Nilai dan Peran Guru Penggerak
Oleh : Eulis Anggunsari
CGP Angkatan 7
Setiap pertemuan selalu ada hal baru yang mengolah rasa. Sama halnya pertemuan modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Saya belajar untuk mengolah rasa keingintahuan tentang memaknai perjalanan seorang guru. Salah satu rangkaian dalam alur merdeka pendidikan guru penggerak adalah menuliskan jurnal refleksi dwi mingguan. Jurnal refleksi dwi mingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua minggu. Jurnal refleksi dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh setiap calon guru penggerak. Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Hal inilah yang mendorong saya mengolah rasa dari aktivitas selama mempelajari modul 1.2.
Model refleksi sebagai dasar saya menulis jurnal adalah model refleksi 4F yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F terdiri atas:
a. Facts (Peristiwa)
b.Feelings (Perasaan)
c.Findings (Pembelajaran)
d.Future (Penerapan)
Kegiatan pembelajaran modul 1.2 yang telah saya alami telah membawa pengetahuan-pengetahuan baru. Inilah refleksi saya!
a. Facts (Peristiwa)
Salam bahagia, saya teguhkan hati untuk kembali membersamai LMS dalam materi modul 1.2. Tanggal 7 November 2022, di ruang guru SDI Al Azhar 10 Serang, saya buka laptop dan bersiap membongkar materi apa yang akan saya pelajari. Alhamdulillah, semangat dari rekan guru menambah motivasi saya untuk tetap konsisten menjalankan alur pendidikan guru penggerak ini. Saya buka bahan pembelajaran dan pendahuluan, membuka satu konsep yang akan saya pelajari mengenai nilai dan peran guru penggerak.
Saya mendapatkan hal baik ketika mengikuti langkah/alur dalam modul 1.2. Di tahap "Mulai dari Diri", melalui trapesium usia, di mana saya harus menuliskan peristiwa positif dan negatif yang saya alami saat saya sekolah dan bagaimana lingkungan memengaruhinya. Ternyata menjadi kaitan untuk saya merenung, tentang nilai dan peran guru yang selama ini saya lakukan. Apakah dalam proses pembelajaran yang saya lakukan selama ini, ada peristiwa negatif yang membekas dalam diri murid yang saya belajarkan. Hal ini mendorong saya untuk semakin mengevaluasi diri, memaknai nilai dan peran guru.
Dalam ruang diskusi, saya berkolaborasi dengan rekan guru peserta pendidikan guru penggerak. Kami saling bertukar pengalaman tentang nilai dan peran yang kami lakukan selama perjalanan seorang guru. Hal ini menambah pengalaman saya untuk semakin berkembang. Kami pun merancang satu kegiatan yang mencoba memperkuat peran kami sebagai guru dalam menerapkan nilai kepada murid.
Selama mengikuti proses pembelajaran modul 1.2, tidaklah semudah yang dibayangkan. Saya harus menyeimbangkan antara kegiatan sekolah di mana saya mengajar dengan kegiatan pendidikan guru penggerak ini. Terlebih bulan november ini termasuk bulan padat dalam proses pembelajaran karena merupakan bulan persiapan untuk menghadapi "Penilaian Akhir Semester". Saya sebagai koordinator kelas, harus juga mengikuti workshop penilaian IKM, persiapan akhir projek IKM, dan koordinasi kegiatan-kegiatan yang bersifat formatif. Namun, berkat komunikasi dan kolaborasi dengan rekan guru pararel kelas 4, saya mendapat dukungan, sekiranya ada benturan jadwal dengan kegiatan pendidikan guru penggerak, kami bergantian untuk mengelola kelas. Mengatur waktu itu point penting dalam pengelolaan diri.
Alur diskusi hingga elaborasi pemahaman, dibimbing fasilitator dan instruktur yang luar biasa, menguatkan saya untuk memahami materi modul 1.2. Pertemuan maya menghasilkan pemahaman bagaimana saya harus nyata berproses dalam pembelajaran.
b.Feelings (Perasaan)
Berproses tentu akan menghadirkan perasaan-perasaan yang menjadi bagian dari kisah perjalanan. Saya senang ketika berkolaborasi bersama rekan guru peserta pendidikan guru penggerak. Kami dibagi 3 kelompok untuk berdiskusi dan presentasi terkait materi nilai dan peran guru penggerak. Bersama Bu Endah dan Bu Mahmudah, kami berbagi pengalaman dan merancang suatu kegiatan. Tentu jika dilakukan berkelompok, banyak ide yang dapat digali, sehingga saya mendapat pencerahan dalam memahami materi.
Dalam penerapan di kelas, saya mencoba mengembangkan nilai dan peran guru dengan implementasi langsung bersama murid. Saya menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran, dengan begitu nilai pembelajaran akan berpihak pada murid. Melalui kesepakatan kelas, murid tidak sungkan mengemukakan pendapat, sehingga muncul peristiwa positif yang terjadi di kelas. Murid sangat gembira, ketika pembelajaran lebih berpihak pada mereka. Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, bahwa pembelajaran harus dapat menuntun kodrat alam dan kodrat zaman murid, dengan wadah nilai dan peran guru, sehingga mewujudkan profil pelajar pancasila.
Saya menerapkan belajar sambil bermain, sesuai kodrat murid. Dalam hal ini, tercipta pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Nilai berpihak pada murid dengan peran guru sebagai pemimpin pembelajaran, saya coba terapkan di kelas. Saya sangat semangat ketika murid-murid pun dapat nyaman belajar.
c.Findings (Pembelajaran)- Mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana cara kerja otak manusia, yaitu thinking fast dan thinking slow. Sebagai seorang guru, cara kerja otak manusia ini perlu diperhatikan, melalui thinking slow, saya belajar untuk tidak terburu-buru dalam menilai dan memutuskan sesuatu. Selama ini, saya selalu menganggap murid yang tidak bisa dalam menyerap materi akan sangat tertinggal. Namun, berdasarkan cara kerja otak manusia ini, saya belajar ada kelebihan lain yang bisa digali dari seorang murid.
- Saya belajar tentang 5 (lima) kebutuhan dasar manusia, yaitu kasih sayang dan rasa diterima, kekuasaan, kesenangan, kebebasan, dan bertahan hidup. Jika dikaitkan dengan murid, maka sebagai guru hendaklah dapat menyesuaikan kebutuhan murid agar tercipta pembelajaran yang berpihak pada murid. Mungkin selama ini, saya tidak memperhatikan kebutuhan murid sebelum menerima pembelajaran, untuk itu saya akan berusaha lebih baik lagi.
- Materi selanjutnya tentang tahap perkembangan manusia secara psikososial menurut Erik Erikson. Berdasarkan tahap ini, sebagai guru harus mampu berhadapan dengan murid yang akan berbeda di setiap perkembangannya.
- Saya belajar tentang nilai dan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak, yaitu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif. Peran guru penggerak, yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar