Resume materi : 5
Tema : Menulis Semudah Ceplok
Telur
Pemateri : Dra. Lilis Ika Herpianti
Sutikno, S.H.
Moderator : Dail Ma’ruf
Gelombang : 22
Penulis : Eulis Anggunsari
Tuk byar …
Telur
diketuk …
Goreng
…
Siaplah
ibu menyiapkan sarapan pagi!
Pertemuan kelas menulis gelombang 22 ini, mengingatkan
kembali saat ibu menyiapkan sarapan saat itu, tak berapa lama, aku mulai
bersemangat dengan aroma si mata sapi. Sederhana, namun ketika disuguhkan dengan
penuh cinta ibu, begitu nikmat sampai relung hati. Apakah menulis dapat semudah
dan senikmat ibu menyiapkan sarapan ceplok telur saat itu?
Ibu Dra. Lilis Ika Herpianti Sutikno, S.H. membersamai
kelas menulis kali ini sebagai narasumber dengan sebuah tema yang menarik, “Menulis
Semudah Ceplok Telur”. Beliau begitu aktif dalam kegiatan tulis menulis dan
melahirkan begitu banyak karya. Klik link berikut: Lalu lihat inspirasi dari seorang Ibu Lilis! Salah satu buku karyanya berjudul “Berbagi
Kisah Inspirasi Menuju Sukses”, yang ditulisnya dengan semudah ceplok telur,
telah terbang ke seluruh Indonesia, mengajak siapa saja yang membacanya untuk
merasakan kenikmatannya.
Ibu Lilis dengan quotenya
“menulis semudah ceplok telur” memberikan motivasi menulis kepada siapa saja
yang memiliki cita-cita untuk menjadi penulis hebat dunia. Menulis itu mudah,
jika sudah terbiasa menulis, rasanya seperti candu yang selalu dirindu. Menulislah
dari apa yang kita suka atau yang kita mau, sebab dari situ akan lahir ide-ide
baru. Jk Rowling mengatakan “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau
ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”. Dengan begitu, menulis
bukan hanya mudah untuk dibuat tapi nikmat untuk dibaca, seperti pengalamanku
menikmati “masakan ibu saat sarapan saat itu”.
Imam Ghozali mengatakan “ Kalau kamu bukan anak raja dan
bukan anak ulama besar, maka menulislah”. Hal ini patut jadi renungan, tulisan
kelak akan menjadi saksi tentang “Di manakah kita berada?”. Kalau kita berada
dalam komunitas menulis, menulis adalah saksi akan perjalanan kita.
Ilmu yang diperoleh akan menguap ketika tidak diikat dengan
tulisan, sebab daya ingat manusia yang terbatas. Hari ini kita tahu, esok sudah
tak tahu. Maka, perlunya tulisan yang dapat dibaca berulang-ulang.
Filosofi sebatang pensil agar menulis menjadi mudah:
1. Pensil digerakan
oleh tangan manusia : Mulailah menulis dengan doa, sebab ada tangan Tuhan yang
selalu membimbing.
2. Ketika pensil
tumpul, kita perlu meruncingkannya: Hilangkan pikiran bahwa menulis itu sulit.
Ketika pensil tumpul kita dapat raut terlebih dahulu. Ketika ide kita tidak
muncul, cobalah pertajam pikiran dan bacalah buku, tentu saja buku/referensi
yang sesuai dengan tulisan kita.
3. Penghapus: Tulisan
dari sebuah pensil dapatlah dihapus. Jika menemukan kesalahan dalam tulisan,
cobalah untuk memperbaikinya.
4. Pensil yang digunakan untuk menulis bagian
dalamnya: Tulislah dari dalam hati, tentu pembaca akan menerimanya sepenuh hati.
5. Pensil meninggalkan
goresan: Tulisan yang kita hadirkan dengan baik akan memberikan inspirasi
kepada setiap pembacanya.
Tulisan
adalah jejak yang ditinggalkan dari ribuan kilometer perjalanan.
Selain filosofi pensil tersebut, untuk meyakini bahwa
menulis itu mudah, seorang penulis juga harus konsisten. Menurut KBBI,
konsisten artinya mantap dan tetap dalam melakukan sesuatu. Seperti halnya seorang
anak yang baru merangkak kemudian mencoba berjalan, jika dilakukan terus
menerus menulis bukan hanya dapat berjalan, tapi juga dapat berlari. Berlari mengejar
ilmu, sebab di depan sana, dalam ribuan kilometer jauhnya, ada hal yang harus
kita cari tahu! Salam Inspirasi!
“Menulis adalah akar dari pohon ilmu yang rindang”
Semangat terus untuk menulis Bu
BalasHapusTerima kasih Bu
Hapus