buku bukan lagi menjadi mimpi.

Berkaitan dengan tema pada pertemuan ini. Mari kita ketahui tentang pengertian buku nonfiksi!

Buku nonfiksi merupakan buku yang berisi kejadian sebenarnya dan bersifat informatif. Menurut KBBI, nonfiksi adalah yang tidak bersifat fiksi, tetapi berdasarkan fakta dan kenyataan (tentang karya sastra, karangan, dan sebagainya).

Dalam penulisan buku nonfiksi ada 3 pola, yakni:

1.Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit.)

Contoh: Buku Pelajaran

2.Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses.)

Contoh: Buku Panduan

3.Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antarbab setara.)

Contoh buku pola klaster, yakni buku Bu Iin berjudul “Literasi Digital Nusantara. Meningkatkan Daya Saing Generasi”.



Bagaimana menulis buku nonfiksi? Berikut proses penulisan buku yang terdiri atas 5 (lima)  langkah, yakni:

1.Pratulis

Dalam kegiatan pratulis, yang harus dilakukan adalah:

a.Menentukan tema

Dalam menentukan tema, fokus pada satu (1) ide dasar yang akan dikembangkan dalam sebuah buku. Pilihlah tema yang dikuasai/ yang menjadi passion, sehingga tidak ada keraguan dalam menulis. Tema dari buku nonfiksi, dapat berupa parenting, pendidikan, motivasi dll.

b.Menemukan ide

Penulis dapat menemukan ide menarik yang akan menjadi inspirasi dari berbagai hal yang ada di sekitar, seperti pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, berita di media massa, status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram, imajinasi, mengamati lingkungan, perenungan, dan membaca buku.

c.Merencanakan jenis tulisan

Tentukan jenis tulisan sehingga tulisan menjadi teratur dan sistematis. Bunda Iin dalam bukunya, mengangkat tema pendidikan. Ide berasal dari berita di media massa,  mengamati lingkungan serta diperkuat dari materi di Prof.EKOJI Channel dengan judul Digital Mindset (The Key to Transform Your Organization) yang tayang pada tanggal 20 Maret 2020. Referensi berasal dari data dan fakta yang diperoleh dari literasi di internet. Sebab buku tersebut ditulis di awal pandemi Covid-19, jadi semua referensi berasal dari internet.

d.Mengumpulkan bahan tulisan

Untuk memperkaya tulisan, maka penulis harus mengumpulkan bahan tulisan/referensi yang sesuai. Referensi terdiri atas:

1.Pengetahuan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal;

2.Keterampilan yang diperoleh secara formal, nonformal, atau informal;

3.Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini;

4. Penemuan yang telah didapatkan;

5. Pemikiran yang telah direnungkan.       

e.Bertukar pikiran

Penulis harus bertukar pikiran dengan penulis lainnya. Terlebih jika mempunyai mentor yang relevan, sehingga menghadirkan tulisan yang berkualitas.

f.Menyusun daftar

Penulis harus menyusun daftar yang sistematis.

g.Meriset

Penulis harus melakukan penelitian yang sesuai untuk meningkatkan tulisannya.

h.Membuat Mind Mapping

Penulis harus membuat peta pikiran, sehingga tulisannya teratur.

i.Menyusun kerangka

Tahap berikutnya membuat kerangka. Berikut contoh kerangka penulisan buku nonfiksi, kerangka ini Bu Iin ajukan ke Prof. Ekoji dan disetujui untuk melanjutkan ke proses penulisan:

BAB 1 Penggunaan Internet Di Indonesia

A.      Pembagian Generasi Pengguna Internet

B.      Karakteristik Generasi Dalam Berinternet

BAB 2 Media Sosial

A.      Media Sosial

B.      UU ITE

C.      Kejahatan di Media Sosial

BAB 3 Literasi Digital

A.      Pengertian

B.      Elemen

C.      Pengembangan

D.      Kerangka Literasi Digital

E.      Level Kompetensi Literasi Digital

F.      Manfaat

G.      Penerapan Literasi Digital Pada Lintas Geerasi

H.      Kewargaan Digital

 

BAB 4 Ekosistem Literasi Digital Di Nusantara

A.      Keluarga

B.      Sekolah

C.      Masyarakat

BAB 5 Literasi Digital Untuk Membangun Digital Mindset Warganet +62

A.      Perkembangan Gerakan Literasi Digital Di Indonesia

B.      Literasi Digital Tanpa Digital Mindset Di Indonesia

C.      Membangun Digital Mindset Warganet +62

Dalam menulis isi buku berdasarkan kerangka yang dibuat, Bu Iin mengikuti nasihat Pak Yulius Roma Patandean di Channel beliau (https://www.youtube.com/watch?v=eePQwyHAcjw&feature=youtu.be). Pak Yulius juga merupakan alumni gelombang 8. Langkah beliau sangat mujarab untuk menulis sebuah buku. Dengan mengikuti langkah beliau, tulisan kita menjadi rapi dan tertata sejak awal. Daftar isi, kutipan, indeks dan daftar pustaka tertata secara otomatis.

Berikut ini contoh anatomi buku nonfiksi:

1.       Halaman Judul

2.       Halaman Persembahan (OPSIONAL)

3.       Halaman Daftar Isi

4.       Halaman Kata Pengantar (OPSIONAL, minta kepada tokoh yang berpengaruh)

5.       Halaman Prakata

6.       Halaman Ucapan Terima Kasih (OPSIONAL)

7.       Bagian /Bab

8.       Halaman Lampiran (OPSIONAL)

9.       Halaman Glosarium

10.     Halaman Daftar Pustaka

11.     Halaman Indeks

12.     Halaman Tentang Penulis

2.Menulis Draf

Setelah melalui langkah pratulis, penulis mulai menulis draf, berdasarkan kerangka yang sudah dibuat. Menghubungkan berbagai teori yang berhubungan dengan tulisan.

Langkah menulis draf, yakni:

a.Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas.

b.Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan.

3.Merevisi Draf

Langkah merevisi draf, yakni:

a.Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian.

b.Memeriksa gambaran besar dari naskah.

4.Menyunting Naskah

Langkah menyunting naskah, harus memperhatikan KBBI dan PUEBI. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah ejaan, tata bahasa, diksi, serta data dan fakta.

5.Menerbitkan

Setelah empat (4) langkah di atas terpenuhi, maka buku siap untuk diterbitkan.

 

Adakah hambatan dalam menulis? Tentu saja terkadang penulis merasa kesulitan menulis dengan berbagai hambatan, seperti berikut:

a.Hambatan waktu

b.Hambatan kreativitas

c.Hambatan teknis

d.Hambatan tujuan

e.Hambatan psikologis

Bagaimanakah cara mengatasinya? Mengatasi hambatan menulis dapat dilakukan dengan banyak membaca, mencari inspirasi di lingkungan sekitar, orang sekitar atau terkait dengan narasumber, disiplin menulis setiap hari, atau melakukan hobi terlebih dahulu, untuk meningkatkan mood, sehingga dapat kembali menulis.

Om Jay telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga dengan menulis setiap hari di blog. Dari tulisan tersebut, pasti akan menjadi sangat menarik karena berdasarkan apa yang kita alami dan kita rasakan. Blog yang kita tulis adalah refleksi dari apa yang kita rasakan atau pengalaman yang terjadi, dan ini akan menjadi sesuatu yang bermakna jika berupa buku. Selanjutnya dengan seiring waktu, melalui belajar menulis setiap hari. Akan muncul ide untuk menulis buku nonfiksi.

Di era informasi yang begitu deras ini, dalam hitungan detik informasi baru selalu muncul. Tentu kita tidak boleh begitu saja mempercayai suatu sumber, terlebih untuk penulisan buku nonfiksi. Salah satu cara untuk mengenali apakah informasi itu valid dengan memverifikasi sumber berita. Kita bisa mengenali apakah sumber berita tersebut hoax atau fakta dengan berbagai aplikasi. Aplikasi plagiarism checker bisa mendeteksi apakah tulisan tersebut copy paste dari tulisan orang lain. Google image juga sangat membantu kita mengetahui kebenaran suatu sumber dengan cara copy gambar dari berita dan kita cari di google pencarian gambar. Penulis bisa menggunakan sumber yang diambil dari internet dengan menuliskan sumbernya.

Demikian materi yang disampaikan Bu Iin dalam pertemuan kali ini. Bu Iin menyampaikan bahwa menulis adalah melaksanakan kesempatan. Kesempatan untuk menerbitkan buku bersama Om Jay dan kesempatan dalam menaklukan tantangan menulis bersama Prof.Ekoji. Namun pertanyaannya, mau ambil kesempatan itu atau tidak sama sekali?

“Fokuslah pada suatu tujuan menulismu saat ini “menerbitkan buku”, maka penulis akan menemukan identitasnya!”


2 komentar:

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...