Kamis, 14 Oktober 2021

Menulis Semudah Ceplok Telur

 



Resume materi     : 5 

Tema                    : Menulis Semudah Ceplok Telur

Pemateri               : Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H.

Moderator            : Dail Ma’ruf

Gelombang           : 22

Penulis                 : Eulis Anggunsari

 

 

          Tuk byar …

          Telur diketuk …

          Goreng …

          Siaplah ibu menyiapkan sarapan pagi!

 

          Pertemuan kelas menulis gelombang 22 ini, mengingatkan kembali saat ibu menyiapkan sarapan saat itu, tak berapa lama, aku mulai bersemangat dengan aroma si mata sapi. Sederhana, namun ketika disuguhkan dengan penuh cinta ibu, begitu nikmat sampai relung hati. Apakah menulis dapat semudah dan senikmat ibu menyiapkan sarapan ceplok telur saat itu?

          Ibu Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. membersamai kelas menulis kali ini sebagai narasumber dengan sebuah tema yang menarik, “Menulis Semudah Ceplok Telur”. Beliau begitu aktif dalam kegiatan tulis menulis dan melahirkan begitu banyak karya. Klik link berikut: Lalu lihat inspirasi dari seorang Ibu Lilis! Salah satu buku karyanya berjudul “Berbagi Kisah Inspirasi Menuju Sukses”, yang ditulisnya dengan semudah ceplok telur, telah terbang ke seluruh Indonesia, mengajak siapa saja yang membacanya untuk merasakan kenikmatannya.  

          Ibu Lilis dengan quotenya “menulis semudah ceplok telur” memberikan motivasi menulis kepada siapa saja yang memiliki cita-cita untuk menjadi penulis hebat dunia. Menulis itu mudah, jika sudah terbiasa menulis, rasanya seperti candu yang selalu dirindu. Menulislah dari apa yang kita suka atau yang kita mau, sebab dari situ akan lahir ide-ide baru. Jk Rowling mengatakan “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. Dengan begitu, menulis bukan hanya mudah untuk dibuat tapi nikmat untuk dibaca, seperti pengalamanku menikmati “masakan ibu saat sarapan saat itu”.

          Imam Ghozali mengatakan “ Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah”. Hal ini patut jadi renungan, tulisan kelak akan menjadi saksi tentang “Di manakah kita berada?”. Kalau kita berada dalam komunitas menulis, menulis adalah saksi akan perjalanan kita.

          Ilmu yang diperoleh akan menguap ketika tidak diikat dengan tulisan, sebab daya ingat manusia yang terbatas. Hari ini kita tahu, esok sudah tak tahu. Maka, perlunya tulisan yang dapat dibaca berulang-ulang.

          Filosofi sebatang pensil agar menulis menjadi mudah:

1. Pensil digerakan oleh tangan manusia : Mulailah menulis dengan doa, sebab ada tangan Tuhan yang selalu membimbing.

2. Ketika pensil tumpul, kita perlu meruncingkannya: Hilangkan pikiran bahwa menulis itu sulit. Ketika pensil tumpul kita dapat raut terlebih dahulu. Ketika ide kita tidak muncul, cobalah pertajam pikiran dan bacalah buku, tentu saja buku/referensi yang sesuai dengan tulisan kita.

3. Penghapus: Tulisan dari sebuah pensil dapatlah dihapus. Jika menemukan kesalahan dalam tulisan, cobalah untuk memperbaikinya.

4.  Pensil yang digunakan untuk menulis bagian dalamnya: Tulislah dari dalam hati, tentu pembaca akan menerimanya sepenuh hati.

5. Pensil meninggalkan goresan: Tulisan yang kita hadirkan dengan baik akan memberikan inspirasi kepada setiap pembacanya.

Tulisan adalah jejak yang ditinggalkan dari ribuan kilometer perjalanan.

          Selain filosofi pensil tersebut, untuk meyakini bahwa menulis itu mudah, seorang penulis juga harus konsisten. Menurut KBBI, konsisten artinya mantap dan tetap dalam melakukan sesuatu. Seperti halnya seorang anak yang baru merangkak kemudian mencoba berjalan, jika dilakukan terus menerus menulis bukan hanya dapat berjalan, tapi juga dapat berlari. Berlari mengejar ilmu, sebab di depan sana, dalam ribuan kilometer jauhnya, ada hal yang harus kita cari tahu! Salam Inspirasi!

 

 “Menulis adalah akar dari pohon ilmu yang rindang”


2 komentar:

"Program untuk Murid"- Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3

                                                                                                                    "Program untuk Muri...